Melukis Panorama atau Melukis Kata?


thedreambeing

Saya selalu jatuh cinta dengan melukis, apa pun caranya. Ketika dulu waktu masih lengang, rentetan tanggung jawab tidak sebanyak sekarang, saya suka melukis. “Satu jenis kegiatan dengan dua muka”, saya menyebutnya. Karena melukis yang saya suka tuh ibarat koin dengan dua sisi; melukis kata (menggunakan pen) dan melukis panorama Indonesia (menggunakan oil atau cat minyak).

Satu lukisan panorama Indonesia selesai (yang saya ingat saat itu adalah lukisan “Candi Sukuh, Jawa Tengah”), langsung saya titipkan ke Nenek Ade yang berangkat ke Den Haag, Belanda, untuk mengikuti Pasar Malam Besar Tong-Tong. Beliau berjualan segala pernak-pernik khas Indonesia (termasuk lukisan saya) di situ.

Kini, sedihnya, saya hampir tidak punya waktu untuk melukis panorama. Tapi untungnya saya masih sempat menulis kata alias menulis. Semua panorama (tidak hanya Indonesia, tapi juga “dunia dongeng”) saya tumpahkan dalam permainan kata, bukan lagi permainan warna di kanvas. Asyiknya sama. Dan ini membuat saya tetap waras dengan terus menyalurkan, mengeluarkan segala konversasi para tokoh yang bersahutan di kepala (I’m prettty sure Sigmund Freud will agree with this!).

Melukis kata—menulis–membuat  saya mampu memaksimalkan performansi otak kanan dan kiri. Tidak hanya nyeni saja, atau tidak hanya science saja. Walau saya suka berkecimpung di ranah fiksi, sesekali saya mengeksplorasi dunia non-fiksi dengan membuat esai tentang kehidupan remaja di majalah CosmoGIRL!. Saya sengaja mengajukan ini ke Mbak Reine (Pimred majalah CosmoGIRL! Indonesia) karena bagi saya yang namanya tantangan tuh nggak hanya seru tapi juga “vitamin” buat otak kita.

Saya pernah punya pengalaman manis; melukis panorama dan melukis kata secara berbarengan. Dulu ketika masih kecil, saya suka bermain-main sendiri di taman umum di seberang rumah Eyang di Jl. Sukabumi, Menteng. Pengalaman bermain saat itu terasa berbeda; pohon-pohon di sekitar saya terlihat tidak berwarna hijau namun keunguan. Rimbunnya tetumbuhan di taman umum membuat saya merasa sedang “tersesat” di dalam hutan peri. Ketika saya mendangakkan kepala, gugusan awan tengah bergeser dan langit cerah langsung terlihat. Saat itu juga saya berharap melihatnya: “Mana istana di langit itu? Mana? Yaaaah, kok nggak ada!”

Saya masih kecil dan tidak mengerti Bahasa Jepang. Tapi saya baru menonton film animasi Jepang yang kaset videonya baru dibelikan Aki (panggilan untuk Kakek Mara Karma yang sebenarnya asli Bukittinggi, namun menikah dengan Nenek yang asli Sunda). Filmnya tidak memiliki teks Bahasa Indonesia, sehingga orang dewasa yang menemani saya menontonnya juga tidak mengerti. Tapi saya menikmati adegan demi adegan yang disuguhkan, dan yang paling berkesan ya si “istana di langit” itu. Saya melukis panorama istana itu di kepala saya, serta kata-kata “istana di langit” juga tidak pernah luput dari ingatan.

Sampai sekarang saya masih melakukan itu sebagai penulis. Capture the moments, capture the view, landscape, and scenery, and translate them into words—eerily beautiful, unusual words! Kalau tukang kayu selalu berkarya dengan kayu-kayunya, maka “tukang kata” alias penulis akan berkarya dengan kata-kata.

Hampir dua puluh tahun kemudian si “istana di langit” yang masih jelas dalam ingatan, kini menjadi inspirasi bagi Istana Aswatthaya dalam trilogi fantasi Magical Seira karangan saya.

Lalu, tiba-tiba saya melihat cover DVD dengan gambar dan judul film yang sangat familier: Laputa, Castle in The Sky.

Saya telah menemukan “istana di langit” versi saya! 🙂

*) Featured image via The Dream Being


Tags: , , ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


One Response

  1. setya dwi winarna

    salamBeberapa hari ini saya terganggu dengan sebuah keinginan kuat untuk melukis dengan kata-kata tapi saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, tanpa ragu saya berjalan sekitar 200 ke arah timur dari rumah ada warnet sampai saya temukan artikel ini, saya benar-benar ingin tahu, dan untuk saat ini apa yang harus saya lakukan, terima kasihwinarna