Begini Cara Tentukan Fee Pekerjaan yang Pantas


blog sittakarina - begini cara tentukan fee pekerjaan yang pantas

Berapa nominal fee pekerjaan yang pas saat tawaran datang kerap jadi sumber kebingungan para freelancer.

Para pekerja lepas yang antara lain blogger,  desainer grafis, buzzer, content writer, ilustrator, programmer,  fotografer, social media strategist dan lainnya sering kali berada pada posisi serba salah; menetapkan fee terlalu rendah, atau bahkan gratis, malah membuat klien seenaknya memperlakukan si freelancer beserta hasil karyanya. Namun, jika mematok fee tinggi akan berimbas pada sepinya order hingga berkurangnya pendapatan.

Dari pengalaman saya sendiri selama menjadi penulis lepas, blogger, dan content writer, urusan menentukan fee pekerjaan merupakan sesuatu yang rumit, mengingat orang Indonesia pada umumnya masih kikuk membahas nominal gaji dan honor secara buka-bukaan. Namun, bukan berarti proses nego tersebut nggak bisa dilakukan. Seiring bertambahnya jam terbang, percaya deh, kita akan semakin luwes dan percaya diri membahas ini secara mendetail dengan klien.

 

Fee kita, kita yang menentukan

Sebenarnya berapa sih besaran fee pekerjaan yang pantas? Selama ini tak ada pakemnya secara jelas. Hanya rumor dari mulut ke mulut yang kita dengar dari teman seprofesi. Sebagai contoh, banyak blogger yang tidak menetapkan fee ketika diundang ke kegiatan yang diusung klien seperti peluncuran produk maupun brand activation—sebuah acara yang amat membutuhkan partisipasi para blogger ini. Mereka cukup puas dengan keuntungan free lunch dan jejaring yang lebih luas dengan datang ke acara itu. Alasan lain, beberapa merasa tidak nyaman memasang tarif event attendance dan artikel reportase dalam blog karena takut tidak diundang lagi ke acara serupa. Sebagian lainnya tidak tahu bahwa pekerjaan yang membutuhkan jasa freelancer dapat dikenakan fee.

Intinya, fee seorang pekerja lepas sifatnya subjektif. Besarannya terserah si freelancer itu sendiri 🤗

 

Tetap tenang saat mendengar reaksi klien

Reaksi klien saat mendengar fee pekerjaan kita pun beragam. Bisa saja fee tersebut dianggap terlalu mahal sehingga klien akan menawar lebih rendah lagi—atau bahkan, langsung kabur tanpa kabar setelah mendengarnya. Sebaliknya, fee kita kemungkinan besar terlalu murah jika  klien langsung mengiyakan tanpa menawar sama sekali.

Apa pun tanggapan klien, penting untuk tetap tenang dan dahulukan negosiasi yang membuat kedua belah pihak sama-sama nyaman. Biasanya klien menganggap mahal jika besaran fee dinilai melebihi value yang akan didapatkannya. Namun, jangan langsung menurunkan rate begitu saja saat dicap mahal. Karena, begitu kita melakukannya, klien berpikir bahwa fee pekerjaan kita akan dengan mudah turun hanya dengan sedikit tekanan seperti itu.

Lantas, apa dong yang sebaiknya dilakukan?

blog sittakarina - begini cara tentukan fee pekerjaan yang pantas 2

Nah, pastikan kita memiliki 2 hal ini, kompetensi dan komunikasi. Kompeten untuk melakukan pekerjaan serta menghasilkan karya yang OK, juga mampu mengkomunikasikan ide dan harapan kita ke klien. Kemampuan berkomunikasi ini tak terbatas pada bagaimana kita berbicara saja, tetapi juga kemampuan kita mendengarkan dan mengolah informasi sesuai kebutuhan. Dengan begitu, kita dapat menjelaskan kepada klien, dengan fee sebesar itu, keuntungan apa saja yang bisa mereka dapatkan saat menggunakan jasa kita.

Baca juga: Jadi Entreprenur Sambil Kerja Kantoran

 

Apa saja langkah dalam menentukan fee pekerjaan?

Saat ditanya nominal rate tawaran kerja, saya akan memperhatikan faktor-faktor ini sebelum merumuskannya:

1. Pastikan pekerjaan sesuai bidang yang digeluti. Saya tidak akan mengambil pekerjaan yang bidangnya tidak dikuasai walau tawarannya cukup menggiurkan. Jangan melakukan sesuatu yang tidak kita pahami hanya karena tak ingin kehilangan kesempatan. Taruhannya kredibilitas kita sendiri!

2. Hitung ongkos produksi. Saat kita diminta datang ke acara dan membuat liputan pada blog, coba hitung biaya-biaya yang mungkin terlibat di dalamnya: ongkos transportasi, wardrobe & makeup, foto-foto penunjang konten, dan pembuatan artikel. Baru deh tutup dengan berapa marjin yang kita harapkan dari pekerjaan ini.

3. Value apa yang bisa diberikan ke klien. Beri value lebih kepada klien yang tidak ditawarkan oleh para pesaing dengan memanfaatkan kelebihan dan keunikan yang kita miliki. Misalnya,  ketika klien merasa fee artikel blog Rp 4.000.000,- kemahalan, tawarkan juga benefit lain, misalnya, kita bisa beberapa kali share tautan blog tersebut melalui akun media sosial, serta menyediakan foto berbeda ketika membaginya via Instagram.

4. Pertimbangkan jam terbang dan portofolio. Rumuskan pencapaian kita selama ini—portofolio pekerjaan, penghargaan, Alexa Rank, serta dengan siapa saja kita pernah bekerja sama—dan jadikan semua itu dasar berpijak yang valid untuk tidak malu-malu lagi “maju” dengan skema fee yang menurut kita pantas dan OK.

5. Selalu berpegang pada prinsip “win-win solution”. Klien ingin untung, begitu juga kita. Ketika belum ada kata sepakat antara kedua belah pihak perihal fee, coba cara ini: pertama, apakah fee tersebut masih bisa bertemu di tengah? Kedua, tanya berapa budget yang klien miliki dan lihat apakah kita bisa menyesuaikan jasa kita dengan budget tersebut.

Sesekali tidak mematok biaya sih boleh saja. Tetapi, jika kita ingin menjadikan ini sumber penghasilan yang terus berkembang, sebaiknya mulai sekarang perlakukan pekerjaan freelance ini secara profesional.

Punya rumusan tersendiri dalam menentukan fee pekerjaanmu? Share di sini dong 😊

*) Feature image via Glitter Guide


Tags: ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>