Masalah Keuangan yang Bikin Gaji Cepat Habis


blog sittakarina - masalah keuangan bikin gaji cepat habis

Baru saja gajian tapi keuangan sudah menipis?

Coba lihat, sudah berapa kali kondisi seperti itu terjadi saat menerima gaji? Sekali saja, karena pas bulan lalu bayarin anniversary trip Mama-Papa ke Thailand. Nah, ini aman. Tapi, kalau hal kayak begini sudah terjadi lebih dari 4 bulan, hmm… berarti ada masalah keuangan yang perlu dievaluasi dan tentunya diperbaiki.

Kenapa sih saya sering kali peduli banget terhadap hal-hal “sederhana, tapi penting” begini? Alasannya simpel, agar masalah ini tidak tumbuh jadi kebiasaan dan akhirnya menggerogoti keuanganmu.

Jika gaji selalu habis untuk utang dan konsumsi, maka nggak ada yang tersisa dong buat donasi kemanusiaan (salah satunya, zakat) dan investasi.  Khusus buat yang terakhir, kita sudah tahu ‘kan bahwa inflasi yang mendorong kenaikan harga barang terus menanjak tiap tahunnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya signifikan dengan tidak sekadar menyimpan uang (menabung), tetapi melipatgandakannya. Salah satunya dengan berinvestasi.

Terus, harus bagaimana dong jika belum ada tanda-tanda kenaikan gaji?

Cara paling masuk akal adalah dengan menghemat uang yang ada, serta memangkas berbagai masalah keuangan berikut:

  • Tidak ada perencanaan keuangan. Mulai sekarang buat daftar rencana dalam mengelola keuangan bulanan. Nggak perlu ribet, cukup anggarkan berapa % target alokasi untuk kebutuhan pokok, lifestyle, donasi kemanusiaan, serta tabungan dan investasi.
  • Pengeluaran lifestyle yang tak disadari. Dompet dan saldo uang elektronik sering “bocor halus” untuk membeli hal-hal di luar kebutuhan utama:  lunch mahal, camilan sehat, kopi… tiap hari! Makan siang bisa diakali dengan membawa bekal dari rumah yang tentunya lebih sehat. Camilan berlabel sehat yang bahan bakunya bukan berasal dari tanah air sering kali harganya tinggi. Coba ganti dengan buah potong seperti pepaya dan semangka. Sedangkan untuk kopi, daripada beli coba belajar racik sendiri.
  • Tidak membayar lunas tagihan kartu kredit. Jadikan kartu kredit sebagai alat untuk memudahkan pembayaran, bukan sarana berutang. Memiliki kartu kredit berarti tidak harus membawa segepok uang di dompet dan bisa jadi alat bayar praktis saat bepergian ke luar negeri. Soal membayar tagihan, tetep dong lunas tiap kali periode tagihan!
  • Banyak utang konsumtif. Membeli barang-barang konsumsi dengan berutang tanpa menilai skala prioritasnya tentu akan menggerogoti pendapatan kita. Sebaiknya berutang hanya untuk kebutuhan primer, misalnya KPR atau kredit kendaraan bermotor. Atau, jika ingin berutang, coba jenis utang produktif. Misalnya: Lika mengambil KPR untuk membangun kos-kosan 5 kamar. Dari total sewa kamar kos didapatkan Rp10.000.000 per bulan. Sedangkan, biaya operasional kos-kosan dan cicilan KPR bulanan sekitar Rp8.000.000. Dengan arus kas positif seperti ini, ibaratnya cicilan KPR Lika dibayarkan oleh para penyewa kos-kosan.

Bicara soal keuangan, yang menjadi prinsip saya ada 3 hal: kontrol diri, pengetahuan, dan kesabaran. Selalu letakkan kebutuhan di atas keinginan, walau praktiknya memang nggak semudah itu.

Selain itu, jangan berhenti belajar bagaimana cara melipatgandakan aset yang salah satunya dengan berinvestasi.

Pastikan juga kita mampu bersabar dalam membuat keputusan finansial penting (bukannya dikendalikan oleh emosi sesaat), serta bersabar juga untuk menunggu hasil kerja keras selama ini.

Masalah keuangan seperti apa yang selama ini jadi kelemahan dan “godaan”-mu? 😆

 

*) Feature image: Alice Pasqual


Tags:


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>