Ini Dia Cover Baru MAGICAL SEIRA #1 dan Prolognya


blog.sittakarina.com_magical-seira-1

Hello again Seira & co.!

Setelah berulang kali merumuskan konsep, akhirnya cover rilis ulang Magical Seira #1 jadi juga!

Senang sekali bisa terjun dan mendalami kembali hubungan dan  perasaan Seira, Abel/Seth, Rey yang begitu kompleks dalam serial fantasi ini.

Dan bagi kalian yang belum pernah membaca asal mula petualangan penuh warna Seira, silakan intip sinopsis dan prolog Magical Seira di bawah ini. Semoga suka! 🙂

 

SINOPSIS

Seira Hasanah yang pemalu merasa hidup di atas kendali orang-orang sekitarnya: sang ibu yang selalu mengatur agenda hariannya agar ia menjadi sosialita terpandang maupun para sahabat yang tergabung dalam tim cheerleaders dan sangat dominan, bahkan terhadap siapa yang menjadi pacarnya.

Merasa putus asa saat menghadapi perpisahan orang tuanya serta perasaan yang tak tersampaikan kepada Abel, satu-satunya cowok di tim sepak bola yang bersikap apa adanya di antara gerombolan metroseksual, Seira berharap dirinya menghilang.

Hanya saja ia tak menyangka hal itu benar-benar terjadi!

Kini yang terbentang di depan Seira adalah dunia dengan istana yang melayang di langit, pelangi yang dapat meninggalkan bercak warna pada tangannya, serta sosok yang menunggunya dengan paras sama seperti Abel. Hanya saja yang ini terlihat berbahaya.

Masih penasaran? Intip prolog lengkapnya juga ya 🙂 I hope you enjoy this *complete* teaser !

 

PROLOG

Aku melayang. Terombang-ambing menembus lapis demi lapis awan yang terasa lembab, penuh uap. Merasakan terpaan keras angin di wajah.

Lalu satu persatu gumpalan awan di hadapanku bergeser tertiup angin, memberi pemandangan baru yang membuat napasku tertahan. Samar-samar aku melihatnya…

…Istana di langit.

Kukira semua ini hanya dunia khayalan yang sering diceritakan Bunda ketika aku masih kecil… Kerajaan di atas awan, negeri kahyangan tempat para bidadari bermain, dan sebagainya.

Aku mendekatinya dengan rasa penasaran bercampur takut yang saling mendominasi.  Rasanya tempat ini sebenarnya terlarang. Bukan sesuatu yang seharusnya kudekati.

Kujejakkan kaki kananku lebih dulu di lapangan bebatuan yang luas. Nampaknya ini merupakan gerbang utama dari istana menakjubkan tersebut. Kabut yang pekat saat itu membuatku tidak dapat melihat apa-apa, selain tanah dan bebatuan yang kupijak.

Pada bajuku terdapat beberapa bercak warna merah, dengan sedikit titik-titik hijau dan kuning. Aku menengadah dan samar-samar melihat warna sama pada pelangi yang membentang di atas. Jadi ini karena pelangi tersebut; di mana spektrum warnanya begitu nyata dan meninggalkan noda seperti cat? Sungguh ajaib.

Tapi, mungkinkah… pelangi bisa meninggalkan warna di baju seperti ini?

Aku sempat terdiam untuk beberapa saat, ragu.. berusaha menelaah sesuatu yang ditolak akal sehatku. Dan, apakah sebaiknya terus melangkah atau mundur dari tempat asing ini?

 Tapi seiring dengan menipisnya kabut di sekitarku, semakin tak terbendung rasa penasaran ini.

Apalagi saat kulihat sosok yang amat familier—dan kurindukan—muncul di depanku.

Abel.

Ia tersenyum hangat padaku, lalu menjulurkan tangan seperti ingin mengajakku ke istana tempatnya berdiri.

Kabut yang menyelimuti kami hilang sama sekali. Kini aku dapat melihat figur Abel dengan jelas… lalu napasku tercekat.

Seperti biasa, Abel terlihat tegap dan tampan, namun kini dengan seperangkat pakaian yang amat tidak biasa menempel di tubuhnya; gabungan lempengan besi dan baja, mengkilap, dengan jubah panjang melambai, serta benda hitam seperti mahkota di kepalanya. Taburan bebatuan seperti safir, opal, dan zamrud menghiasi kostum serba tertutup itu… bahkan juga pada sepatu boot yang hampir mencapai lututnya.

 Semua dalam nuansa hitam. Semua terlihat indah.

Indah namun kelam.

Abel seperti seorang pangeran.. dari negeri kegelapan.

Dan siapakah aku?

Saat aku akan menyambut tangan itu, sebuah kilat menyambar di antara kami, membuatku jatuh terpelanting, dan bajuku—gaun penuh rendaku yang indah—sobek.

Aku terkejut. Aku tidak mengerti, bahkan hanya mampu bergidik takut.

Selain itu, napasku terengah-engah… karena ngeri.. juga kedinginan.

Setiap napas yang kuhembus berubah menjadi kristal es yang lalu rontok di udara.

Sekelilingku kini diselimuti es, juga kabut tebal lagi.

Sama seperti tadi.

Aku sendirian… dan amat ketakutan.

Ketika aku berbalik badan, Abel—dalam kostum aneh tadi—sudah berdiri tepat di hadapanku.

Satu tangannya maju untuk mencengkeram pergelangan tanganku.Sangat keras sampai kuku-kukunya terasa mengelupas permukaan kulitku.

Setitik darah lalu menetes.

Abel tersenyum ke arahku dengan sorot mata gelap—jahat. Tangan yang satunya lagi menjulur ke depan dadaku dengan telapak tangan terbuka, menginginkan sesuatu.

“Lagumu… berikan padaku.”

Pemuda berparas Abel ini berkata dalam suara rendah.

 Suara Abel yang sama seperti di sekolah.

Aku menggeleng beberapa kali dengan tatapan tidak mengerti. Cengkeraman Abel semakin kuat membuat usahaku untuk membebaskan diri semakin mustahil.

Ketika kulihat sebuah bola cahaya yang kian membesar di telapak tangan Abel, disertai senyuman keji yang semakin lebar di wajahnya, aku tahu ini adalah kiamat bagiku—ia akan membunuhku!

“TIDAAAAK!”

Buku Magical Seira bisa dibeli di Toko Buku Gramedia maupun toko buku online seperti Tokobaca.com, Bukabuku.com, dan Bukukita.com. Enjoy the adventure!

*) Featured image: Sitta Karina


Tags: , , , ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


One Response

  1. esra

    ka,, ovelnya udah terbit?? serial yg lainnya juga ada perubahan?? pengen bgt bacanya