Jadi Entrepreneur Sambil Kerja Kantoran, Ini Caranya!


blog sittakarina - jadi entrepreneur sambil kerja kantoran

Menjadi entrepreneur sambil tetap bekerja di kantor bisa menjadi pilihan berkarier yang OK. Beberapa teman, bahkan keluarga, pernah melakoni double job ini lengkap dengan segala tantangan dan keseruannya. Ada yang mengatakan ini bikin deg-degan dan lebih capek tiap harinya. Banyak juga yang merasa hasil akhirnya sepadan dengan “gedubrakan” yang terjadi di masa-masa awal membangun bisnis.

Namun, sebaiknya kita nggak hanya terpaku dengan sisi enaknya saja. Banyak “PR” yang harus dikerjakan dengan melakoni double job seperti ini. Dan kerap kali, prosesnya cukup menyita energi, baik secara fisik maupun mental. Ini berdasarkan pengalaman pribadi (saat saya masih kerja kantoran dulu) dan proses berbisnis teman-teman yang kini sukses dengan UKM busana muslim ready-to-wear, perlengkapan pesta, home goods, bahkan blog (yep, untuk mengelola blognya ia butuh tim yang terdiri dari 3 orang dan harus menggaji ketiga pegawainya ini secara rutin!). Tidur malam cuma 4 jam, kerja kantoran jadi keteteran, beberapa urusan rumah tangga jadi terlewat adalah sedikit dari sisi kurang enak dari hustling in the new biz. Tentunya ini bisa dipelajari. Dan semakin lama terjun ke dalam bisnis, kita pun jadi semakin terbiasa dengan hustle—terus bergerak dan melangkah ke arah yang kian dekat dengan tujuan biz kita.

Saya tidak akan sugarcoat dan mengatakan bahwa ini akan menjadi proses yang mudah. Pertama, dari segi profesionalisme. Kita harus ingat bahwa kita terikat kontrak secara legal dengan kantor tempat kita bekerja. Jadi, pekerjaan ini yang harus diprioritaskan. Kedua, dari segi fokus. Akan sangat menantang untuk menambah aktivitas multitasking baru (yang sebelumnya sudah ada saat kita membagi fokus antara pekerjaan, keluarga, diri sendiri, sosial, dan lainnya) dengan hadirnya si bisnis kecil ini. Ketiga, dari segi pemodalan. Dan yang terakhir (serta terpenting), segi kesehatan diri kita sendiri saat menjalankan kesibukan baru ini.

Sudah pertimbangkan semuanya? Oke, berarti kamu siap untuk melangkah jadi pengusaha dan tetap sibuk di kantor dengan cara-cara ini:

Manfaatkan minat dan passion
“Mau bisnis apa ya?”
Sebelum itu terlontar, coba tanyakan ke diri sendiri: kamu jagonya apa? Kamu sukanya ngapain? Masak, art & craft, menulis, atau dagang? Cara awal mencari tahu jenis biz apa yang ingin kamu jalani adalah dengan melihat talenta, minat, dan passion kamu selama ini, karena itu adalah kekuatan spesifik yang membuat dirimu unik. Jika kebisaanmu itu diasah dengan tekun, bukannya tidak mungkin bisa jadi sumber penghasil uang 😉

Matangkan rencana bisnismu, termasuk hitung risiko
Saya tidak percaya dengan kesuksesan tanpa perencanaan. Menurut saya, itu cuma hoki. Dan namanya hoki sering tidak terjadi berulang kali. Jadi, pastikan rencana bisnismu dibuat sematang mungkin. Bagi yang baru pertama kali membuat, panduan singkat ini bisa digunakan.

Mulai secara bertahap
Sisihkan waktu tiap harinya secara rutin (dulu saya 2 jam) untuk menggodok bisnis kecilmu ini. Mulai dengan melakukan riset, menyusun business plan, meninjau pemasok, dan lainnya. Dan tanamkan komitmen dalam diri untuk terus melangkah ke depan, sepelan apa pun langkah tersebut. Saat membangun Paperdiva Studio, saya paling pusing mencari vendor yang bisa menyediakan kanvas berkualitas premium dengan harga terjangkau. Setelah dapat pun, tidak langsung deal. Banyak nego kanan-kiri yang cukup menguras energi dan pikiran. Kalau sudah begini, biasanya saya berhenti sejenak dan ingat, tujuan awal membangun ini untuk apa, serta jangan sampai skala prioritas jadi kacau—pekerjaan utama malah terbengkalai gara-gara keasyikan.

Pisahkan keuangan pribadi dan biz
Kita sering kali anggap enteng soal keuangan dan mencampuradukkan cashflow kebutuhan pribadi dengan usaha kita. Akhirnya tidak jelas mana laba, mana modal, dan mana pengeluaran buat nyalon. Untuk urusan ini, saya terbantu banget dengan artikelnya Ligwina Hananto soal laporan keuangan. Dan dari sini, saya jadi tahu seperti apa cara menghitung omzet dan laba/rugi.

Disiplin membagi waktu
Kedisiplinan kita membagi mana waktu buat kerjaan kantor dan mana waktu untuk biz erat kaitannya dengan kemampuan kita mengatur prioritas. Kerjakan satu per satu, jangan bersamaan atau bahkan dicampur aduk. Tidak hanya pekerjaan jadi tak selesai, profesionalisme kita pun akan tercoreng. Selain itu, kita akan mengalami burnout atau stres dan kelelahan kerja yang luar biasa.

Lihat peluang
Jangan hanya berkutat mengembangkan biz dari dalam saja. Lihat peluang apa yang terjadi di luar, dimulai dengan lingkungan teman-teman kantor dan hang out kita selama ini. Cari tahu, seperti apa pengalaman belanja online mereka, apa pandangan mereka terhadap produk kompetitor, sampai apa kegiatan favorit saat weekend. Dari situ kita bisa mendapatkan perilaku konsumen. Dengan analisa perilaku konsumen yang OK, kita bisa manfaatkan itu sebagai peluang memajukan bisnis. Contohnya, teman yang punya bisnis katering rumahan jadi tahu bahwa kebanyakan anak lebih suka menu chicken teriyaki daripada ayam bumbu rujak dengan wawancara beberapa rekan kerjanya.

Perluas jejaring
Perlebar koneksi dan networking dengan kolaborasi dan partisipasi aktif dalam pameran maupun acara sosial. Pastikan  bisnis yang kita jalani memiliki branding yang baik dengan selalu mengedepankan profesionalisme ya. Pada akhirnya, jejaring yang luas ini tentunya akan memperkuat bisnis kita dan membuatnya jadi semakin dikenal orang, seperti yang kakak-beradik pengusung Vanilla Hijab lakukan.

Memulai jadi entrepreneur sambil tetap bekerja kantoran bisa dibilang langkah aman. Ketika bisnis yang kamu jalani tidak berjalan lancar dan buruk-buruknya harus gulung tikar, akan selalu ada safety net berupa pekerjaan utamamu.

Selain itu, ada lagi yang harus kita ingat saat menjalani double job, yaitu kondisi seperti ini tidak bisa berlangsung selamanya. Saat bisnis semakin berkembang dan menuntut lebih banyak lagi alokasi waktu, tenaga, dan pikiran, berarti sudah waktunya kamu memutuskan, apakah akan tetap kerja kantoran atau resign dan membangun UKM-mu.

Jika kamu ingin jadi entrepreneur atau tengah merintis ini, poin mana yang menurutmu paling penting untuk diterapkan? Yuk, ceritakan pengalamanmu di sini.


Tags: , , ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


6 Responses

  1. Aisyah – Timbang pros & cons dari keduanya, lalu putuskan akan fokus jalani yg mana. Pada akhirnya (saat salah satu sudah membutuhkan fokus dan perhatian lebih), kita pun harus memilih salah satu 😉

  2. Aisyah Nurrizki

    Kalo biz kecilnya bentrok melulu sama jadwal kantor gimana dong 😥

  3. Tapi kalo karyawan kantoran itu kan baiknya memulai menjual produk yang dibutuhkan sama teman kantor. Nah kalo yang dibutuhkan tidak sesuai dengan minat dan passion kita, gimana?

  4. Tapi tetep susah ya mbak jalanin usaha nyambi jadi pekerja kantoran yang full time di kantor . Hikz….