Delapan Peri – Sebuah Cerpen


blog sittakarina - delapan peri

Dru suka berlari. Namun, ada rahasia, bahkan keputusasaan di balik kegemarannya itu. Apa yang menjadi alasan Dru selama ini? Simak kisah mencari sesuatu yang hilang, yang pernah dimuat di Majalah CosmoGIRL! beberapa tahun silam ini.

Selamat Hari Buku Sedunia, readers!

 

Delapan Peri

 

 

Mama selalu berlari dalam hidupnya. Jadi, bukan hal yang aneh apabila aku, Drupadi Ayukara, juga suka berlari… mengelilingi jalanan kompleks pagi-pagi sebelum bersekolah. Ritual ini kulakukan sendiri. Aya dan Illa, kedua sahabatku yang alergi keringat, angkat tangan melihat kebiasaanku ini. Seperti kebanyakan teman perempuan di sekolah, mereka malas bergerak dan lebih suka bangun siang. Kelelahan sisa-sisa begadang untuk belajar, atau melipir dari satu klub ke klub lain.

Aku teringat obrolan dengan Aya, lewat tengah malam di klub hip favorit kita bertiga. Favorit anak-anak se-Jakarta, tepatnya.

Happy birthday, Dru.” Aya mengangkat gelas.

Thanks. Duh, umur nambah satu tahun lagi. Baru 17 tahun tapi berasa tua.”

“Karena kita emang udah tua, neng! Masih mau minum?” Aya menggeser gelas berisi Manhattan, sengaja menyisakan sedikit agar aku ikut mencicipi.

Aku menggeser kembali ke tempat semula. “Thank, but no thanks.” Aya nggak pernah bosan mencoba ini. Aku suka clubbing, tetapi nggak suka minum. Aku punya alasan untuk itu dan sampai kini hanya aku yang tahu.

“Mending kita bicarain rencana pesta gabungan elo sama Illa dua minggu lagi. Ulang tahun seharusnya dirayakan dengan hura-hura, pesta, bukannya mikirin yang berat-berat. You speak like my mom.

Thank God you still have mom.

“…..”

 

 

Hari ini memang ulang tahunku sekaligus masuk tahun kedelapan aku rutin berlari di tempat yang cocok disebut permata tersembunyi saking indahnya. Sebuah hutan kecil yang berbukit-bukit dan jarang dilewati orang di wilayah suburban dekat kompleksku. Tempat yang amat cocok untuk trail running.

Dahulu, aku tidak berlari sendirian. Dahulu, ini merupakan kebiasaan manis yang pernah kami lakukan bersama saat Mama masih hidup. Saat itu jugalah muncul istilah Mama yang terdengar membingungkan—delusional—di telingaku: “Satu tahun, satu peri, Dru.”

Ya, menurut Mama, tiap tahun pasti ada satu peri yang membantunya menelusuri jalanan berbukit. Medan yang cukup sulit untuk didaki sambil berlari. Namun, Mama selalu optimis mampu melewatinya walau tiap kembali ke rumah, napasnya terengah-engah, mukanya semerah tomat ranum, dan senyumnya lebar merekah seakan-akan ia baru melewati momen bahagia dalam hidupnya.

Perayaan ulang tahun kali ini terasa berbeda. Bukan sensitif lantaran mulut usil Aya atau kenyataan bahwa teman Illa, seorang DJ, yang akan dikenalkan kepadaku, tidak juga muncul walau arloji sudah menunjukkan pukul dua dini hari.

Aku hanya menyadari, ultah kali ini aku ingin Mama di dekatku, mendekapku. Siapa yang akan menjelaskan kepadaku manis—atau pahitnya—cinta pertama? Siapa yang akan mendengarkan ceritaku dengan tenang saat enggan meneruskan balet di saat Papa begitu kecewa putrinya tak lagi mementaskan Odette tahun depan? Hanya Mama yang bisa!

Jam setengah enam pagi. Cahaya matahari terlihat malu-malu menghapus sisa fajar. iPod sudah tersangkut rapi di bagian depan windbreaker biru tuaku. Pagi ini aku akan mengenyahkan  kekesalan semalam lantaran didera rasa kangen akut terhadap Mama—serta akibat berharap terlalu tinggi bakal bertemu calon pacar baru.

Kumainkan lagu Black Eyed Peas kesukaanku, I Gotta Feeling.

Yeah I gotta feeling and the feeling is okay! Aku menandaskan.

Sapuan angin terasa menusuk di wajah. Udara dingin khas pinggiran kota merasuki paru-paru, menggelitik organ tubuh untuk bangun dan bekerja. Walau diam-diam aku kerap memaki akan jauhnya tempat tinggal yang dipilih Mama dan Papa, tetapi tempat sealami, sekeren ini untuk melakukan olahraga outdoor takkan eksis di tengah kota. Kupalingkan pandangan ke kanan dan kiri:  pepohonan tinggi nan rindang, pucuk rumput pada jalan setapak yang basah terselimuti embun… dan semua ini terletak kurang dari satu kilo dari jajaran resto modern dan hypermarket.

Kulirik lagi iPod pada saku jaket. Aku mulai berolahraga ditemani alat satu ini sejak Mama meninggal. Mama tidak pernah setuju akan kebiasaan membahayakan ini. beliau khawatir, jika keasyikan mendengar lagu, kewaspadaan kita akan lingkungan sekitar akan menurun.

 

“Kamu kan bukannya lagi jogging di Central Park, Drupadi sayang,” canda Mama.

Lalu, aku menjawab,”Jangan panggil Drupadi ah, Ma.”

“Kenapa memangnya?” Mama penasaran.

“Kayak nama pajangan di museum.”

“Tapi barang-barang di museum keren lho, Dru.”

“Ya buat art freak kayak Mama.” Aku melengos lalu tertawa lepas.

 

Napasku sempat tercekat ketika memasuki kawasan familier tersebut. Kalau boleh berteriak keras, lantang, dan jujur, sebenarnya aku tidak suka berlari di hutan kecil yang tak lain merupakan rute favorit Mama. Hari ini pertama kalinya aku menjejakkan kaki lagi di situ, sejak kejadian delapan tahun yang lalu saat aku menemukan Mama terkapar di lorong tengah hutan yang dikenal dengan sebutan Simpang Tiga.

 

“Bangun, Ma. Bangun!”

 

Aku memejamkan mata, mengusir bayangan itu.

Tidak bisa.

Perihnya masih terasa sampai kini.

 

“Pa? Mama cuma pingsan ‘kan? Cuma kecapean biasa aja? Semalam ada office party lagi? Mama pulang jam berapa?”

“Hmmm.”

“Jangan cuma ‘hmmm’, Pa! Kenapa Papa selalu nggak ngasih reaksi berarti, sih?”

“Mamamu punya riwayat sebagai social drinker. Walau tidak termasuk kategori berat, tapi rupanya berdampak parah bagi tubuhnya. Jadi, kemungkinan ini serangan jantung, Dru.”

“Ya ampun, Pa! Bagaimana mungkin Papa bisa setenang ini? Ini tentang Mama, dan sejak tadi Mama nggak bangun-bangun!”

“Apa yang bisa kamu dapatkan dari sikap histerismu itu?”

“Ini pasti karena office party! Mama minum lagi. Kenapa Mama bisa begini? Mama ‘kan jogging. Berolahraga. Orang yang suka olahraga harusnya nggak suka minuman keras. Jangankan Tequila, bau bir aja bikin mau muntah! Tapi, kenapa Mama malah minum?”

“Drupadi, tenangkan dirimu dan tunggu hasil diagnosis Dokter.”

“Aku nggak bisa tenang! Papa tahu kenapa Mama rajin jogging? Itu bukan sekadar olahraga biar sehat, tapi terapi bagi Mama karena Mama depresi!”

 

Dru, Dru… DRU!

Aku meneriaki jiwaku agar kembali sadar. Tidak kelamaan melamun saat menelusuri jalanan tanah yang penuh dengan akar-akar pohon tua pada permukaannya.

Aku ingat semuanya. Pagi yang benar-benar terasa mati. Ketika kain putih menutupi wajah Mama di rumah sakit, rasanya jiwaku ikut melayang.

Sejak hari itu hubunganku dengan Papa ikut mati. Ingin sekali berteriak ke beliau agar seharusnya Papa berhenti memendam semua—perselingkuhan yang kuduga sudah lama ia lakukan—dan mengaku dengan jujur di depan Mama. Nyatanya sebelum sempat bercerai, kematian sudah lebih dulu memisahkan mereka. Seperti yang kubayangkan, seperti yang seharusnya terjadi.

Aku sempat ingin kabur dari rumah saat gundukan tanah terakhir menutupi pusara Mama. Tetapi, setelah itu ketakutan: mau hidup di mana? Mau makan apa? Memangnya peri-peri andalan Mama dapat memberikan tempat bernaung buatku?

Aku terang-terangan berani meneriaki Papa, namun tidak cukup berani untuk kabur dari rumah. Pengecut kelas teri.

Sejak Mama meninggal, aku punya hak untuk membenci minuman keras, hutan kecil ini, maupun jogging. Sayangnya untuk yang terakhir ini rasanya hatiku seperti disayat-sayat; ingin berhenti berlari, tetapi kaki terus melangkah.

Papan kayu bertuliskan Simpang Tiga di depan mata membuat langkahku berhenti mendadak, seakan menyadari sesuatu yang membutuhkan siaga penuh tengah menunggu di depan mata.

Bayangan tubuhku di tanah perlahan menghilang. Ketika kutengadahkan kepala, ternyata langit cerah telah bermetamorfosis menjadi gelap yang nyaris sempurna. Sinar matahari tak lagi terlihat dari celah-celah dahan pohon. Suasana mendadak mencekam tatkala penampakan ilalang yang ditiup angin terlihat seperti tangan bercakar yang ingin mencabik-cabik.

Hutan kecil yang selama ini tampak indah dalam memori, mendadak menjadi sesuatu yang asing—menakutkan. Mengapa langit menjadi kelam? Apakah hujan akan turun?  Apakah akan ada badai? Hujan es?

Belum sempat pertanyaan di hati terjawab, sambaran petir yang memekakkan telinga membuatku kaget. Area sekelilingku seperti berubah menjadi ruang kotak yang gelap dan sempit. Jika ada yang melompat dari balik batu besar di depanku—dan itu bukan peri berwajah manis seperti yang pernah Mama ceritakan—aku bahkan tidak heran. Tempat ini cocok untuk jadi latar film horor!

“T-Tolong…”

Bisikan halus nan lirih yang tiba-tiba tertangkap telinga nyaris membuatku mengambil langkah seribu.

Angin berembus kian keras, membuat bisikan tersebut tak terdengar lagi. Apakah tadi ada hantu berbisik sedekat itu di telingaku?

“Tolong aku…”

Suara itu lagi!

Aku memberanikan diri menyibak semak-belukar, tempat suara itu berasal.

Ternyata seorang anak lelaki tengah duduk di situ dengan air muka frustrasi sekaligus menahan sakit. Pasti deretan ilalang tinggi di dekatnya yang membuat figur anak ini tak terlihat oleh pejalan kaki—tukang sayur  yang kadang melintas di situ.

Sepertinya anak ini terjatuh dari sepeda. Ia terus-menerus memegangi lututnya yang berdarah. Percikan darah yang sama menutupi permukaan batu bersudut tajam di dekatnya. Kuperhatikan lagi, posisi tungkai kanannya aneh. Jangan-jangan kakinya patah!

“Bisa bergerak? Berdiri?”

Anak ini menggeleng. Ia lebih terlihat lelah daripada takut, sementara aku, Drupadi yang seharusnya gagah berani bak sosok istri Pandawa Lima itu, malah takut setengah mati pada cuaca yang seperti akan menjelang kiamat ini.

“Aku Dipo, Kak.” Anak ini tidak melihat ke arahku melainkan sibuk mencari pegangan untuk bisa berdiri. Sendiri.

“Kamu main sepeda sendiri? Pagi-pagi buta begini?”

“Iya. Abis shalat shubuh di masjid langsung ke sini. Kak Tody percaya kok sama aku.”

Siapa pula Tody?

”Jangan takut. Peri-peri ini sebenarnya baik. Tapi kalau marah, mereka bisa menciptakan badai dalam sekejap mata. Mereka nggak suka Tody.”

Peri? Bulu kudukku langsung meremang. Anak seberani ini tidak perlu pertolonganku! Ngomongnya saja sudah melantur. Mungkin bukan kakinya saja yang terantuk batu, tapi kepalanya juga. Atau, jangan-jangan ia makhluk jadi-jadian?

Benar-benar hutan terkutuk! makiku. Hutan yang merenggut nyawa Mama!

Dan hampir saja aku kabur sebelum akhirnya otak warasku menyuruh diam di tempat—menggendong si bocah. “Tinggal di kompleks Taman Pelangi juga?”

Dipo menggeleng dan langsung naik ke punggungku. Ekspresinya menunjukkan rasa terima kasih yang melimpah. “Di seberangnya. Kompleks Graha Permata.”

Di depanku, jalanan mulai becek terguyur hujan. Jika tidak berhati-hati, kami berdua malah tergelincir dan jatuh terjerambab. Aku memicingkan mata, berusaha memusatkan penglihatan yang  terasa buram akibat kerasnya tiupan angin. Daun-daun tampak beterbangan seperti sekumpulan tawon yang akan menyengat.

Rasa kalut mendadak menyengat kalbu tatkala menyadari jalanan yang kupijak semakin menanjak, juga semakin licin.

Aku sudah tidak kuat lagi.

Aku tidak mungkin bisa melakukan ini.

Aku tidak bisa menolong Dipo!

Tetapi, Dipo terus memelukku, menaruh harapannya padaku. “Kakak anaknya tante yang suka lari ‘kan? Pantesan Kakak kuat.”

Kuat? Energiku bahkan sudah habis karena ketakutan!

“1, 2, 3…” Dipo menghitung berkali-kali seperti tengah mengikuti gerak jalan.

Tanpa sadar, aku pun ikut berhitung.

1, 2, 3… 1, 2, 3.

Saat kakiku tersandung akar yang mencuat ke atas permukaan tanah, aku mengaduh pelan. Nyaliku terbang. Semangat pun menyurut, membuat Dipo terasa kian berat di punggung.

“Kakak?” Dipo bersua pelan ketika langkahku melambat.

Satu tahu, satu peri, Dru.

Tiba-tiba, aku teringat ucapan Mama.

“Pegangan yang kuat, Dipo. Kali ini ada delapan peri—delapan yang akan membantu kita sampai ke puncak lagi!” seruku, air hujan terasa tawar di mulut. Aku berkata begitu untuk menyemangati diriku.

“Ya! Memang ada delapan. Mereka pasti akan membantu kita, Kak. Karena mereka mengenal Tante—mengenal Kakak. Karena Kakak hebat. Kakak punya mama yang hebat!”

Aku tersenyum lebar. Daya khayal Dipo memang luar biasa. Oke, tapi fokus kita saat ini adalah keluar dari hutan tanpa sedikit pun terjatuh agar cedera Dipo tidak menjadi lebih parah.

Srek. Srek.

Sesuatu terasa menggesek betis kananku.

Sesuatu yang tipis, bening namun terasa halus di kulit. Butiran air hujan ibarat kristal kaca tatkala menempel di permukaannya yang halus dan berkilau.

Sayap capung? Tidak. Ukurannya terlalu besar.

Jangan-jangan… sayap perikah?

Aku memejamkan mata sesaat, mengalihkan pikiranku ke sikap Dipo yang membuatku kagum setengah mati. Menurutku, hebat bukan kata yang tepat. Dipo benar-benar tangguh!

Dan aku pun akhirnya menjadi sang pemberani juga.

Ya, akhirnya aku mampu melintasi Simpang Tiga. Tempat yang selalu kujadikan kambing hitam atas meninggalnya Mama. Tempat yang sungguh dicintai Mama dan setengah mati kubenci.

Inilah makna ulang tahunku yang sesungguhnya. Tidak harus dengan gaun mini  Balmain, tapas mungil nan mahal, serta dentingan gelas cocktail. Kali ini pertambahan umur kurayakan secara sederhana dalam hati, dengan keikhlasan untuk menerima yang telah terjadi dan tak kembali.

Dengan merelakan Mama pergi selamanya.

 

 

Seminggu berlalu.

Kakiku ternyata penuh lecet setelah menyelamatkan Dipo. Tetapi, kondisinya tidak separah tungkai Dipo yang ternyata mengalami fraktur. Dengan perawatan kecil selama dua hari, aku sudah bisa berlari lagi.

Sebelum aku melangkah ke luar, seseorang mencegatku di depan pagar.

Orang yang tidak kukenal.

Cowok. Mungkin sepantaran atau lebih tua dariku. Yang jelas ia tinggi—tetap lebih tinggi dariku seandainya aku berdiri di sisinya dengan sepatu hak. Gayanya santai, tidak berusaha terlihat cool seperti kenalan Illa yang kerap muncul di klub malam.

“Hai,” dia langsung menjulurkan tangan,”Tody. Kakaknya Dipo. Terima kasih banyak sudah menolong adik gue. Dipo ngikutin aksinya Ryan Nyquist setelah nonton BMX Extreme Sports.

Aku menjabat tangan itu dan Tody berkata lagi,”Harus sepagi itu?”

“Abis shalat biasanya gue bantu Nyokap cuci baju, abis itu siap-siap sekolah. Dipo masih TK. Jadi, waktu dia lebih banyak buat main-main dulu. Oh ya, Drupadi, kan?”

“Harusnya anak kecil nggak boleh ikut nonton BMX Extreme Sports,” tuturku agak ketus.

“Ya. Gue teledor.” Lucunya Tody terlihat tidak tersinggung. “Yuk, ah.”

Cowok berambut ikal ini pergi begitu saja.

Kakak yang cuek, pikirku. Saat figur tegap di depanku makin menjauh, aku teringat kata-kata Dipo. “Hei! Kata Dipo, para peri tidak menyukaimu. Maksudnya apa sih?”

Ini umpan, pembuka percakapan yang kuharap tidak terlalu ekstrem.

Atau personal.

Tody hanya menoleh sedikit. Aku antara muak dan penasaran akan gayanya, tetapi tetap saja kutunggu kesempatan kecil ini untuk bisa melihat ekspresi belagunya lagi.

“Dipo delusional.”

“Oh.” Aku menatap jalanan sesaat. “Mungkin Dipo nggak delusional.”

“Oh ya?” senyum Dipo  menantangku. Ia menunjuk ke kanan, jauh di balik rimbunnya semak-semak tepi jalan.

Ke arah hutan kecil.

“Mau membuktikan lagi ke sana?”

Aku menghela napas, tak langsung menjawab.

“Kalau takut, bilang aja.”

“Seorang Drupadi nggak pernah takut,” aku mengangkat dagu, berusaha terlihat tangguh seperti Tody.

Done. Kali ini tanpa Dipo,” Tody menyebutkan aturannya. “Kita lihat saja apa yang bisa kita temukan di sana.”

Aku mengangguk. Rasa girang bercampur-aduk dengan cemas di dada.

Jadi, tiap tahun ada satu peri hadir di perumahanku dan itu bukan bualan Mama belaka. Pada tahun kedelapan setelah Mama meninggal, aku akan memulai petualangan baru: mencari peri-peri itu  bersama Tody. ****

 

*) Dimuat di majalah CosmoGIRL! edisi Oktober 2009

**) Feature image via redbirdhills


Tags:


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


2 Responses