Pikiran Tetap Kreatif, Bagaimana Caranya?


Blog Sittakarina - Pikiran Tetap Kreatif Bagaimana Caranya

Pikiran tetap kreatif seperti ini yang bikin kita makin produktif.

Ingat nggak pas semangat kita lagi on fire banget dan ide-ide di kepala mengalir dengan derasnya?

Saat itu rasanya kita nggak pengen berhenti bekerja—ya ngeblog, nulis cerita, atau kerja apa pun yang memang sedang kita geluti. Saking asyiknya, keadaan seperti itu bahkan bisa bikin kita lupa waktu!

Kondisi terinspirasi membuat pikiran tetap kreatif. Tak hanya gagasan demi gagasan bermunculan di kepala, proses kerja pun berjalan lancar.

Sayangnya, kita tidak selalu berada dalam kondisi seperti ini. Inspirasi tidak hadir begitu saja; dalam beberapa kesempatan kita mesti menghadirkannya. Padahal, nggak mungkin ‘kan kita hanya kerja pas lagi on fire, pas mood lagi OK aja 😅 Bisa-bisa deadline nggak terkejar dan kinerja tim ikut terpengaruh.

Satu hal yang harus kita pahami, upaya menjaga pikiran tetap kreatif ternyata nggak cuma berlaku untuk bidang seni dan kreatif saja. Bekerja kantoran, menjadi lawyer sampai financial planner pun butuh kondisi ini. Tujuannya agar pekerjaan lancar dan dapat diselesaikan dengan baik. Pikiran kreatif memungkinkan kita melakukan cara-cara penyelesaian masalah sesuai waktu, tempat, kondisi, dan kebutuhan saat itu.

Ya, pikiran kreatif lahir saat kita open-minded dan, yang tak kalah penting, luwes beradaptasi dengan keadaan apa pun.

Ada yang bilang, seseorang bisa mendadak jadi kreatif saat kepepet deadline. Menurut saya, pendapat ini masih bisa diperdebatkan. Selain itu, risikonya pun cukup besar. Demi menstimulasi pikiran kreatif, kita dengan nekat menunda kerjaan hingga detik-detik terakhir. Lantas, bagaimana kalau pikiran malah jadi buntu, bukannya kreatif? Bisa-bisa kerjaan malah tidak selesai 😫

Dari pengalaman saya selama ini, baik sebagai pegawai kantoran maupun pekerja freelance, menjaga pikiran tetap kreatif bukan hal mudah namun bisa diupayakan.

Nah, beberapa pendekatan berikut bisa kamu coba:

1. Jaga mood tetap nyaman. Ini bukannya mengharuskan keadaan sekitar sesuai dengan preferensi dan standar kita, lho. Justru cara pandang kita yang diubah; latih suasana hati untuk lihai beradaptasi dalam keadaan apa pun. Mood nyaman saat kondisi serba ideal tentunya gampang. Bagaimana dengan mood tetap nyaman saat AC mendadak mati, atau dapet klien yang super-demanding? Nah, ini yang kita latih.

2. Running. Esensi utamanya: terus bergerak. Lebih OK lagi jika membiasakan olahraga lari. Bonusnya jadi dapat dobel; kitanya jadi aktif bergerak, hati pun rileks, serta bermanfaat bagi kesehatan otak.

3. Dengarkan lagu baru. Lebih seru lagi, lagu baru yang genre-nya baru. Sesuatu yang berbeda dari biasanya mampu menstimulasi ide-ide yang selama ini tak terbayangkan.

4. Jangan lupa bersosialisasi. Bertemu orang, baik itu keluarga, teman dekat, kolega, atau mereka yang sekadar kenal saja melahirkan berbagai jenis percakapan serta kesempatan bertukar pikiran. Dari situ muncul persamaan (juga perbedaan!) cara pandang yang memperlihatkan kita keunikan tiap orang. Keragaman inilah yang menstimulasi pikiran tetap kreatif.

Baca juga: 8 Cara Menulis Produktif

5. Ajak diri disiplin. Latih diri untuk disiplin membiasakan sesuatu yang positif, tanpa paksaan. Misalnya, kita ingin mahir berbahasa Inggris. Cara yang kita tempuh adalah membaca 1 buku cerita berbahasa Inggris tiap bulannya. Untuk mencapai itu, kita dengan disiplin menyempatkan diri membaca beberapa halaman tiap hari, walau kadang hanya bisa setengah halaman saking sibuknya. Sesuai dengan mantra favorit saya yang pernah diucapkan Mbak Najelaa Shihab: creativity comes from a disciplined mind!

6. Bepergian. Nggak harus jadi constant traveler, kok. Bepergian di sini maksudnya sering beranjak dan beraktivitas. Jangan keseringan duduk bermalas-malasan tanpa tujuan. Beraktivitaslah dari satu tempat ke tempat lain dengan tujuan jelas, dan lebih baik lagi, bermanfaat. Karena, ide baru tidak selalu hadir dalam kesenyapan dan kesendirian.

7. Cukup istirahat. Otak dapat berpikir dengan maksimal saat kebutuhan diri, baik jasmani maupun rohani, terpenuhi. Dan tidur merupakan kebutuhan keduanya!

8. Biasakan membaca. Ini tak hanya terbatas pada membaca buku, tapi juga “membaca” keadaan. Kaji situasi, adaptasi, ambil hikmah, dan terus belajar. Dengan begitu, akan banyak ide-ide bermunculan—dan bertubrukan. As we know, creativity also comes from a conflict of ideas!

9. Terapkan self-care. Pikiran kreatif bisa saja terbentuk saat kita fokus mewujudkannya. Tetapi, berapa lama kondisi tersebut dapat bertahan jika kita abai terhadap kebutuhan diri: makan sesukanya, olahraga sesekali aja, dan begadang jadi gaya hidup sehari-hari?

10. Bangun sikap hidup positif. Bersyukur, maafkan diri saat berbuat salah, terbuka terhadap perubahan adalah sikap-sikap yang tak hanya menstimulasi kerja otak, tapi juga mampu merawat kesehatan otak.

11. Ada ide baru? Langsung tulis saat itu juga. Sudah susah-payah mendapatkan gagasan kreatif, tapi malah tertimbun berbagai kesibukan dan to-do list lainnya. Jangan sampai buah pikiran kreatif kita jadi sia-sia karena kebiasaan doyan menunda.

 

*) Feature image via Rekita Nicole


Tags: ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


3 Responses

  1. Setuju banget mba, apalagi sama point yang terahir, jika ada ide baru langsung ditulis, yap kebanyakan dari kita (termasuk saya) saat punya ide baru nggak langsung ditulis dan cenderung menunda hehehe, untuk kedepannya saya mencoba menghilangkan kebiasaan begitu.