Apa Saja yang Harus Dilakukan Agar Bisa Investasi?


Blog Sittakarina - Apa Saja yang Harus Dilakukan Agar Bisa Investasi

Tak ada alasan lagi untuk tidak berinvestasi.

Jika selama ini kita merasa nggak bisa menyisihkan sepeser pun untuk investasi dengan beribu alasan yang¬†ūüôĄūüôĄūüôĄ¬†…nah, sekarang waktunya buat “Wooi… bangun! Hidup elo nggak selamanya di atas dan selalu bergelimang duit!”. Akan ada masa di mana kita sudah tidak bekerja lagi, tenaga tidak sekuat dulu, namun pengeluaran tetap ada, atau malah bertambah.

Masa tersebut salah satunya adalah masa pensiun. Berkaca dari kehidupan orang tua saya dan mertua, ternyata kehidupan sehari-hari tetap berlanjut setelah pensiun dari kerjaan. Usia pensiun rata-rata 55 tahun dan banyak dari orang tua kita (alhamdulillah) masih bugar sampai usia lebih dari 70 tahunan.

Nah, yang bikin nggak¬†ngeh selama ini ‘kan walau sudah masuk¬†golden age,¬†para eyang masih tetap doyan kongkow dan lunch¬†bareng di Rembulan, datang ke pernikahan salah satu anak teman sambil quick getaway¬†ke Bali, atau¬†bikin¬†trip¬†ramai-ramai keliling Asia. Tidak suka jalan-jalan? Toh¬†daily expenses tetap ada ‘kan. Bayar listrik, ponsel, belanja bulanan, uang bensin, gaji supir, dan lain-lain.

Baca juga: Jadi Entrepreneur Sambil Kerja Kantoran, Ini Caranya!

Menyiapkan dana pensiun untuk kebutuhan di atas adalah salah satu tujuan investasi yang ingin kita capai. Walau ada anak dan cucu, tentunya kita ingin mengusahakan hidup mandiri dulu, dong.

Selain untuk mencapai tujuan keuangan di masa mendatang, alasan lain kita wajib melakukan investasi yaitu menjaga nilai uang yang kita miliki tidak tergerus inflasi. Dengan adanya kenaikan inflasi di Indonesia sekitar 1-5% per tahun, harga barang konsumsi pun melambung. Dulu saat¬†belanja bulanan cukup dengan Rp500.000, lima tahun kemudian perlu mengeluarkan Rp800.000 untuk membeli barang yang sama. Tapi, jangan khawatir… selama naiknya nggak lebih dari 10%, inflasi di Indonesia cukup terkendali, kok.

Lebih cepat kita mulai berinvestasi secara, maka nominal yang mesti disisihkan pun akan lebih kecil. Sedangkan, hasil yang didapat dengan jangka waktu lebih lama tentu akan lebih besar dari mereka yang baru 1-2 tahun memulainya.

Ambil contoh, instrumen yang kita pilih untuk berinvestasi adalah reksa dana dan saham, kita bisa melakukan investasi mulai Rp100.000. Bahkan, beberapa emiten saham memiliki harga di bawah Rp1.000 per lembarnya. Cukup terjangkau ‘kan?

Lantas, bagaimana agar investasi rutin dapat terlaksana?

Berikut hal-hal yang mesti kita lakukan:

DO’S

  • Sisihkan gaji di muka. Lakukan investasi secara berkala begitu terima gaji… dan hidup dengan sisa uangnya. Ekstrem, tapi terbukti ampuh untuk menambah aset kita.
  • Pangkas biaya¬†lifestyle.¬†Ini termasuk¬†social cost buat ngopi-ngopi,¬†playdate,¬†dan ajang sosial sejenisnya. Alihkan dana tersebut untuk investasi rutinmu.
  • Lakukan auto-invest tiap bulan. Dengan begini, mau nggak mau, kita akan selalu menyediakan dana dan mendahulukan berinvestasi sebelum kegiatan lainnya.
  • Geluti hobi yang menghasilkan uang. Kali ini jadikan hobi sebagai mesin penghasil uang, bukan sekadar sarana melepas stres saja.
  • Ambil kerja sampingan. Lihat sekeliling kita; apakah ada peluang yang bisa diubah jadi uang? Rintis UKM sendiri maupun bersama teman tepercaya.

DON’TS

  • Sumber dana investasi berasal dari utang. Gunakan penghasilan sendiri saat berinvestasi. Hindari segala jenis utang, mulai dari pinjaman dari kerabat sampai kredit tanpa agunan (KTA).
  • Berinvestasi tanpa perencanaan. Menyusun dan mengkaji ulang perencanaan investasi penting agar upaya menambah aset ini lancar, serta mampu meminimalisir risiko. Jadi, sebelum berinvestasi, pahami juga jenis investasi dan risiko-risikonya.
  • Tidak mau belajar. Walau kita sudah menyerahkan pengelolaan investasi kepada ahlinya, misalnya reksa dana, belajar dan menambah wawasan baru adalah hal mutlak yang mesti dilakukan oleh tiap investor.

Berinvestasi secara rutin merupakan kegiatan yang membutuhkan kedisiplinan tinggi. Awalnya sih memang “berdarah-darah” banget menjalani ini. Tapi, seiring berjalannya waktu, sangat mungkin kok menambah besaran investasi tersebut.

Dulu saat pertama kali berinvestasi saya sampai rela-relain hanya date bareng suami sebulan 1x. Itu pun cuma makan di tempat yang sama sekali nggak fancy, bahkan lebih sering menjajal kuliner kaki lima. Tapi, keseruan itu membuahkan hasil gemilang; KPR kami bisa lunas jauh lebih cepat dari waktunya.

Sepertinya pepatah “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” masih berlaku, ya?¬†ūüėČ

 

*) Feature image via The Daily Edited


Tags:


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


One Response