Blak-Blakan soal Emotional Eating dan Cara Mengatasinya


Blog Sittakarina - blak-blakan soal emotional eating dan cara mengatasinyaSenewen, makan. Apalagi pas lagi stres!

Baru pas menjelang usia 40 ini saya menyadari, sepanjang hidup isinya bergulat dengan kondisi emotional eating.

Iya, selama itu.

Saya nggak ingat persis kapan semua itu dimulai. Tapi yang jelas, jauh sebelum masuk SD, saya memang terbiasa hidup di lingkungan serba sibuk dan minim bicara dari hati ke hati.

Sejak kecil, jika saya merasa tidak nyaman, cemas, senewen, bahkan takut, pelariannya selalu ke makanan.

Cemilan dan makanan enak selalu tersedia di sekitar—baik saat ditinggal kerja orang tua maupun pas menemani eyang putri arisan di hotel.

Nggak heran, sejak kecil saya cenderung gemuk. Waktu kecil sih terlihat menggemaskan. Tapi, seiring bertambahnya umur tentu ini jadi mencemaskan.

Saat usia SD, berat badan lumayan terkontrol karena saya suka renang. Selama SMP, asyik menggeluti Tae Kwon Do. Masuk SMA, kenal rokok dan liquor. Otomatis keinginan makan pun kerap teralihkan. Walau begitu, jauh di lubuk hati saya tahu, ketika semua itu nggak ada (mulai dari olahraga sampai rokok) saya akan kembali cari makanan lagi. Just like the old days.

Emotional eating memang erat kaitannya dengan overeating. 

Yaitu, kondisi makan berlebih yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi tubuh.

Untungnya, walau saya mengalami ini, makanan tak pernah dimuntahkan kembali. Masih bersyukur… setidaknya saya belum sampai tahap eating disorder.

Puluhan tahun kemudian—sekarang, saat makanan tak lagi dijadikan sasaran untuk mengimbangi suasana hati yang lagi nggak enak—saya masih akui kok: menjalankan healthy eating secara menyeluruh itu susaaaah! 😭

Lebih yummy Pringles atau donat daripada apel malang.

Ayam bakar ya enakan disantap bareng nasi (JUARA!) daripada sama lalap doang.

Dan masih ada ribuan alasan untuk nyetok cemilan instan, mulai dari sereal manis sampai kue kering, daripada cuci pir, potong, lalu telan.

Alasan-alasan itu pun tampak makin valid ketika suasana hati sedang diliputi segala jenis emosi negatif, mulai dari kesal, stres, sampai depresi.

Intinya, emotional eating terjadi bukan karena tubuh kita yang lapar, melainkan perasaan.

Blog Sittakarina - blak-blakan soal emotional eating dan cara mengatasinya 2

Salah satu ciri utama kondisi emotional eating ini adalah kita mudah merasa lapar, padahal sebelumnya sudah cukup makan. Idealnya, kita baru merasa lapar lagi setelah 3-5 jam dari waktu “makan besar” sebelumnya.

Namun, tidak dengan emotional eating. Nggak sampai sejam sudah cari-cari cemilan lagi. Begitu hati didera rasa senewen berkepanjangan, nggak ada yang lebih menenangkan selain secangkir minuman hangat dan manis. Pelukan? Sayangnya, sering kali lebih mudah cari hot latte daripada seseorang buat merangkul kita 😩

Baca juga: Diet Sehat Seperti Ini yang Bikin Panjang Umur

Parahnya lagi, saat emotional eating melanda, kita bukannya menyantap makanan sehat seperti salad, buah, atau seduhan kunyit. Pilihan justru jatuh pada makanan dan minuman manis. Candu yang tanpa kita sadari sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Lantas, apakah emotional eating bisa disembuhkan?

Dari pengalaman (dan proses panjang) saya selama ini: BISA.

Ini hal-hal yang bisa kamu upayakan agar lebih sadar dan mampu memegang kendali atas diri sendiri:

  • Tidak langsung makan saat lapar. Ketika kita sudah sarapan dan makan siang dengan porsi cukup, jangan buru-buru cari cemilan saat rasa lapar menyapa. Coba jeda sesaat dan kenali sinyal tersebut; apakah kita sedang bosan, atau ada rasa tidak nyaman yang diam-diam merayapi diri—belum siap untuk meeting sore atau tiba-tiba teringat sikap menyakitkan si mantan? Jika rasa lapar muncul akibat emosi negatif (atau karena bosan), coba kendalikan diri dulu dan ambil makanan ringan (buah, misalnya). Tahan “makan besar” sampai sesi makan malam nanti.
  • Lebih menerima diri. Stop membandingkan diri dengan orang lain. Hilangkan juga kebiasaan menyalahkan diri. Dua hal itu akan memicu berbagai macam emosi negatif seperti stres dan anxietyEmosi negatif akan lebih mudah dikendalikan ketika kita belajar mencintai diri sendiri. Dengan begitu, kita jadi nggak mudah stres. Nggak stres = nggak emotional eating!
  • Dahulukan makan sehat. Ini kebiasaan kecil yang berarti banget buat saya. Ketika lapar di antara jam sarapan dan makan siang, mending pesen bubur ayam aja ya? Eitt, tunggu dulu. Coba makan satu buah apel. Masih lapar? Minum segelas air putih. Jika perut masih “keroncongan” juga, baru deh ambil beberapa keping biskuit.
  • Latih diri berhadapan dengan situasi sulit. Dengan membiasakan ini, kita jadi nggak mudah stres, nggak mudah baper, dan lebih tangguh menghadapi beragam kejadian tidak enak dan tak terduga. Hasilnya? Tentu saja nggak mudah menjadikan makanan sebagai pelarian lagi. Sebagai permulaan, ketika panik dan stres menyerang, coba tarik napas dalam-dalam ketimbang merogoh toples makanan.

Mengatasi emotional eating merupakan perjalanan yang sifatnya individual dan jauh dari kesan instan. Namun, sekarang saya tahu, kuncinya dimulai dari bagaimana kita mengenali dan mengendalikan perasaaan, terutama yang sifatnya destruktif.

Sebaliknya, emosi positif justru membuat kita termotivasi untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan baik. Emosi positif membuat tubuh dan jiwa merasa cukup dengan apa yang kita makan. Kalaupun ingin ngemil, kita tetap tahu batas.

Pernah ada yang mengalami kondisi seperti ini juga? Semoga kamu nggak keberatan berbagi di kolom comment ya 😄

 

*) Feature image: João Silas


Tags: ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


6 Responses

  1. Kiyaa

    Umur ku 22 tahun mba dan lagi merasa down banget. Lulus kuliah, belum kerja, trouble with love, dan teman angkatan udah kerja dan nikah. Kadang ada pada titik merasa sangat jenuh dan khawatir soal masa depan pada akhirnya pelampiasannya ke makanan. Udah sarapan, lanjut ngemil sampai jam makan siang lagi.
    Baca article ini, jadi seperti dapat solusi. 🙂

  2. Artikelnya bagus, Mba. Saya pun salah satunya yang pernah mengalami ini dan benar kalau gaya hidup sehat itu susah. 😅