Comfort Zone = Berbahaya?


blog.sittakarina.com_comfort-zone-berbahaya

Pahami seperti apa comfort zone-mu dan latih diri untuk berhadapan dengannya.

Sering dengar istilah comfort zone, plus betapa wajibnya kita menghindari kondisi ini karena dianggap menjadikan kita pemalas, menurunkan fighting spirit atau etos kerja, bahkan mematikan kreativitas? Well, you’re not alone. Nggak di timeline Twitter, celotehan dari meja sebelah di coffee shop, sampai pada saat arisan keluarga, semua setuju bahwa comfort zone adalah zona berbahaya bagi perkembangan suatu individu–semua individu bahkan!–baik ia seorang entrepreneur, siswa, tentara, pegawai, maupun ibu rumah tangga.

Apa sih sebenarnya comfort zone itu? Hasil googling menunjukkan penjelasan singkat berikut ini:

comfort-zoneOoh, jadi comfort zone itu bisa dikatakan situasi di mana kita merasa TERUS-MENERUS nyaman dan aman… sampai-sampai akhirnya jadinya keenakan. Memangnya nggak boleh ya? Hidup kan harus dinikmati juga. Capek kan kalau radar diri selalu waspada, ditambah stres nggak henti-hentinya menerjang. Ini juga betul. Bahkan menurut saya, untuk dapat menikmati hidup (lengkap dengan segala kesenangan dan kegilaan di dalamnya), kitalah yang harus pertama-tama tahu apa yang membuat kita nyaman.

Iya, jadi yang namanya membuat diri merasa nyaman bukan sesuatu yang salah untuk dilakukan. Kerapkali karena kita ingin terhindar dari perangkap comfort zone, tanpa disadari kita jadi terus-menerus menekan, memaksa, dan menyiksa diri. Bukannya bertanya dengan sadar dan tenang ke hati: “Apa sih yang mampu membuat kita sejenak merasa nyaman dan relaxed di saat klien tiba-tiba ngamuk?” atau “Sebelum bisa konsentrasi buat persiapan belajar UN, enaknya ngapain dulu ya?”. Sama sekali nggak salah lho melakukan semua itu.

Jadi, perangkap comfort zone bukan soal tidak boleh membuat diri merasa nyaman, melainkan mengabulkan keinginan untuk menetap dalam kondisi yang selalu enak dan nyaman serta cenderung berpaling dari stres, bukannya menghadapi dan berdamai dengannya. Stres biasanya muncul bersamaan dengan masalah. Nah, salah satu cara ‘lunak’ yang bisa kita upayakan saat berhadapan dengan stres adalah dengan mengubah sudut pandang kita. Anggap masalah sebagai tantangan, sesuatu yang apabila dapat kita pecahkan, maka akan memberikan manfaat terhadap perkembangan diri.

So… how to avoid the comfort zone trap in daily life?
1. Tentukan tujuan hidup dalam suatu kalimat yang esensinya realistis, tidak muluk-muluk, namun tetap bermuatan positif
2. Hidup sadar, jangan autopilot
3. Tentukan tantangan berbeda tiap harinya
4. Tidak menerima suatu konsep/pemikiran/pendapat/pernyataan begitu saja. Pertanyakan kembali. Ajak si pencetus ke dalam diskusi sehat
5. Ukur pencapaianmu sudah sampai di mana… dan jangan lupa, rayakan!
6. Yang terakhir–dan terpenting–adalah jangan pernah absen melakukan dialog di dalam hati. Dirimu adalah partner utama lho dalam mencapai keberhasilan lahir dan batin

Bagaimana pandangan kalian soal comfort zone sendiri? Dibiarkan berlarut-larut, atau segera diatas menurut cara kalian sendiri? Share caranya di sini ya!


Tags: ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


9 Responses

  1. Arfika – Setuju banget! 🙂 Untuk beberapa situasi, berada di zona nyaman bukan berarti tidak ada tantangan dan tidak bisa tumbuh. Contoh: mengasuh anak.

  2. arfika pertiwi

    Dulu aku juga tipe yang keluar zona nyaman. Sampai akhirnya aku sadar dan berkesimpulan ada saat aku harus di zona nyaman apalagi kalau udah mendidik anak. Soalnya psikologis terus tertekan dan menekan nggak baik pas pengasuhan.

  3. emasta vera

    here the right one. Thanks for sharing mba Sitta..

  4. Kristin – Jika sudah merasa bosan di comfort zone, berarti sudah waktunya keluar dari situ. Good timing for new challenge, right? 😉

  5. Ada di comfort zone tuh enak, tapi kadang rasa bosen jauh lebih cpt dtg. Menarik dipoint 3 kak. Bisa dibilang lebih skeptis atau mgkn lebih challengging ya. jadi engga terima2 aja. thanks for sharing this kak.

  6. Sita

    ohh gitu mba..berarti beda dong ya sama let it flow? kalo hidup ngikutin alur aja itu termasuk comfort zone ga mba?

  7. @Sita – Hidup autopilot itu hidup dg kondisi tdk sadar. Contohnya kita melakukan sesuatu krn ortu atau sebagian besar masyarakat melakukan juga, tanpa mengkaji ulang: baik/buruknya, cocok/tidaknya dg kita, dg masa dan kondisi saat ini.

  8. Sita

    maksudnya autopilot apa mba? kayak let it flow gitu mba?