Jari-Jari Lincah – sebuah cerpen


blog sittakarina - cerpen jari jari lincah

Flori Suranto membuka pintu salon sekuat tenaga hingga semua kapster terlonjak kaget. Hari itu Curlz, salon langganannya, sangat sepi. Hanya ia seorang pengunjungnya. Tumben, biasanya Flo ke sini berdua dengan sahabatnya, Karissa. Namun, apa boleh buat, Karissa kini tengah berada di langit ketujuh bersama Ale sang pacar.

Dan Flo sedang telak-telaknya terlempar ke bumi dari tempat yang tadinya sama seperti sahabatnya.

Bagaimana tidak? Razzan, pacar Flo, ternyata mengakui lebih suka perempuan berambut lurus. Alasan aneh sekaligus menyebalkan yang baru dilontarkan belakangan lantaran kepincut dengan seorang model pendatang baru yang baru saja memenangkan kontes rambut indah di sebuah TV swasta. Karena itulah, Flo dicampakkan.

“Hai, Flo!” Seorang pria berusia tigapuluhan menyambut kedatangannya dengan senyum lebar nan hangat. “Udah lama banget nggak ke sini. Kirain udah ganti hairstylist lain.”

“Halo, Mas Cahya,” Flo membalas dengan gerak-gerik lesu, tidak tertarik meladeni candaan itu. “Mau potong.”

Perlahan, Cahya menyentuh ujung-ujung rambut Flo dengan tatapan meneliti. “Seharusnya udah trim dari setengah tahun lalu, nih,” Ia menengok ke arah parkiran di depan dan tidak menemukan kendaraan familier yang dicarinya. Razzan juga salah satu pelanggan tetap Cahya sejak ia resmi bersama Flo. ”Razzan mana? Dia juga udah nggak pernah motong di sini lagi.”

Flori tertegun lama. Cengkeraman tangannya pada sandaran tangan tempat keramas pun mengeras. Cahya tentu saja menyadari perubahan sikap itu.

“Ya udah. Keramas dulu aja, ya.” Si penata rambut tidak meneruskan topik tersebut.

Flo merebahkan tubuh pada lekukan ergonomis kursi, menikmati dinginnya air menyapu kulit kepalanya. Penat yang terasa pun berangsur-angsur hilang. “Menurutmu, rambutku cocok bergaya Harajuku girls?”

Cahya tertawa simpatik. “Cocok! Kamu bagus dengan rambut pendek dan curly begini. Apalagi kalau saya yang motong!”

Kalau pengunjungnya Flo, maka yang turun tangan langsung mencuci rambut bukan kapster, melainkan Cahya sendiri. Hairstylist ini sudah mempermak rambut Flo sejak Flo centil duduk di kelas 6 SD hingga hampir menjadi anak kuliahan seperti sekarang.

Baginya, Flo merupakan pelanggan istimewa. Flo selalu ikut ke manapun Cahya pindah demi mengais rejeki yang lebih baik. Apalagi, kini persaingan di antara salon semakin ketat. Beberapa tangan kotor ikut bermain, terutama mereka yang ingin menguasai penata rambut – penata rambut yang sudah punya nama demi mendongkrak reputasi salonnya.

Puncak hubungan baik itu bersemi ketika Flo diundang ke syukuran pernikahan Cahya yang sederhana tiga tahun lalu. Flo datang bersama ibunya yang sempat keheranan melihat putrinya akrab dengan seorang penata rambut.

“Gue putus sama Razzan.” Flo berkata tiba-tiba. Ia rileks kembali saat membaui aroma peach dari sampo yang dibalurkan pada kepala. “Cahya, memang rambut keriting gue itu aneh? Jelek?”

“Jangan bilang itu kata-kata Razzan.” Dahi Cahya berkerut heran.

“Siapa lagi?”

“Suka heran sama laki yang ngurusin penampilan perempuan, apalagi sampai ke rambut segala. Nggak mau sekalian jadi perempuan?”

Flo kontan mengulum senyum. “Elo aja yang tiap hari ngurusin rambut tetep jadi laki tulen.”

“Coba cerita, Flo. Siapa tau jadi lebih enak.”

Flori menghela napas panjang. “Kejadiannya pas hari Jumat lalu…” Setelah itu kata demi kata mengalir deras dari bibir penuhnya yang eksotis. Razzan yang ini, Razzan yang itu; semua detil diucapkan dengan ekspresif sekaligus emosional.

Dari rentetan kejadian yang dipaparkan, ada satu hal yang membuat Cahya tercengang. “Jadi, selama kalian pacaran, Razzan yang doyan gonta-ganti velg mobil ternyata nggak pernah kasih apa-apa ke kamu?”

Kini malah Flo yang tampak kebingungan. “Memangnya harus?”

“Flo, Flo,” Cahya terkekeh kebapakan,”Aku ini semiskin-miskinnya, waktu dulu pacaran sama istriku pasti bawaannya pengen beliin dia sesuatu. Nyenengin dia. Gak usah yang mahal. Pokoknya tanda sayang, tanda perhatian aja. Aku ‘kan pernah muda juga.”

“Begitu ya?” Flo masih sangsi akan pendapat itu. Cahya selalu terlihat santai dan ramah, seakan-akan hidupnya tak pernah terbebani masalah. Rasanya saat ini Flo ingin bertukar tempat!

“Ya iyalah!” Dengan cekatan, jemari Cahya menggunting tiap helai rambut tanpa dicekcoki banyak instruksi dari pelanggan favoritnya. “Laki-laki mestinya suka memberikan sesuatu kepada perempuan yang ia sukai. Dan ini bukan berarti kamu matre, Flo. Cowok mesti tau bagaimana menempatkan diri, walau ceweknya mandiri sekalipun.”

Flo menatap refleksi dirinya pada cermin. Satu persatu helai rambut jatuh, seolah-olah dirinya membuka lembaran kehidupan yang baru. Lepas dari perasaan takut kurang memenuhi harapan Razzan.

“Halo, apa kabar? Ini… gue ada temen cewek. Pelanggan juga. Baru putus sama cowoknya yang brengsek. Mau kenalan, nggak? Gue ‘kan juga kenal baik sama elo. Pokoknya kenal aja dulu. Cantik, cantik… smart, baik pula. Terus, masih SMA juga kayak elo—”

Tiba-tiba Cahya berhenti memotong rambut dan berbicara di ponsel sambil melirik penuh arti ke Flo. Kontan saja gadis ini bangkit dengan hebohnya. Tak menyangka pria kalem di belakangnya berani senekat ini demi menghiburnya.

“E-Eh, eh, tunggu—!”

Hal terakhir yang ada di pikiran Flo saat ini adalah kenalan dengan orang baru, apalagi sampai pacaran. Lukanya masih jauh dari pulih.

Klik! Flip ponsel ditutup dan Cahya kembali sibuk dengan kreasinya pada kepala Flo.

“Hmm, ini teman atau keluarga, Mas Cahya?”

Cahya mengangkat posisi kepala Flo lebih tegak, melihat air muka pura-pura tak acuh pelanggannya di cermin. “Penasaran juga kamu, eh?”

“Aku nggak mau pacaran dulu!” Flo cepat-cepat menambahkan.

“Nggak ada yang bilang kamu mesti segera pacaran,” Cahya berlagak pilon.

Flo pun tidak jadi menyalak balik.

Tanpa menilik perbedaan usia yang cukup jauh, Flori dan Mas Cahya memang punya chemistry yang klop. Percakapan selalu mengalir dan seru walau hanya terjadi empat bulan sekali, yaitu tiap kali Flo merapikan rambutnya. Kebiasaan Flo yang datang tiap kali salon hendak tutup membuatnya berkesempatan mengobrol lebih lama dengan si penata rambut.

Tatkala hujan turun, Flo mengajak Cahya ikut masuk ke sedan Papa yang sering dikendarainya saat beliau pergi dinas. Sebagai gantinya, Cahya membelikan ubi goreng untuk Flo, juga keluarga di rumahnya. Sebatang rokok menemani obrolan santai mereka berdua. Pernah Flo meminta, namun Cahya menolak memberikannya. Katanya, ia sendiri ingin berhenti tapi susah. Jadi, lebih baik jangan mencoba daripada keterusan.

Flo sendiri merupakan tipikal yang lebih banyak mendengar daripada cuap-cuap. Sambil menyantap ubi sedikit demi sedikit, ia terus mendengarkan Cahya mendongeng tentang Jakarta yang tidak hanya diteropong dari kaca mall. Flo hanya manggut-manggut, menyadari sudut ibukota yang ia tahu hanya sebatas kafe dan butik yang minimal juga nangkring di sepanjang Orchard Road.

Berkat Cahya yang doyan mengoceh layaknya pembaca berita, Flori jadi tahu banyak hal baru yang teman-teman sebayanya tak bisa ceritakan.

Sesi obrolan mereka terhenti tatkala wanita cantik bertubuh sintal yang sering Flo lihat tiap kali ke Curlz melintas di situ. Tergopoh-gopoh Cahya berlari ke arahnya. Dari pantulan di cermin, Flo melihat ekspresi Cahya begitu serius tatkala berbicara dengan wanita tersebut. Mendadak wajah itu berubah menjadi sendu tatkala si pemilik  Curlz mengibaskan tangan, terlihat tidak menyetujui permintaan Cahya.

Ketika kembali, Cahya tak lagi berkicau ceria. Dengan Flo yang hemat kata dan Cahya yang malah bungkam seribu bahasa, akhirnya suasana pun jadi senyap. Flo pun memilih sebuah majalah terbaru dari tumpukan di meja dan hanya membalik-balik tiga halaman.

“Aku sama sekali nggak dikasih petunjuk, ya? Nama, mungkin?”

Cahya hanya tersenyum kecil. Ia tahu anak ini tidak sepenuhnya penasaran; itu hanya pancingan agar dirinya kembali berbicara.

“Sekali kejutan, tetap kejutan.”

“Oke, sekarang aku beneran penasaran, nih!”

“Sstt! Gini aja, kamu ‘kan minta majalah model rambut dari Jepang. Hari Minggu ambil di rumahku. Sekalian istriku masakin Soto Betawi.”

“Tapi, Mas Cahya—“

“Gue tunggu ya, Non manis!”

“Cuma trim aja hasilnya sekeren ini! Duh, pengen deh punya rambut keriting!”

Flori hanya mesem-mesem ketika Karissa, sahabatnya yang memiliki rambut lurus panjang dan cocok dimahkotai Tiara Sunsilk, melontarkan pujian dengan mimik gemas. Awalnya Flo sempat curiga apakah Karissa melakukan ini semata untuk menghiburnya, mengingat sejak pagi Razzan memamerkan foto pacar barunya ke seluruh teman di kelas. Razzan bahkan berlagak tidak mengenal Flo, tetapi  tetap menyapa Karissa, dan kedua sahabat laki-laki mereka, Ale, dan Yuki.

Yuki. Flo teringat cowok cuek satu ini. Cinta pertamanya, dan mungkin masih sampai sekarang. Payahnya, Flo tidak berani melangkah lebih dari zona pertemanan dengan alasan seklise takut merusak hubungan yang sudah ada.

“Rambutnya fresh, tapi mukanya nggak.”

Sebuah tangan  menepuk kepala Flo dari belakang.

Yuki.

Seenaknya, cowok ini mengambil tempat duduk di antara dirinya dan Karissa, tanpa mempedulikan omelan Karissa yang merasa wilayah rumpinya dijajah. Alasannya lebih seenak jidat lagi: agar mudah tambah kerupuk saat menyantap soto ayam seperti yang dilakukannya kini.

“Biarin.” Flo mendengus tak acuh.

“Sama Razzan sih…” Yuki tidak langsung menengok tatkala Ale dan Nakula berseru ke arahnya, mengajak  bermain basket di masa istirahat yang singkat ini. “Kalo dulu Flo sama gue ‘kan nggak akan jadi begini. Buat elo nih CD James Blunt-nya. Gue udah selesai denger. Coba You’re Beautiful.”

Pada saat bersamaan Karissa menanyakan di mana Flo menyimpan lip balm-nya hingga ia tidak mendengar jelas ucapan Yuki. “Apa?”

“You’re Beautiful.”

“Hah?” wajah Flo spontan merona kemerahan.

You’re Beautiful. Lagunya James Blunt. Enak juga, walau awal-awal ngedengerin kayaknya depresif banget.”

Flo menerima benda yang dilempar itu dengan sedikit kelimpungan.

Laki-laki mestinya suka memberikan sesuatu kepada perempuan yang ia sukai. 

Kata-kata Cahya mendadak terlintas di benaknya, membuat Flo langsung mengenyahkan pikiran konyol itu.

Flo sampai di rumah Mas Cahya sesuai janji. Ia akan memilih model rambut Harajuku girls yang menurutnya unik dan meminta tangan lincah Cahya beraksi lagi. Sayangnya, apa yang ia temukan di bangunan kecil itu sangat jauh dari angannya sore ini: wajah Mas Cahya tampak kuyu, seperti tidak tidur berhari-hari. Seorang anak kecil terbaring lemas, tidur dalam ritme napas teratur di atas sofa butut.

“Hai, Flo. Ini majalah pesananmu. Kasih tau gue mau dipotong kayak apa.” Cahya berkata cepat, tak acuhkan rasa ngeri dan terkejut yang terlukis pada wajah gadis ini.

“T-Tapi, Mas Cahya,” Flo masih canggung mendapati pemandangan di depannya,”ada apa ini—?”

“Anaknya Cahya terserang DBD dan Cahya nggak dapat pinjaman dari salon untuk berobat. Istrinya sedang ambil salinan rekam medis di Puskesmas. Jadi, sekarang mau gue bawa ke rumah sakit terdekat.”

Seseorang dengan suara familier di telinga Flo muncul dari belakang dan berjalan melewatinya.

Tinggi, slengean, namun siapa sangka, berhati emas.

“Yuki?” Flo keheranan. “Ngapain elo di sini?”

“Wah, ternyata udah saling kenal, ya? Nggak jadi gue jodohin, deh.” Senyum Cahya tampak teduh, lepas dari situasi genting yang mengungkung keluarganya.

Ia lalu berpaling ke Yuki,”Ki, gue pinjem uang elo dulu, ya?”

Yuki menepuk hangat punggung Cahya . “Sshh. Udah. Yang penting si kecil sembuh dulu.”

Mata Flo masih terbelalak. Jadi, selama ini Mas Cahya mau memperkenalkan dirinya ke—

“Are you coming or not?” tembak Yuki.

“Bareng elo?”

Yuki mengangguk. “Proses di rumah sakit pasti lama. Ngebosenin. Lebih enak kalo nggak sendirian.”

“Kok bisa sih Yuki juga kenal Mas Cahya? Memangnya—”

“Ngobrol di dalam mobil aja. Yang penting, elo ikut ‘kan?”

Flo tersenyum seraya mengangguk mantap.

 

 

*) Feature image via Sasha Kichigina

 



Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


3 Responses

  1. kpanjani

    haaahhh kak sittaaa aku kira Flo sama Yuki udah jadian.. cepat bersatu ya Oreo 😀

    Reply