5 Hal Penting Seputar Kirim Naskah ke Penerbit


blog.sittakarina.com_kirim-naskah-ke-penerbit

Naskah sudah siap, bahkan sudah berkali-kali kamu edit dan tulis ulang. Apa lagi? Judul cerita sudah oke. Berkas-berkas pendukung seperti biodata penulis dan summary cerita sudah tersusun rapi, singkat, dan jelas. Yeay! Tinggal selangkah lagi untuk bikin editor jatuh cinta dengan ceritamu dan menerbitkannya jadi sebuah buku!

Nah, untuk sentuhan akhir naskah tersebut, jangan lupa persiapkan kelima hal ini juga ya:

1. Sinopsis global cerita 
Naskah 200 halamanmu sudah rampung dan siap dilahap editor. Tapi, tahukah kamu bahwa sebelum membaca itu, sering kali editor ingin tahu seperti apa rangkuman ceritamu dari awal sampai akhir? Ya, maka itu, penulis tidak boleh lupa membuat sinopsis global (summary isi cerita). Bagian satu ini wajib disusun pada bagian paling atas naskah.
Berapa panjang sinopsis global ini? Cukup satu halaman kertas dengan spasi huruf 1pt.

2. Bab 1 yang menggigit 
Bab 1, atau tepatnya paragraf pertama ceritamu, memegang peranan penting untuk menentukan apakah naskah tersebut berhasil menarik perhatian editor, atau malah bikin ia ingin cepat-cepat menyingkirkan si naskah. Sajikan pembuka cerita yang bermuatan masalah pada bab 1. Tidak perlu bertele-tele memaparkan latar belakang si tokoh, memulai dengan “Pada suatu hari…” maupun mendeskripsikan keadaan dan latar tertentu yang bikin narasi jadi membosankan dan kehilangan fokus. Sebagai contoh, bandingkan kedua paragraf di bawah yang akan menjadi pembuka bab 1 dan tentukan mana yang menurut kamu lebih baik:

Paragraf A

Hari ini bukan sekadar Senin yang dimulai dengan kemacetan, namun akan menjadi penentu hidupku yang tinggal beberapa hari lagi.    

Paragraf B

Pagi ini terasa seperti hari-hari yang sudah lewat. Senin, mendung, dan macet, seolah-olah hari bergulir dalam kondisi autopilot. Aku selalu terjaga jauh sebelum gema adzan terdengar, termangu memikirkan kehidupanku belakangan ini yang terasa statis.      

Saya akan memilih paragraf A. Kenapa? Karena, paragraf ini langsung menyiratkan adanya masalah (dalam hal ini, krisis) dalam cerita. Sedangkan, pada paragraf B, rangkaian kalimat tersebut hanya menyatakan deskripsi keadaan dan kejadian saja.

3. Pelajari penerbit yang akan kamu kirimkan naskah 
Sesuaikah penerbit tersebut dengan karakter ceritamu? Untuk mengetahui hal ini, cara yang dapat kamu lakukan adalah dengan membaca beberapa buku terbitannya. Mengirim naskah ke penerbit yang tidak tepat tentunya menjadikan naskah kita kemungkinan besar tidak diterbitkan. Cara lain untuk mengetahui karakter calon penerbit naskahmu bisa juga dengan menanyakan langsung kepada si penerbit,”Saya memiliki naskah cerita remaja. Apakah dalam waktu dekat penerbit X berencana menerbitkan genre teenlit?”

4. Kirim naskah ke penerbit = kirim CV ke perusahaan 
Ketika ingin melamar pekerjaan, sering kali kita mengirim beberapa CV sekaligus ke beberapa perusahaan ‘kan? Nah, lakukan hal serupa dengan naskahmu. Memang sih, perlu modal lebih untuk melakukan ini. Tapi, itu bisa membuka peluang lebih besar agar naskahmu segera dilirik penerbit, atau bahkan beberapa penerbit! Lantas, pilih penerbit yang mana dong akhirnya? Saran saya, pilih penerbit yang memiliki reputasi baik dan menawarkan kesepakatan kerja sama yang lebih nyaman untuk kamu.
Ingat, penulis adalah pekerja lepas, bukan aset milik penerbit. Buat kesepakatan kontrak dengan penerbit tiap 1 judul cerita atau setara dengan 1 buku saja. Jadi, seandainya kamu ingin menerbitkan novel “Segitiga Cinta Attiya” di Penerbit X dan menerbitkan buku how-to “10 Langkah Jitu Menulis Novel” di Penerbit Y ya silakan saja. Itu kondisi yang etis kok 😉

5. Tampilan naskah yang nyaman dibaca editor 
Naskah ceritamu tentunya di-print pada kertas dengan kriteria sesuai persyaratan penerbit tertentu, serta pastikan gunakan font yang nyaman dibaca oleh editor. Karena editor adalah barisan pertama yang menilai naskahmu, jangan sampai mereka jadi gemas lantaran font yang kita gunakan bikin mata cepat capek saat membacanya.
Beberapa body-text font yang umum digunakan adalah Times New Roman, ukuran 11, spasi 1,5-2. Kalau bosan dengan Times New Roman, coba beberapa body-text font gratis ini.

Ada lagi hal-hal yang menurut kamu harus diperhatikan saat mengirim naskah ke penerbit selain lima poin di atas? As always, sharing is caring. Jadi, diskusiin ini pada bagian comment ya.

Hope to spot your first book in bookstore shelf soon! 😉

*) Featured image via urban-eve


Tags: , , , ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


16 Responses

  1. wishnu wii

    ka maaf mau nanya saat kita kirim cerita ke penerbit,, yg harus saya kirim plot ceritanya saja atau dengan full teks dialog dgn lenkap sampai selesai… makasi ka maaf masih new bie

  2. Salma – Bisa. Tapi, sebelumnya harus kamu pastikan dulu apakah penerbit tertarik menerbitkan cerita bersambung atau tidak. Hal-hal seperti ini seharusnya bisa didiskusikan.

  3. Salma

    Oiya kak, balasnya disini sajaa biar ke notif di email saya hehehe 😀

  4. Salma

    Kak, makasih banyak infonyaa :). Saya juga mau nanya, ngirim naskah novel bersambung ke penerbit itu sebenernya bisa gak sih?

  5. Meitty – Ya, terutama ketika akan coba kirim ke penerbit yang selama ini belum pernah terbitkan naskah kita 🙂

  6. Meitty

    Penting! Bahkan bukan untuk yg baru nulis aja ya

  7. nanda – saya kurang paham dengan pertanyaannya. Apakah yang kamu maksud, akan menggunakan sudut pandang apa dalam bercerita: orang pertama (aku) atau orang ketiga?

  8. nanda

    Halo ka, sebelumnya thx for sharing the tips it’s really helpful. Jdi gini, saya rencana mau buat novel saya udah punya rangka cerita dan bits and bob. Tapi sewaktu mau menulis, saya nggk tahu mau pakai kata atau kalimat apa yg cocok untuk mendeskripsikannya, perhaps do you have any tips? Thx

  9. Frilla – Saya sependapat dengan kamu 🙂 Dan selama ini, saya belum pernah dengar soal kirim satu naskah sama ke beberapa penerbit sekaligus maka si calon penulis akan di-blacklist. Selain karena pertimbangan menunggu berita diterima/tidaknya tiap naskah makan waktu lama (4 bulanan), ketika naskah kamu ternyata ‘goal’ di beberapa penerbit, kamu jadi bisa memilih penerbit yang memberikan benefit paling OK bagi karyamu 😉

  10. Frilla Amanda

    Dear Mbak Sitta Karina,

    Saya ingin tanya soal kirim ke beberapa penerbit sekaligus. Saya pernah membaca beberapa tips&trik kirim ke penerbit yang menyebutkan jangan kirim ke beberapa penerbit sekaligus, kalau ketahuan nanti kamu akan di-blacklist. Apa berarti ini tidak benar ya? (Setahu saya salah satu artikel tips yang saca baca ditulis oleh editor sebuah penerbit)

    Alangkah bagusnya kalau bisa mengirim ke beberapa penerbit sekaligus. Apalagi kabar untuk satu naskah saja bisa memakan 3-4 bulan.

  11. Malkas Media

    Salam kenal semuanya,

    Perkenalkan kami dari Penerbit Malkas Media ikut memberikan infomasi.
    Kami disini membantu para penulis untuk menerbitkan naskahnya dengan mudah, langsung tanpa seleksi.

    Kami juga menyediakan jasa editing naskah, layouting, dan juga desain cover bagi para penulis, penerbit indie, maupun self-publishing.

    Barangkali ada yang ingin tahu lebih lanjut, silakan mampir ke tempat kami
    https://malkasmedia.wordpress.com/2015/04/27/ketentuan-pengiriman-naskah/
    https://www.facebook.com/groups/malkasmedia

    Semoga membantu,

    Terima kasih banyak 🙂

  12. trima kasih kak sitta, tipsnya Insya Allah berguna banget buat penulis muda yang mau mulai menerbitkan tulisannya, success !

  13. Tina

    Thanks for sharing this, Ka! Semoga apa yang bertumbuh di otak, bisa tertuang dalam tulisan, tersalurkan melalui penerbit, dan sampai ke peminat/pembaca kayak karya-karyanya Ka Sitta 🙂