Anak Bukan Kertas Kosong. Setuju Sekali!


blog.sittakarina.com_anakbukankertaskosong-min

Kalimat pertama di atas merupakan judul buku karangan Mas @Bukik. Kalimat berikutnya adalah opini saya.

Sudah sejak lama saya bangun pagi disambut post Mas Bukik di Facebook. Artikel dan ulasannya yang kebanyakan tentang anak, pendidikan, dan parenting begitu inspiratif, dan kerap saya merasa sreg, sependapat dengan opini-opininya tentang bagaimana “memanusiakan” anak. Jadi, ketika Mas Bukik merilis buku #AnakBukanKertasKosong ini, bukan main girangnya saya—ini ibarat saya membaca rangkuman seluruh Facebook post Mas Bukik secara lengkap!

Anak memang bukan kertas kosong. Dari sebelum lahir, tiap anak mengemban talenta, kekuatan, dan keunikan yang sudah diberikan secara spesial oleh Yang Maha Kuasa. Nggak usah jauh-jauh melihat keunikan yang tampak dari si sulung Harsya (7 tahun) dengan teman sebayanya; Harsya dengan si adik yang baru berusia 5 bulan Juni mendatang—saudara kandungnya sendiri—jelas berbeda. Si kakak supel dan fleksibel, si adik saklek dan ambisius. Itu baru soal karakter yang paling dominan. Masih banyak aspek-aspek lain yang perlu kita cermati dan pahami dalam mendidik dan mengasuh anak. Pernah dengar soal kecerdasan majemuk dan bagaimana kadarnya pada tiap anak berbeda? Nah, ini pun saya dapatkan dari blog Takita asuhannya Mas Bukik.

Buku Anak Bukan Kertas Kosong memberikan dasar pemikiran yang logis beserta cara-cara menuntun anak tumbuh dan berkembang menjadi yang terbaik dari diri mereka sendiri. Bukan duplikasi dari orangtua, apalagi penerus harapan orangtua mereka. Dari sini saya makin yakin bahwa pendidikan dan parenting merupakan sesuatu yang bersinergi satu sama lain, berjalan beriringan, dan tidak bisa dilakukan secara terpisah. Dengan begitu, tugas ini—buku ini—mutlak bukan hanya bagi orangtua dan guru, namun siapa saja yang ingin menjadi sosok orang dewasa yang lebih baik bagi anak-anak di sekitarnya. Jadi nggak sabar ingin segera kasih buku ini ke eyangti-nya Harsya dan Nara.

Beberapa teman yang saya kenal bertanya:

“Emang perlu ya buku beginian? Soal pendidikan ‘kan udah masuk sekolah bagus–internasional pula!”
“It looks like another preachy parenting book.”
“Banyak banget nggak sih (isinya)? Sehari-hari harus ngantor, macet pula. Males kalo baca yang panjang-panjang.”

Untuk semua pertanyaan yang dilontarkan tentang buku perdana Mas Bukik, saya cuma punya satu jawaban:

“Kita ingin anak nggak hanya tumbuh jadi sosok yang cerdas, tapi juga berbudi baik ‘kan? Sulit lho untuk bisa capai tujuan itu kalau nggak dimulai dari kitanya yang lebih dulu memahami kebutuhan anak-anak serta mendidik mereka dengan cara yang lebih baik lagi. Buku ini ngebuat gue tahu apa aja yang harus dilakukan untuk menumbuhkan potensi dan kebaikan Harsya dan Nara, tanpa memaksa dan menekan mereka. Wajib punya; sayang kalo cuma pinjem.”

*) Featured image: Sitta Karina


Tags: , , ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


One Response