8 Hal yang Saya Pelajari dari Guru untuk Mendidik Anak Berkarakter


blog sittakarina - 7 hal yang saya pelajari dari guru untuk mendidik anak berkarakter

Tiap orangtua ingin anaknya tak hanya baik dan pintar saja, tapi juga berkarakter. Berbeda dengan cara mengajar anak sampai ia paham Matematika, mendidik agar anak berkarakter kuat tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, meski itu dilakukan secara intensif. Ibaratnya, proses ini bukanlah lari 5K apalagi sprint, melainkan marathon.

Isu pendidikan memang lagi marak belakangan ini, dimulai dengan dicopotnya Mendikbud favorit kita, Pak Anies, saat reshuffle kabinet sampai rencana pemberlakuan konsep full day school Mendikbud baru yang katanya bertujuan mencetak anak berkarakter. Bicara soal anak berkarakter, orangtua mana sih yang nggak pengen anaknya begini? Walau diam-diam, out of fear, masih banyak juga yang ingin anaknya jadi murid pintar (secara akademik) dan jago bersaing saja.

Apa pun pilihannya, tentu itu hak masing-masing keluarga. Dan di sini saya ingin membahas tujuan yang pertama berdasarkan sesuatu yang selama ini saya amati: sekolahnya Harsya dan Nara, anak-anak saya. Atau lebih tepat lagi, para guru di sekolah mereka.

Sejak Harsya dan Nara masuk playgroup, saya yang kebetulan bekerja di rumah, punya fleksibilitas lebih untuk bisa antar dan jemput mereka di sekolah.  Pada kesempatan itu, beberapa kali saya mengintip ke ruangan saat kelas usai dan masih ada guru dan beberapa anak seliweran di dalamnya. Saat anak rewel, menangis, maupun marah, tidak pernah miss-miss ini terlihat panik atau ikutan jengkel. Yang bersikap seperti itu malah orangtua atau nanny si anak.

Fast-forward ke masa-masa awal SD mereka sekarang—Nara si bungsu kini sudah kelas 1—saya juga mendapati hal serupa dalam situasi lebih kompleks: anak bercanda dengan teman sampai akhirnya berantem (sebut saja mereka Harsya dan Randi). Tentu saja ada guru di situ dan hal seperti ini tampaknya sesuatu yang lumrah terjadi di sekolah. Yang tidak biasa adalah bagaimana guru mengatasi masalah tersebut!

Dari penilaian kasatmata saat itu, saya menyimpulkan Harsya yang salah dan Randi tidak (dengan catatan dalam hati: nanti harus diskusi panjang-lebar dengan Harsya nih pas sampai rumah). Tapi, guru di SD-nya Harsya tidak menilai begitu. Ia bertanya dulu kronologi kejadian dari sudut pandang Harsya seperti apa, lalu berikutnya dari sudut pandang Randi. Setelah mendengarkan versi keduanya, Pak Guru (yang sudah memahami duduk persoalannya) bertanya kembali,”Apakah Harsya bermaksud mendorong Randi sampai menabrak pintu?”.  Harsya menjawab tidak dan menambahkan ia hanya ingin bercanda. Ke Randi, ia bertanya juga,”Apakah Randi tahu bahwa Harsya sedang bercanda?” dan Randi menjawab tidak. Tampak masih kesal, Randi menambahkan bahwa ia jadi sakit karena terantuk pintu. Pak Guru mengajak keduanya berdiskusi lebih lanjut tentang cara bermain yang aman, teman yang tidak sengaja, dan lihat diri sendiri dulu sebelum menyalahkan yang lain. Sebuah proses yang bagi saya lama, bertele-tele, namun adil, jelas, dan merangsang prasangka baik dan kearifan si anak karena mengedepankan refleksi ke dalam dirinya.

Bayangkan, jika proses berinteraksi dengan sesama dan menyelesaikan masalah seperti di atas dibiasakan tiap hari; seperti apa sosok yang akan lahir darinya? Tentunya dalam jangka panjang, proses belajar seperti itu dapat melahirkan sosok anak berkarakter, asal kontribusinya nggak one-sided. Nggak cuma dibiasakan di sekolah saja, atau di rumah saja. Pendidikan, terutama dalam hal pembentukan karakter, merupakan tugas bahu-membahu rumah, sekolah, dan lingkungan tempat tinggal si anak.

Tiap kali anak-anak masuk sekolah baru, saya bersyukur bisa belajar banyak tentang cara mengasuh dan mendidik anak dari para guru di situ. Saya selalu mengamati pendekatan yang mereka terapkan saat berinteraksi dengan para murid, baik itu di dalam maupun di luar ruangan kelas. Hampir semua saya coba aplikasikan kembali di rumah, walau hasilnya tidak semulus di sekolah. Tau ‘kan bagaimana manja dan “bertingkah”-nya para bocah saat berhadapan dengan orangtua masing-masing 😀

Tiap sesi parent-teacher meeting, bahagia rasanya mendengarkan laporan dari guru tentang kemajuan tumbuh kembang anak-anak yang lebih baik aspek sosialnya, lebih banyak kosa kata saat bercerita, maupun berkembang lebih baik logika matematisnya. Dan yang saya dengar dari orangtua lain, anak-anak mereka pun juga begitu, sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. Jadi nggak hanya terjadi pada Harsya dan Nara saja. Dari situ saya bisa menyimpulkan, apa yang selama ini berlangsung dan dibiasakan di sekolah ternyata menuai hasil baik.

Dan inilah hal-hal yang diterapkan guru-gurunya Harsya dan Nara saat mereka mengajar dan berinteraksi dengan murid-muridnya:

1. Kepemimpinan
Leading dan commanding adalah dua hal berbeda. Banyak guru yang menggunakan suara galak dan cara mendidik keras agar kelasnya bisa tenang. Anak-anak jadi diam dan patuh karena takut. Ada juga guru yang tidak memiliki kemampuan memimpin mumpuni hingga kelas gaduh dan tujuan pembelajaran tidak tercapai. Yang saya perhatikan dari guru-guru dengan leadership skill yang oke adalah mereka mampu memimpin diri sendiri sebelum memimpin murid-muridnya. Mereka tahu apa yang mereka mau dan butuhkan, tahu apa yang menjadi prioritas, dan bahkan peka dalam membaca situasi.

blog sittakarina - 8 hal yang saya pelajari dari guru untuk mendidik anak berkarakterFoto: Cut Amanda

2. Percaya terhadap kemampuan anak
Tidak ada proses yang instan, terutama dalam mendidik dan menumbuhkan kebaikan agar mereka menjadi anak berkarakter. Guru-guru tersebut sepertinya amat paham soal ini. Saat anak mencoba sesuatu dan gagal satu, dua, hingga puluhan kali, guru tidak putus asa mendampingi si anak melewati tiap proses pembelajaran. Banyak yang bilang bahwa itu memang sudah menjadi tugas mereka. Tapi, menurut saya, itu adalah bentuk dedikasi. Dan sebuah dedikasi bisa awet ketika lahir dari true calling dan keikhlasan. Apabila guru sedemikian positif bahwa anak didiknya suatu saat akan berhasil, maka sudah sepantasnya kita sebagai orangtua juga begitu.

3. Mendengarkan
Kebiasaan kita orang dewasa (termasuk orangtua ya) adalah lebih doyan bicara daripada mendengarkan. Padahal, dengan mendengarkan nggak hanya kita dapat pengetahuan baru, kita juga lebih bisa memahami sesuatu—memahami lawan bicara kita, terutama anak. Guru-guru di sekolahnya Harsya dan Nara adalah para pendengar yang baik, lepas dari ribetnya mereka menangani satu kelas yang muridnya heterogen banget. Sikap tubuh mereka saat berbicara dengan anak adalah menatap wajah anak dan sering kali duduk bersimpuh agar tingginya eye level dengan anak-anak tersebut. Dengan didengarkan, anak merasa dirinya pantas dan dihargai.

4. Berbicara dalam bahasa yang singkat dan jelas
Saat berbicara dengan anak-anak, apa pun situasinya, guru-guru tersebut tampak tenang dan memilih dengan jeli kata yang mereka gunakan. Tidak ada ucapan seperti “Harsya, coba lihat deh barangnya yang itu. Iya, yang itu tuh. Bawa ke sini dulu, terus dalamnya digituin”. Saya sering mau ngakak sendiri mengingat gaya ribet saya ketika dulu berkomunikasi dengan anak-anak. Jangankan mereka, saya sendiri juga nggak mengerti apa maksud ucapan itu. Guru-guru ini tahu benar bagaimana mengkomunikasikan maksud mereka dalam pilihan kata sesuai usia lawan bicaranya, dalam bahasa yang jelas dan singkat, dan bahasa tubuh yang tenang. Dengan begini, anak pun mampu memahami isi percakapan dan komunikasi menjadi lancar.

5. Nggak panikan
Saat bersama dengan anak-anak, kejadian apa pun mungkin terjadi: cat air tumpah, anak mengobrol, anak berantem, sampai ada saja yang kejeduk meja. Sering kali orang dewasa mudah panik dalam situasi chaotic seperti ini. Padahal, yang dibutuhkan justru sebaliknya, yakni orang dewasa yang mampu dengan cepat menenangkan diri agar mampu berpikir jernih untuk mengambil keputusan terbaik demi situasi aman-terkendali. Susah untuk nggak panikan? Eh, ternyata bisa lho dilatih. Satu hal yang harus kita ingat, salah satu personality trait dari anak berkarakter adalah mampu bersikap tenang dalam segala situasi. Yuk, kita dulu yang jadi role model-nya.

6. Berbeda itu biasa
Berbeda pendapat, pandangan, keyakinan, pemahaman itu biasa terjadi saat berinteraksi. Lantas, kalau berbeda bagaimana? Ya didiskusikan. Kalau diskusi sudah selesai dan kata sepakat tercetus, berarti masalah sudah terpecahkan. Tidak ada drama yang mengikuti di belakangnya. Sekarang berdebat, lima menit kemudian bisa bermain kembali. Guru-guru ini tak pernah bosan untuk mengedepankan konsep ini—juga diskusi—dalam tiap kesempatan. Hasilnya? Ketika saya dan suami berdebat kecil di rumah, Harsya sudah bisa berceletuk,”Beda nggak apa-apa ‘kan, Ayah-Ibu? Ayah dan Ibu ‘kan masing-masing punya pendapat”.  So happy to hear this!

7. Nggak sensi
Nggak sensi, juga nggak lebay. Saat berbicara dengan anak, guru-guru ini bertutur dalam nada bicara yang wajar. Nggak sok asyik, tidak juga sok berwibawa. Saat anak marah, mereka tidak sensitif atau take things personally yang malah bikin masalah bisa melebar ke mana-mana. Mereka berada di garis paling depan untuk mendemonstrasikan bagaimana seseorang mampu bersikap pantas dan adil sebagai bagian dari masyarakat (sekolah termasuk masyarakat ‘kan?) tanpa mengorbankan self-worth dirinya.

8. Sabar
Ini dia nih ujian paling challenging, nggak hanya buat orangtua, tapi buat semua manusia 😀 Tidak satu pun pendidikan dan pengasuhan anak (parenting) bisa berhasil tanpa dilakukan dengan sabar, sehebat apa pun pendekatan dan teori yang digunakan. Dan para guru ini sepertinya menyadari hal itu (walau kadang saya penasaran juga, seperti apa kegiatan me time mereka agar hidup lebih seimbang saat sedang tidak mengasuh anak-anak di kelas). Tapi, kita tahu, dari perbandingan waktu di kelas dan di rumah, anak-anak tentu lebih lama berada di rumah. Dan untuk bisa terus-menerus sabar saat menghadapi anak-anak bukanlah perkara mudah. Jadi, nggak ada cara lain selain melatih diri untuk selalu sabar. Cara yang saya lakukan? Ingat baik-baik tujuan parenting kita apa, tarik napas dalam-dalam, dan minta waktu untuk tenangkan diri di tempat terpisah saat emosi hampir meledak.

Semua hal di atas sepertinya remeh, tapi dalam pelaksanaan sehari-hari sering kali bikin urut dada (oke, baca no. 8 😀 ). Intinya, untuk mendidik anak berkarakter merupakan upaya dan perjalanan jangka panjang. Dan perjalanan tersebut mesti kita nikmati jatuh-bangunnya biar nggak stres. Jangan lupa tanamkan dalam hati bahwa suatu saat semua jerih-payah ini akan berbuah manis, serta PR dalam mendidik anak pada akhirnya mampu diselesaikan dengan baik. Yep, someday.

Terima kasih, Ibu dan Bapak Guru! Bukan hanya Harsya dan Nara yang belajar, saya pun juga 🙂

*) Featured image: Sitta Karina


Tags: , ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


20 Responses

  1. Belajar banyak dari post ini. Walau belum menikah dan belum punya anak, tapi membaca ini membuka banyak hal bagi saya untuk mengerti bagaimana seharusnya menjadi orang tua yang lebih baik. Guru juga orang tua dan orang tua juga guru…dua-duanya pahlawan tanpa tanda jasa. Terharu membaca post ini juga mengetahui masih adanya guru-guru berdedikasi yang tulus mengajar anak-anak. Children is the hope of our future after all… Bless you and your whole family.

    PS: I bought and read your books since I was a teenager. Love it.

    xx

  2. Hastira

    wah, ada ya guru yang mengajak berdiskusi begitu saat anak bertengkar, salut aku , biasanya guu di sekolah suak menyimpulkan yang salah mana dilihat dari tingkah anak sehari2

  3. Kadang belum mendengarkan penjelasan anak, kita udah judge mereka macem2 ya Mba.. huhu, sediiih… thanks for sharing by the way.. 🙂

  4. Nia – Sama-sama, Mbak Nia. Jadi orangtua nggak ada sekolahnya ya. Jadi mesti terus belajar 🙂

  5. Wah, ada ilmu baru nih buat saya yang banyak anak. Meski bukan bu guru, bisa banget dipake dalam mendidik anak-anak saya. Tfs, mbak Sitta…

  6. Andini – IMO, Guru dan orangtua harus punya visi-misi yang sama dalam mendidik anak. Nggak bisa hanya satu pihak saja

  7. Dewi Ratih – Memang seharusnya guru menjadi teladan dalam bersikap adil saat di sekolah 🙂 Usulnya dipertimbangkan. Terima kasih ya

  8. alfi

    Thanks mbak. Very inspiratif. Kushare ke teman teman ya.

  9. Salut sama yang diterapkan gurunya dalam situasi spt Randy dan Harsya… Khawatir juga klo kejadian sama anak dan gurunya nggak seperti itu. Kalau ada tips daftar yang perlu disurvei mencari sekolah anak boleh dong mba… Poin-poinnya jadi pencerahan buat aku, tfs

  10. duh luar biasa ya sekolah dan gurunya
    emang enak banget kalo ketemu guru yang enak di ajak diskusi soal perkembangan anak
    btw nice info mbak
    makasih sharingnya

  11. Andini

    Insightful read, Sitta! Nyekolahin anak di sekolah yg terima beres di jl simatupang (aku nggak sebut sekolahnya ya di sini) tadinya bikin aku mikir, ada guru kok yg mendidik anak. Sekarang aku jd lbh sadar kalo ini harusnya dimulai dari parents ya

  12. Khoirinna

    Infonya bermanfaat banget, Sitta. Makasih ya. PR nya makin nambah deh jadi parents!