Allegro, A Reno Hanafiah’s Perspective


unnamed

Allegro, A Reno Hanafiah’s Perspective

——

Sepupu.

Parah abis.

Gue sampai harus megang dada sendiri untuk beberapa saat. Rasanya kayak sesak napas, pas tahu cewek keren yang tadi bantuin gue berhadapan sama preman-preman bayaran di terminal adalah sepupu gue sendiri.

Mara, si tomboi dari keluarga Syadiran, sudah tumbuh jadi sebesar… secantik ini?

Dan nggak cuma itu, dia terlihat sehat, juga kuat. Mara sama sekali nggak gentar, begitu fokus melindungi gue seakan gue lemah. Dalam beladiri apa pun jelas ditanamkan prinsip “lebih baik menghindar” dan Mara nggak mengindahkan itu. Untuk apa? Untuk gue? Come on. Nggak mungkin ada orang sebaik itu di dunia bajingan kayak begini.

Everything about her is almost too good to be true. Kaki sejenjang itu yang menurut gue cocok buat di catwalk, tapi nyatanya tangguh saat melayangkan Twio Dwi Hurigi—tendangan mengait-berputar sambil melompat—salah satu andalan gue untuk melumpuhkan lawan dalam hitungan detik.

Ma… ra.

Damn. Susah rasanya untuk tidak senyam-senyum sendiri. Matahari sepanas tadi hanya seperti embusan angin. Bogem mentah di pipi cuma kayak cubitan. Sakitnya baru kerasa sekarang. Gue belum pernah sekaget, setakjub ini dengan siapa pun.

Terutama dengan cewek yang saat bertemu cuma pake jeans dan kaos. Bukannya gaun ketat, rok mini, apalagi lingerie.

Kacau.

Kenapa… gue begini?

Mara adalah sepupu. Saudara jauh. Dan lebih dari itu, masih sama-sama Hanafiah.

Tapi, wow, dia benar-benar menarik perhatian gue dengan cara yang nggak terduga. Gue ngebayangin keringat yang menitik di dahi Mara bukan berlatar bangunan terminal yang gersang dan berdebu seperti kejadian tadi, melainkan suatu tempat yang dingin. Sunyi.

Tempat kerja gue yang baru ini…

Shailendra The White House Hotel.

Ya. Kamar hotel.

Senyum lebar, perlahan dan tanpa gue sendiri sadari, merekah di wajah saat gue membayangkan ide dan angan yang makin lama saling bertumpuk liar—

Okay. Cool off, Ren.

Gue menempelkan kompres es pada bagian kanan muka sekali lagi, berharap dinginnya nggak hanya mengatasi peradangan tapi juga mampu bikin kepala jadi lebih jernih.

Mara is just another pretty girl

Gue bangkit dari kursi kerja dan melempar jas yang sedikit sobek sisa berkelahi ke tempat sampah.

…a cousin, and completely replaceable.

 

 

Trina, Trina, Trina.

Semua ada di Karlü: momen seru, minuman kelas wahid, dan perempuan.

Perempuan luar biasa memukau mulai dari teman-temannya Inez yang wangi dan selalu memakai tight dress pas clubbing sampai A-class models.

Tapi, hanya Trina yang malam itu berhasil menyita perhatian gue.

Awalnya memang sekadar obrolan sok asyik dan terkesan dipaksakan seputar perusahaan yang diwariskan bokapnya, lalu lanjut dengan beberapa shot Vodka, hingga berakhir pada ciuman lama yang tidak gue rencanakan. Mengalir begitu saja.

See? It’s so f***ing easy to get her out of my head.

Kecuali yang gue bisikkan saat membawa kedua tangan Trina ke belakang tubuhnya adalah:

“Mara.”

Tiba-tiba Trina mendorong dada gue sambil mengangkat jari telunjuknya tepat ke depan mata. Dengan pikiran setengah mati disoriented dan mata masih menyipit karena belum sepenuhnya bangun dari angan manis di kepala, gue pun berusaha mencerna makian itu.

Belum sempat kesadaran gue balik sepenuhnya, Trina sudah hengkang dari situ.

Rasa kecewa perlahan merayapi sanubari dan itu bukan karena kepergian Trina, melainkan karena gue baru sadar bahwa sejak tadi, yang ada di depan mata bukanlah dia.

Semua ada di Karlü, atau setidaknya gue pikir begitu.

Semua, kecuali si taekwondoin pemberani itu.

Mendadak gue merasa sesuatu yang berat bergelayut di dalam dada, sampai gue nggak jadi melangkah dan hanya diam bersandar pada sebuah sudut temaram di ujung meja bar.

Gue berusaha mengenali perasaan asing ini: kedalamannya, sensasinya, dan bagaimana dampaknya apabila tidak segera gue penuhi.

Not good! Ternyata gue merasa kian hampa. Ibarat ada lubang yang harus gue tambal agar jadi seperti sediakala.

Jadi… seperti ini rasanya kangen.

 Untitled-1Foto via instagram.com/sittakarina

 Gue harus bertemu  Mara.

Nggak biasanya gue balik dari Karlü “sesore” ini alias saat arloji baru menujukkan pukul dua belas malam.

Gue bersiap memacu mobil ke rumah Mara, tapi niatan itu terhenti. Easy, man, gue kembali mengingatkan diri. Gue nggak tahu apakah keluarga Mara cukup moderat menerima tamu—ehem, keluarga—pada jam segini. Atau, kedatangan gue malah bikin heboh keluarga besar kita.

Tapi, ngomong-ngomong soal keluarga, sejujurnya gue penasaran; sedekat apa sih hubungan kita berdua—Mara dan gue—dalam silsilah? Can’t you fall in love with your cousin? Cousins are almost like friends… and, well, you can sleep with your friends.

Keluarga Syadiran—keluarga besarnya Mara—memang terkenal lebih membumi daripada para Hanafiah, keluarga besar gue. Tapi, itu bukannya mereka tidak menyimpan segudang cerita, atau bahkan misteri.

Dan gue tahu orang yang paling pas untuk dikorek soal ini. Siapa lagi kalau bukan saudara Mara sendiri, Dirga Syadiran.

Jadi, gue punya destinasi baru sepulang dari Karlü. Gue yakin Dirga nggak akan keberatan sepupunya tidur di situ.

 

 

Dirga is such a rigid ass, but I must say he’s a great insider.

Dan gue jadi makin semangat setelah mendengar fakta-fakta yang bahkan gue yakin Nara dan Diaz, dua sepupu Hanafiah yang sekaligus sahabat gue, nggak pernah tahu: gue dan Mara bukan sepupu. Bukan keluarga!

Tapi, Dirga juga kasih tantangan ke gue. Jangan bertemu Mara. Lihat berapa lama perasaan gue ke Mara yang dengan cepat dan tergesa-gesa terbentuk itu, ibarat allegro, akan bertahan.

Dirga yakin gue akan kembali ke Trina, atau Ava, dan tidak akan pernah ingat pertemuan dengan Mara di terminal bus. Momen berharga kala Mara menyelamatkan nyawa gue walau belum tahu orang yang dilindunginya itu tak lain keluarganya.

Gue terima tantangan itu.

Sampai hari kelima.

Awalnya gue hanya ingin lihat Mara dari balik gerbang kompleksnya. O yeah, being stalker, I mean. Tapi, mendadak Mara terlihat buru-buru masuk ke dalam taksi dan pergi. Tanpa pikir panjang, langsung gue buntuti sambil mempersiapkan diri bahwa saat ini Mara sedang menuju ke tempat pacarnya.

Ternyata dugaan gue itu bisa dibilang benar. Mara tiba di bilangan Tebet, datengin rumah yang dia percaya adalah rumah Arka, pacarnya, mantannya, atau entah siapanya.

Mungkin dia nggak tahu apa-apa soal pacarnya itu.

Mungkin gue lebih tahu siapa sosok Arka sebenarnya, dan bersyukur mereka udah nggak bersama lagi.

Tapi, rasa lega yang gue rasakan hanya sesingkat sore yang kini bergulir jadi petang.

Seseorang muncul di situ, membuat Mara terkejut… namun juga senang. Setidaknya itu yang terlihat pada perubahan ekspresi mukanya yang kini tidak lagi tegang. Bahkan, ada seulas senyum ringan namun manis saat menatap orang ini!

Saat berhadapan dengan Ríg, orang yang sialnya juga gue kenal. Walau bisa dikatakan Nara yang mengenalnya lebih dekat. Secara profesional tentunya.

Gue hanya bisa geleng-geleng kepala dari balik setir mobil lalu menoleh ke samping, ke deretan ruko dan rumah makan yang terlalu berdempetan satu sama lain, seraya terkekeh tanpa suara.

Asli. Rival gue kali ini banyak!

Lalu, gue kembali menoleh ke arah mereka. Kali ini karena gue mendapati gestur Ríg dan Mara berbicara lebih lantang dari percakapan mereka, entah apa topik obrolannya saat itu.

Gue ingat dengan jelas rasanya mencium telinga Trina, lalu beralih ke sisi lehernya. Tapi, gue nggak sanggup membayangkan itu… apabila itu dilakukan oleh Ríg ke Mara.

Satu lagi rasa baru terformulasi di dada. Kali ini mendidih dan menolak diajak berdamai.

Kesal setengah mati melihat cara Mara menatap Ríg.

Cemburu.

Hanya ada satu obat untuk ini: gue harus bertemu Mara. ****

 

*) Allegro merupakan cerita pendek dari sudut pandang Moreno Lucien Hanafiah (Reno). Latar waktu pada kisah ini bersamaan dengan latar pada novella Dunia Mara

**) Featured image: The Berry

Follow my blog with Bloglovin


Tags: , , , , , ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


17 Responses

  1. Yuliana – Lukisan Hujan bisa dibeli di toko buku Gramedia dan beberapa toko online seperti bukabuku.com dan bukukita.com 😊

  2. Yuliana

    Kak aku belum sempet baca lukisan hujan, cari di beberapa gramed udh ga ada. Bisa beli dimana yaaa kira2? 😢

  3. Ternyta reno beneran jatuh cintaaa 😭😭 please please please buat novel dia dong !!

  4. Anggun

    Renooooo 😆😍😍❤️ Selalu kehipnotis tiap baca cerita hanafiahnya kak sitta

  5. Lovelyrose98

    Ka ari, kisah Reno bakal jd novel jg kan. Ttp nungguin nih😊

  6. Inez

    Kak Arie plis aku mau happy ending story buat Reno. Am a big fan of Hanafiah jadi gasabar nunggu imaji terindah versi baru hihi

  7. tiralia

    Iseng mampir, daaan malah nemu ini!! aaack seneng banget ahirnya bisa tau perspektifnya Reno. Secara uda ngefans banget ama Reno waktu baca Dunia Mara. Yes, bad boy itu selalu menggoda :p

  8. Nabila

    so happy to read another hanafiah’s short story kak arie! bener bener mengobati rasa kangen 😀

  9. Muslipah

    Aku jadi penasaran. Dengan siapa Reno akan berakhir? Mara? Humm… Aku gak pernah puas baca HANAFIAH. Seperti vampir yang selalu kehausan! Gambatte kak Sitta {^_^}

  10. septama wulandari

    Hai kak sitta..seneng baca perspektifnya dari Reno Hanafiah yg terkenal penakluk wanita…hahhaa selain Nara tentu nya…gak sabar nunggu cerita keluarga Hanafiah yg lainnya…tetap semangat kak sitta…

  11. vita

    Penasaran karakter wanita yg bakal ‘jadi’ sama reno pd akhirnya seperti apa. Nunggu seri hanafiah terbaru

  12. @Fitri, @Zahra – thanks guys! Hope you enjoy this little script

    @Amik – Bisa dibeli di tokobaca.com, bukabuku.com dan bukukita.com selain di toko buku besar ya

  13. fitri

    Ah kakaaaaa aku seneng akhirnya bisa baca hanafiah series lagi..lanjut ya kaaa ayo aku dukung kaka

  14. Zahra

    Bener2 excited untuk baca perspektif dari Reno sendiri, dan tau lbh mendalam soal rasa Reno ke Mara. Ga sabar baca kelanjutannya

  15. Amik

    Hi kak Sitta, mau tanya buku2 novel kel hanafiah masih bisa dibeli dimana ya? Seri lain ky imaji terindah / pesan dari bintang bakal dibuat versi baru seperti lukisan hujan g? Thanks..