Ingin Jadikan Dunia Lebih Baik, How Can I Help?


Blog Sittakarina - Ingin Jadikan Dunia Lebih BaikJangan tunggu besok untuk lakukan ini.

Olla sedang galau. Ia yang sehari-hari bekerja sebagai feature reporter sebuah majalah gaya hidup ternama biasa bertemu dan mewawancarai orang-orang hebat. Tapi, kali ini ia mendapat tugas membuat ulasan yang narasumbernya bukanlah figur publik glamor di ajang peragaan busana.

Orang tersebut tak lain Wulan, teman SD yang berhasil membuat penyuluhan gizi terpadu untuk ibu-ibu jaman “now” di Serang.

Olla merasa terinspirasi sekaligus tertampar setelah sesi wawancara selesai.

Saat Wulan sibuk berkutat di kampung menjadikan dunia lebih baik lagi, apa yang ia lakukan?

Ingin rasanya melakukan hal-hal hebat dan impactful seperti yang Wulan upayakan selama ini, tapi ia tidak tahu harus mulai dari mana.

Pada kenyataannya, Olla nggak sendiri. Hal sama terlintas juga di kepala kita; ingin melakukan kebaikan-kebaikan yang mampu mengubah dunia jadi lebih baik karena hal tersebut memang dorongan hati nurani tiap manusia.

Namun, sering kali kita berpikir, bahwa untuk melakukan perubahan-perubahan itu dibutuhkan serangkaian upaya bombastis, melibatkan banyak orang, dan berskala besar. Ditambah, adanya komitmen terhadap keluarga dan pekerjaan kerap membatasi ruang gerak kita untuk mampu berkontribusi sepenuhnya.

Kalau sudah begini, bagaimana dong memulainya?

Baca juga: Beri Hadiah untuk Diri Sendiri

Kalau kita memiliki waktu dan kesempatan yang memungkinkan untuk terjun langsung dalam kegiatan sosial, silakan lakukan.

Jika belum, ternyata aksi mengubah dunia lebih baik buat kita semua bisa dimulai dari hal-hal sederhana:

  1. Menghargai diri. Love yourself before you love others. Mencintai diri dan menghargai kepentingan pribadi bukan sesuatu yang egois. Orang yang sejak kecil terbiasa dimengerti kebutuhannya akan tahu bagaimana memahami kebutuhan orang lain begitu ia tumbuh dewasa. Ya, semua dimulai dari keluarga. If not, be THAT change.
  2. Sayangi keluargamu. Cara kita berkata-kata dan bersikap terhadap keluarga, terutama anak-anak, akan membekas di alam bawah sadar mereka dan menjadi panduan mereka untuk bersikap nantinya. Jadi, biasakan ucapan dan perilaku baik walau di saat marah maupun berbeda pendapat.
  3. Toleransi. Jadikan toleransi—saling menghormati walau berbeda pendapat—kebiasaan yang mendarah-daging sejak di rumah. Ketika ibu dan anak tidak sejalan, coba diskusikan agar sampai pada titik temu. Bukan menekan, apalagi saling menyalahkan. Dahulukan respek. Ketika toleransi menjadi sebuah kebiasaan dalam keluarga, kita tidak akan “alergi” terhadap kemajemukan di luar sana.
  4. Asah kemampuan berkomunikasi. Inilah soft skill yang terpakai terus sepanjang kita hidup. Agar komunikasi lancar, sampaikan maksud dengan jelas dan tetap kedepankan empati. Coba posisikan diri kita pada tempat berdiri lawan bicara untuk bisa memahami sudut pandangnya. Dengan begitu, kita jadi nggak sembarangan berasumsi maupun menghakimi.
  5. Sabar terhadap anak-anak dan lansia. Walau terlihat sepele, sikap baik kita yang memahami keterbatasan kedua golongan yang terkadang memiliki kemiripan ini (rewel, demanding, dan kekanak-kanakan) membuat mereka merasa dihargai. Perilaku kita, baik maupun buruk, terhadap mereka akan memiliki dampak secara berantai dan berperan besar menjadikan dunia lebih baik, atau malah sebaliknya.

Kelima hal di atas tampak sederhana, namun menantang untuk dilakoni sehari-hari.

Tapi, kita tahu upaya dan perjalanan melakukan kebaikan akan penuh tantangan, akan butuh kesabaran.

Segala sesuatu yang baik memang lebih sulit dilakukan, namun pada kenyataannya mendatangkan segudang manfaat untuk diri dan sekitar.

Dengan membiasakan hal itu, berarti kita tengah membentuk sikap hidup positif secara berkesinambungan dengan memberikan asupan makanan berarti bagi jiwa (soul food).

Secara langsung maupun tidak langsung, ini akan menjadikan dunia yang kita huni jadi lingkungan yang lebih ramah bagi sesama.

Kebaikan apa yang sudah kamu coba hari ini?

 

*) Feature image: Jenn Evelyn-Ann


Tags:


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


3 Responses

  1. Farah

    selama ini merasakan hal seperti ini. semoga dengan membaca ini menjadikan saya lebih dapat berarti bagi dunia ini walau dengan hal sekecil apapun itu. nice blog kak 🙂