“Kamu nggak sendiri.” Pentingnya Punya Support System Keluarga


blog sittakarina - kamu nggak sendiri pentingnya punya support system keluarga

Support system terpenting dalam kehidupan kita berasal dari orang-orang terdekat, yakni keluarga dan sahabat.  Namun, sering kali kita meremehkan keberadaan mereka, terutama pas hidup kita lagi enak-enaknya.

Dan ketika keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat, barulah kita menyadari betapa tidak nyamannya merasa sendirian saat tengah menghadapi masalah. Betapa rapuhnya diri tanpa tempat bersandar.

Salah satu cara ampuh untuk membuat diri kuat saat diterpa masalah adalah bersandar pada Yang Maha Kuasa, tentunya sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Tapi, oke… harus kita akui, untuk melakukan itu kadang tidak mudah. Butuh kelapangan hati untuk mampu berserah diri kepada-Nya, karena toh masalah yang menimpa kita sebenarnya terjadi atas seizin-Nya.

Jadi, harus bagaimana agar tidak break down?

Miliki support system.

Beberapa orang cukup beruntung untuk memiliki dukungan solid berupa support system keluarga maupun sahabat dekat. Tapi, banyak juga yang tidak, sehingga harus mencari bantuan ke tempat lain. Misalnya, ke komunitas yang peduli kesehatan jiwa, yaitu mereka-mereka yang berkenan mendengarkan keluh-kesah masalah kita.

Kehidupan yang semakin modern kerap membuat seseorang kian individualis. Bonding dengan lingkungan terdekat —Ayah, Ibu, kakak, adik, sepupu, sampai sahabat—tak serekat dulu. Pola hubungan seperti ini rentan menjadikan seseorang mudah merasa kesepian. Jika sudah begini, biasanya ia akan merasa semua beban seolah dipikulnya sendiri.

Lebih jauh lagi, seseorang yang individualis dan akhirnya merasa kesepian (walau di tengah keramaian) cenderung menyalahkan orang-orang di sekitarnya. Padahal, jika ia berkenan melakukan refleksi, bisa saja hubungan dengan lingkungan sekitar merenggang sebagai buah dari sikapnya; pulang kerja larut malah sibuk dengan gadget di living room, bukannya menyempatkan ngobrol dengan pasangan. Atau, saat weekend, asyik menjajal dari satu jenis olahraga ke olahraga lain tanpa berkunjung lagi ke rumah Ayah-Ibu maupun Nenek.

Dengan kata lain, support system yang kuat tidak bisa muncul begitu saja, melainkan harus dipupuk dengan tulus dan berkesinambungan. Jangan harapkan mereka ada buat kita, terutama di saat kita tertimpa masalah, jika selama ini kita nggak pernah make time buat orang-orang terdekat itu.

In other words, relationship is two-way activity. Dan ini sejalan lho dengan fitrah kita sebagai makhluk sosial—sadar maupun tidak, kita akan selalu butuh orang lain dalam kehidupan kita.

Pertanyaan berikutnya, apakah kita sudah memiliki support system keluarga maupun sahabat?

Cara mengetahuinya adalah dengan melihat status hubungan kita dengan inner circle tersebut: apakah sudah sehat, atau perlu perbaikan.

Jika sudah sehat—terlihat dengan silaturahmi dan komunikasi yang terjaga dengan baik—then you’re good to go! Tapi, jika tidak dan perlu diperbaiki lagi kualitasnya, maka tak ada salahnya jika kita memulai lebih dulu untuk meluangkan waktu dan stop menggunakan alasan sibuk untuk tidak berinteraksi secara bermakna dengan mereka.

Terus, mulainya bagaimana?

Nanti garing nggak ya ngobrolnya?

Mulai dengan kegiatan simpel dan durasi singkat dulu. Misalnya, jika selama ini kita selalu asyik di co-working space pas weekend, coba sesekali mengobrol bareng Ayah dulu yang tengah asyik membaca buku di teras. Cukup lima belas menit saja. Tanyakan pandangan beliau tentang apa saja yang menarik belakangan ini. Hindari obrolan berat, apalagi yang malah memicu perdebatan. Tanamkan dalam hati bahwa kita akan melakukan ini secara rutin, demi kesehatan jiwa dan hubungan.

Intinya, support system, baik dari kalangan keluarga maupun sahabat, tumbuh semakin kokoh dengan semakin baiknya hubungan terjalin. Jadi, sebelum kita meminta dukungan moril dari mereka, pastikan diri kita telah melakukan itu sebelumnya.

Bagaimana dengan support system kamu selama ini?

Setelah dipikirkan lagi, apakah hubungan kamu dengan orang-orang terdekat sudah cukup baik?

Yuk, berbagi tentang upaya apa saja yang sudah kamu lakukan untuk itu!

 

*) Feature image via wehartit.com


Tags:


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>