Kunci Utama Terbukti Bikin Hubungan Awet


blog sittakarina - Kunci Utama Terbukti Bikin Hubungan Awet

Hubungan awet di era yang perpisahan merupakan hal biasa, is it possible?

Jawabannya, bisa ya, bisa juga tidak. Tergantung banyak hal. Tetapi, ada beberapa yang bisa kita upayakan untuk mewujudkannya.

Yep, there’s hope. Sure. Walau tentunya nggak mudah. Beberapa hubungan, terutama dengan keluarga, layak diperjuangkan. So, don’t give up just yet.

Kali ini saya nggak akan ambil contoh dari orang lain, melainkan dari diri saya sendiri. Dari hubungan saya dan suami.

Kami berdua menikah 11 tahun yang lalu. Saya api, ia es. Saya tahu, kebanyakan orang yang bertemu sekilas dengan saya akan mengira saya adalah si es. Hehehe… ini sebenarnya efek punya pasangan yang berperangai tenang—jadinya saya pun belajar untuk lebih bisa mengendalikan emosi.

Berbeda pendapat dengan suami? Jangan tanya. Tons of them. Walau kebanyakan perbedaannya terletak pada metode dan pendekatan yang akan diterapkan, terutama soal parenting. Saya ingin Harsya dan Nara disiplin dalam membagi waktu belajar dan bermain, sedangkan suami ingin bocah-bocah itu jangan diperlakukan terlalu strict. Menurut suami, makin bertambah besar, biasanya anak laki makin blak-blakan bersikap dan sangat mungkin kabur jika terus-menerus merasa tertekan. Jadi, ia berharap istrinya bisa lebih smooth soal tarik-ulur dengan anak-anak. Padahal, ehem, istrinya sering kali nggak sabaran 😆

Lalu, saya dan Ibu. Ah, ini kayaknya cocok dapat predikat the most drama-oriented relationship! Sejak kecil, saya dan Ibu kerap berbeda sikap dan sudut pandang… dalam berbagai hal! Setelah saya menikah, barulah saya paham apa yang melatarbelakangi pilihan-pilihan beliau yang kerap membingungkan—kalau nggak bisa dibilang tak masuk akal. Salah satunya, bertahan dalam pernikahan yang nyaris tanpa komunikasi dan kehangatan. I love them both, but I personally think Mom and Dad should’ve talked more as a married couple. 

Contoh lain: saya dan sahabat. Setelah kini berkeluarga, persahabatan bukanlah sekadar ajang kongkow dan clubbing bareng. Kuantitas pertemuan kini tergantikan dengan kualitas. Tidak apa-apa tak bisa ketemuan tiap hari, asal sekalinya ngopi bareng bisa curhat dan diskusi sepuasnya soal kehidupan, termasuk anak, karier, pasangan, sampai isu-isu sensitif. Beberapa cara pandang sahabat bikin saya menaikkan atau bahkan mengerutkan alis. Kadang saya sampaikan ketidaksetujuan tersebut, kadang saya hanya membalasnya dengan senyum simpul aja dan memutuskan bahwa ia harus mengalami sendiri untuk tahu apa yang bikin saya nggak setuju.

Dari seluruh pengalaman itu, saya jadi paham, bahwa apa yang baik buat saya, belum tentu baik buat orang lain. Bahwa dengan siapapun kita menjalin hubungan, perbedaan itu ada dan akan selalu ada. Jika dengan orang terdekat saja bisa berbeda pandangan, apalagi dengan teman, kolega, bahkan strangers in social medias.

Lantas, bagaimana cara menghadapi ini? Nggak mungkin kita jadi ansos (baca: anti sosial) ‘kan? Karena, fitrah kita sebagai manusia ya makhluk sosial—sadar maupun tidak, kita selalu butuh bantuan dan kehadiran orang lain. Oleh karena itu, satu hal yang harus kita tekankan dalam hati, hubungan awet terjadi bukan karena nihil perbedaan, tapi karena kemampuan kita menghargai perbedaan.

Yep, the key is respect the differences.

Sering kali kita temui orang yang mengaku sudah menerapkan saling menghargai perbedaan, tapi kelakuannya nggak mencerminkan itu. Dalam perbincangan, ia kerap menyerang, menyalahkan, dan berakhir dengan membicarakan kejelekan teman ngobrolnya di belakang. Sikap seperti itu tentu bertolak belakang dengan nilai sesungguhnya menghargai perbedaan. Karena dengan menghargai perbedaan, kita semestinya:

  • Menyadari dan memahami bahwa sudut pandang orang bisa saja berbeda
  • Mampu berargumen secara sehat
  • Tahu kapan harus berhenti ngotot (at a certain point, agree to disagree)
  • Nggak “drama”
  • Mampu tenangkan diri dan beri jarak ketika kondisi memanas

Nah, bagaimana ya agar menghargai perbedaan nggak sekadar slogan manis?

Yang paling sederhana adalah memperhatikan cara kita berinteraksi, terutama dengan mereka yang sudah kita ketahui berbeda. Bisa berbeda keyakinan maupun berbeda suku dan latar belakang keluarga.

Contoh paling simpel nih… kita ‘kan tinggal di bumi Indonesia yang menjunjung keberagaman. Dengan begitu, sangat tidak bijak ketika kita menyalah-nyalahkan kebiasaan suku, agama, maupun ras lain yang berbeda dengan kita, walau kita merasa apa yang diyakini selama ini benar. Ingat, benar buat kita belum tentu benar buat orang lain, lho.

Tak hanya berdampak hubungan jadi langgeng dan tahan lama, sikap menghargai perbedaan membuat kita jadi nggak menumpuk musuh. Hati lebih tentram dan hidup pun lebih bahagia. Ke depannya saya optimis cara ini bisa menyelamatkan banyak hubungan dari kandas di tengah jalan, bahkan mengurangi angka perceraian.

Jadi, mulai sekarang biasakan untuk tidak panasan dalam menyikapi perbedaan. I know it’s not easy. Tapi ingatlah, jika kita berhak memiliki pendapat, begitu juga orang lain. Argue to find solution, not to bring people down.

 

*) Feature image: Jonas Weckschmied

 


Tags: , , ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>