Nyanyian Pasir – sebuah cerpen


Naura yakin, hari-harinya di Bali takkan seseru di Jakarta.

“Tutup dong pintunya!”

“Udah, Ra.”

“Jendela?”

“Cuma setengah. Kalo semuanya bisa-bisa kita kekurangan oksigen.”

“Bali panas banget. Kok elo kuat sih, Put?”

“Seluruh dunia panas, kalee? ‘Kan global warming, Ra.”

“Jakarta nggak sepanas ini, Catur.”

“Hei, Ga. Ini ada yang minta di ship back ke Jakarta. Paket kilat aja kali, ya. Rewel melulu, sih!”

“Hahaha, kok gue? Gue nggak usaha kargo. Bisnis gue ‘kan studio band ini.”

“Makanya dibenerin dong, Gash. Berisik, tau?” Naura menutup obrolan ini dengan bentakan sarat rasa frustrasi.

Suara desir angin di Jimbaran terlalu berisik bagi telinga Naura. Sangat menyebalkan melatih vokal di studio yang letaknya di pinggir pantai—dan satu-satunya pula di Badung!

Jakarta.

Betapa kangennya Naura pada Jakarta yang macet, namun mengungkungnya dengan sudut-sudut familier. Bali awalnya asyik bak liburan tiada akhir, tapi lama-kelamaan Naura kangen pada realita dan bosan dengan liburan.

Naura kangen teman-teman sekolahnya. Ia merasa kehidupannya yang sempurna di Jakarta direnggut paksa oleh kepentingan bisnis Papa.

Sayangnya Naura harus menetap di Bali dalam waktu lama. Papa mengurus bisnis penginapan di sekitar Jimbaran dan udara pantai dianggap baik untuk penyakit asma yang Naura idap. Mama yang seorang seniman happy berat mengetahui Ubud hanya berjarak beberapa kilo dari tempat tinggalnya kini. Sedangkan Aldo, adik Naura, akhirnya bisa benar-benar menekuni hobi impiannya: berselancar.

Hanya satu yang membuat Naura mampu bertahan hingga detik ini: ia bergabung dengan Dark/Blue, rock band yang didirikan Anggastha—Angga—sang gitaris yang kesabarannya membuat gadis ini kerap merasa terintimidasi.

Proses adaptasi Naura berjalan tanpa kendala. Namun, selalu saja ada yang kurang berkenan di hatinya, walau ia dikelilingi teman-teman baik nan seru.

Bali yang terlalu panas, studio band yang tidak sesuai standarnya, basis yang gonta-ganti melulu padahal Kuta Art Festival sudah di depan mata, serta yang paling menyebalkan: pergaulan di Bali tidak seseru di Jakarta.

Di mata teman-teman barunya—Anggastha, Puput, dan Catur—Naura terkenal rewel. Alasan mereka masih betah berada di dekatnya tak lain karena Naura memiliki suara bening sekaligus lantang yang sesuai dengan karakter Dark/Blue.

Tambahan dari Angga: ”Suara Naura tuh Hayley banget!”.

Yang dimaksudnya tak lain adalah Hayley Williams, pentolan band Paramore.

Usai latihan, Puput si kibordis pasti jadi yang pertama menghambur ke pantai seraya membuka T-shirt dan celana pendek. Tiap hari ia selalu merangkap bajunya dengan sepasang bikini. Ia tahu kapan waktu yang tepat untuk mandi matahari di Pantai Jimbaran agar terhindar dari sahutan jail sebagian turis domestik.

Sikap cuek dan liberal Puput sebenarnya sudah terlihat dari nama lengkapnya yang terdengar berat: Puput Prameshwari Camdenhall. Bapaknya orang Skotlandia, sedangkan ibunya campuran Jawa-Bali. Menurutnya, salah satu sisi seru tinggal di Bali adalah ia bebas berbikini-ria; sesuatu yang bikin heboh saat dilakukannya di Pantai Anyer.

Catur si drummer ikut menyusul Puput ke bibir pantai. Mengenakan celana bermuda dan fedora hat sembari bertelanjang dada. Tangannya menenteng ringan kaleng soda. Ia bersiul, menikmati dunianya sendiri. Catur selalu seperti ini; santai dan susah serius. Untungnya, selama ini Angga menjadi penyeimbangnya.

Naura, seperti biasa, melenggang keluar sambil bersungut-sungut.

Dan Angga tak pernah bosan menggodanya, walau kadang diiringi senyuman getir. Bagaimana mungkin Naura tahan mengomel walau kerap berakhir dengan kambuhnya asma yang diidapnya?

“Nggak capek ya ngomel melulu?”

“Nggak capek ya nanya-nanya melulu?” Naura membalas ketus. “Gue punya semua alasan untuk kesal. Salah satunya kita nggak nemu juga basis yang cocok. Gonta-ganti melulu kayak beha!”

“What?” Angga langsung mengakak mendengar perumpamaan yang dipilih perempuan berambut ikal menggemaskan yang ingin sekali ia sentuh.”Oh, about that. Problem solved. Sudah ada penggantinya. Namanya Nikolas. Penampilannya di PL Fair Jakarta tahun lalu bikin heboh saking kerennya.”

“I miss PL Fair,” potong Naura, cemberut.

Tiba-tiba Angga teringat sesuatu. Ia memiliki kejutan buat Naura.

“Sini, Ra. Got something for you.

“Mau berjemur bareng Puput dulu, ah.”

“Ayo, sini. Ini nantinya bisa dijadiin temen berjemur.” Senyum Angga begitu cerah.

Naura mengalah, mengikuti Angga yang tengah melintasi jalan raya.

Saking gembiranya, Angga tidak menyadari ada mobil melaju kencang dan tabrakan itu pun terjadi.

Naura terpaku. Napasnya serta-merta seberat langkah kakinya. Lalu, dunianya menjadi gelap sama sekali.

“Ampu… tasi?”

Jantung Naura bagai dipelintir mendengar kondisi terkini Angga. Sejak kecelakaan yang menimpanya, tiap hari Naura berkunjung ke rumah sakit dan selalu ditolaknya.

Tidak ada kabar maupun cerita.

Sampai hari ini.

blog sittakarina - nyanyian pasir cerpen 2Foto: Charlotte Lapalus

“Ya, kaki kanannya. Mulai dari lutut ke bawah. Maaf ya Naura, selama ini Angga memang tidak ingin bertemu siapa pun. Tapi, hari ini dia tiba-tiba menanyakanmu.”

Naura tidak habis pikir bagaimana mamanya Angga dapat berbicara setenang ini, padahal masa depan anaknya kini telah hancur!

Tiga hari sejak kecelakaan yang menimpa Angga, Dark/Blue tetap berlatih seperti biasa bersama si basis baru. Ini permintaan khusus Angga yang saat itu enggan dikunjungi teman-temannya.

Kecelakaan yang menimpa Angga sungguh tragis sekaligus aneh. Biasanya tidak ada kendaraan ngebut di sepanjang Jalan Pantai Jimbaran dan Kedonganan mengingat daerah itu selalu dipadati turis.

Pengemudi mobil sewaan yang menabraknya adalah seorang turis Australia yang kebanyakan menenggak tiga botol whiskey di siang hari bolong. Ia langsung diamankan polisi dan menyesali ulahnya setelah tak lagi mabuk. Ia berjanji membiayai seluruh pengobatan Angga sebagai wujud penyesalan walau tahu itu tidak akan mengembalikan kaki Angga.

Naura tak habis pikir, bagaimana mungkin Angga yang baik hati mendapatkan hadiah kehidupan sekejam ini?

“Hei, Gash…” Naura menahan napas. Penampilan Angga di depannya terlihat kacau—tubuhnya mengurus dan tak ada lagi kerlip semangat pada bola matanya. Namun, tentu saja Naura tidak akan menyuarakan itu.

Angga tetap diam, tidak menoleh ke arahnya.

“Ini buat kamu…” Naura memberikan sebuah kulit kerang besar yang kondisi cangkangnya masih utuh.

“Tumben sekarang jadi marine biologist. Udah bosen jadi vokalis di band yang nggak seru ini?”

Akhirnya Angga bersuara.

Sebelah alis Naura refleks terangkat. Ada yang janggal dari nada itu. “Ini tugas Biologi kelompok kita,” ucapnya. “Jangan sarkastis, ah. Itu bukan kamu.”

Ya. Seorang Angga sarkastis dan ketus? Kok jadi terdengar seperti dirinya, ya?

Naura merenung sesaat; apakah tiap hari ia terdengar menyebalkan begini?

Terdengar  lagi gelak tawa pahit dari pemuda yang duduk di atas tempat tidur berbau steril di depannya.

“Gue punya semua alasan untuk kesal…”

Naura terkesiap mendengar bisikan Angga yang selama ini justru meluncur dari mulutnya.

Tentu saja Angga lebih layak melisankan ini—Angga telah kehilangan kaki kanannya!

“Kerang apa ini?”

blog sittakarina nyanyian pasir cerpen 4Foto via Pinterest

Sesaat dada Naura berdegup keras lantaran Angga tampak tertarik berbincang dengannya.

“Charonia tritonis. Triton’s trumpet.” Naura menempelkan lubang kerang besar itu ke telinga Angga. “Dengar, deh. Menurutmu, ini suara angin pantai atau ombak di lautan?”

“Bukan dua-duanya,” jawab Angga, kalem. “Ini suara aliran darah di dalam kepala kita.”

“Oh ya? Baru tau.”

“Tau nggak kenapa namanya Triton’s trumpet?”

Naura menggeleng. Ia sama sekali bukan pencinta pelajaran biologi.

“Pada mitologi Yunani, Triton, anaknya Poseidon si dewa laut, memiliki kerang seperti ini yang memiliki kekuatan untuk menciptakan ombak saat ditiup. Maka itu, namanya terompet Triton.”

“Kamu akhirnya mau jadi marine biologist atau sejarawan, sih?”

“Masih nggak yakin soal itu.”

“Nggak yakin melulu…”

“Ada sih yang gue udah yakin.”

“Apa?”

“Kamu.”

“Gastha…”

Keduanya rikuh diliputi keheningan mendadak itu. Hanya suara ombak memecah karang di luar jendela yang sayup-sayup terdengar.

“Ra, kenapa sih elo benci studio gue? Karena berisik… atau karena itu bukan di Jakarta?”

Naura bungkam sesaat dan ketika bersiap membuka mulut, Angga langsung memotongnya,”Menurut gue, suara berisik angin menyapu pasir bukan gangguan. Jadikan itu nyanyian alam yang mendukung mood elo saat latihan.”

“Itu ‘kan elo…”

“Naura, elo mau melihat sesuatu dari sudut pandang yang mana? Enak, atau nggak enak? Your call. Tapi, kita sama-sama tahu, sesuatu yang negatif nggak akan melahirkan hal positif.”

Naura hampir membuka mulut untuk mendebatnya, namun tidak jadi.

“Tolong atur jadwal latihan harian kita bareng Nikolas mulai besok ya, Ra. Gue akan menyusul pas latihan akhir minggu.”

“Tapi, gue—“

“See you this weekend, Naura.”

Untuk pertama kalinya Naura tidak berani seenaknya membantah perkataan Angga.

Dan yang paling spektakuler, untuk pertama kalinya juga ia melewati hari tanpa mengomel sama sekali.

Tanpa Angga, Naura bak kehilangan sandaran kokoh. Catur yang biasanya santai kini benar-benar cuek; tak ada Angga yang mengingatkan untuk latihan sepulang sekolah. Puput juga terlihat tidak bersemangat lantaran Angga, gebetan abadinya, masih dalam masa pemulihan.

Belum lagi soal Nikolas si personel baru. Angga tidak pernah mengatakan bahwa Nikolas adalah pribadi yang amat tertutup walau, yeah, petikan gitar basnya memang mantap. Naura jadi kesulitan mengkoordinir semuanya seorang diri.

Tiap latihan selesai, Nikolas langsung menghilang. Tidak pernah ikut nongkrong minum es kelapa atau makan lobster bareng di tepi pantai. Padahal, Naura ingin mengenalkan konsep lagu-lagu yang dibawakan Dark/Blue; pendekatan sama yang pernah Angga lakukan saat ia pertama kali bergabung. Namun, ia belum juga berhasil. Nikolas tampak tidak ingin mengenal  personel lain lebih dekat, seolah-olah keakraban mereka hanya terjadi di dalam studio saja.

Latihan intensif terus berlangsung walau Angga tidak hadir di situ. Bukan hanya basis, kini gitaris pun cabutan juga. Sosok yang tak lain adalah Yarra kakaknya Puput. Sayangnya, Yarra tidak akan mewakili Angga di Kuta Art Festival karena harus kembali ke Skotlandia pada hari H.

“Ayo dong, Put. Jangan sunbathing melulu. Kulit elo udah tan gitu. Udah keren, kok,” Naura membujuknya.

Puput hanya sedikit menoleh, tampak terganggu.

“Nggak ada Angga ya nggak ada Dark/Blue.”

Ketika Naura menoleh ke sebelah kiri, berharap Catur tidak setuju dengan pernyataan dingin tersebut, cowok ini malah tetap asyik memetik gitar akustik dan bersenandung seorang diri. Intinya, Naura sukses dicuekin.

Naura pun tertegun. Mengapa Puput dan Catur jadi ketus kepadanya? Bukankah yang ia lakukan untuk kepentingan band, kepentingan mereka juga?

“Nggak ada yang bisa gantiin posisi gitar Angga. Perpaduan suara elo dan gitar Angga ibarat nyawa Dark/Blue.” Tiba-tiba Catur berhenti bermain gitar dan suasana di antara mereka sontak serius. “Seandainya elo bisa bersikap lebih baik ke Angga, ke kita semua… Anak Jakarta.

Ketika Catur menekankan julukan itu, spontan Naura merasakan sayatan perih di hatinya. Baru kali ini ia menyaksikan teman-teman barunya sekesal ini kepadanya.

blog sittakarina - nyanyian pasir cerpen 3Foto via Pinterest

Saat merasa terpojok, Naura pun semakin ingin kembali ke Jakarta. Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk  merealisasikannya. Tidak peduli apa kata Papa dan Mama.

Gue punya semua alasan untuk kesal.

Naura mendadak teringat itu. Kalimat yang belakangan jadi populer, tak hanya dilisankan dirinya, tapi juga oleh Angga.

Lalu, ia menebar pandangannya ke panorama pasir putih di depannya sampai ke ujung cakrawala. Indah. Menakjubkan. Bagaimana mungkin ia bisa membenci semua ini, hal-hal yang tidak akan ditemuinya di Jakarta?

Tiba-tiba tukang kebun yang sudah jadi langganan keluarga Angga lari tergopoh-gopoh ke arah mereka. “Studio kemalingan! Studio kemalingan!” serunya.

Ketika mereka sampai di muka pintu yang terbuka lebar, Angga sudah lebih dulu berada di situ, di atas kursi rodanya bersama seorang perawat rumah sakit. Ia memandangi tempat kesayangannya yang kosong dengan raut tegang, tampak berpikir keras sampai urat-urat di keningnya menonjol. Tak satupun perlengkapan latihan—mulai dari instrumen sampai amplifier—tersisa.

“Siapa yang terakhir megang kunci studio?” tanya Angga.

“Nikolas,” Puput menjawab pelan. “Gue yang ngasih.”

Segera saja Puput hubungi ponsel si basis cabutan dan tentu saja nomor tersebut sudah tak dapat dihubungi lagi. Hampir saja ponsel itu Puput banting ke lantai saking kesalnya.

“Maaf ya, Ga. Maaf banget. Gue nggak tau—“

“Sudah, Put. Nggak apa-apa. Elo ‘kan nggak sengaja.”

Naura tertegun mendengar itu. Nggak sengaja? Angga gila, apa? Kejadian separah ini hanya dianggap ketidaksengajaan?

“Mungkin kita emang nggak boleh ikut Kuta Art Festival,” tutur Angga getir.

“Kalaupun ikut, elo mau main gitar gimana, bro?” Catur berusaha berempati.

“Di kursi roda.”

Semuanya terkejut—prihatin, takjub, juga takut. Sorot mata Angga galak banget saat ini. Orang juga mikir mau mengasihani dirinya.

“Gash…” Naura mengikuti Angga pergi dengan ragu.

“Jangan panggil gue Gastha, Ra. Cuma nyokap dan pacar gue aja yang boleh.”

Naura spontan mematung dibuatnya. Entah sudah kali ke berapa Angga menyindirnya soal ini lantaran Naura tak ingin menjadi pacarnya. Niatnya datang ke studio ya untuk nge-band, bukan pacaran.

Kuta Art Festival tinggal enam jam lagi. Nanti sore tepatnya. Angga berdiri seorang diri di tepi jendela studio. Perlahan ia tutup jendela kayu itu agar suasana di dalam tidak berisik, tanpa disadari melakukan sesuai keinginan Naura selama ini.

“Gastha!” Pintu studio pun terbuka keras.

Muncul Naura, Catur, Puput, dan seorang lagi yang wajahnya tidak Angga kenal di situ.

“Ini Dinno. Basis baru lagi. Sudah tanda tangan kontrak di atas materai biar kita bisa menjarain dia!” Naura berseru tanpa titik koma.

“Eh? Gue cuma mau nge-band aja, kok.” Dinno tersenyum grogi mendengar ultimatum tersebut.

Angga masih bengong, tidak mengerti segala kehebohan yang berlangsung di hadapannya.

“Ayo dong, Gash, jangan diam aja!” seru Naura lagi. “Semua sudah menunggu. Kita ke Kuta Art Festival sekarang pakai instrumen sewaan. Kita hidupkan lagi studio band seperti dulu. Kita akan terus bersama-sama dalam Dark/Blue!”

Puput menutup kedua telinga seraya tersenyum lebar. “Setidaknya suara keras elo bukan buat ngomel.”

Raut datar Angga berubah jadi penuh haru, rona cerahnya pun kembali lagi. Ia arahkan kursi rodanya ke tempat teman-temannya berdiri, lalu menahan tangan Naura sebelum cewek ini ikut berlari ke mobil.

Terima kasih, Ra. Gue selalu bermimpi suatu saat Dark/Blue akan sehebat Paramore.” Tatapan menerawang Angga terasa menyihir sukma Naura.

“I am Naura, not Hayley.” Naura merasa perlu menegaskan ini sekali lagi. Ia ingin Angga melihat dirinya—mendengar suaranya—apa adanya.

“Siapa bilang aku minta kamu jadi Hayley?” Angga menyentuh kecil bibir Naura,“Mulut ini… lebih baik dipake buat nyanyi daripada ngomel.”

Naura sempat tersipu. Ia palingkan kembali wajahnya ke arah studio terakhir kali sebelum berangkat. “Aku rasa aku jatuh cinta di sini.” Ia lalu teringat sesuatu yang penting. “Nikolas nggak bisa dibiarkan begitu aja, Gash. Dia itu mencuri stu—“

“Gue tau apa yang mungkin Nikolas lakukan, Naura. Tapi, fokus kita saat ini Kuta Art Festival. Abis itu baru ke kantor polisi.”

“Oh, kirain Nikolas dibiarin aja…”

“Kamu selalu meremehkan kemampuanku, Naura Hasto. Masih anggap aku kurang tegas?”

Well, itu…” Naura hanya mengulum senyum. “Mungkin aku harus melihat lebih banyak bukti, Gashta.”

“Mungkin kamu harus benar-benar membuka matamu.”

“Oke, oke. Tapi, mulai sekarang jangan larang aku panggil kamu Gastha, ya?”

Angga menatap langsung ke mata Naura—tatapan yang terlihat mendesak dan penuh pengharapan. “Kamu tahu konsekuensinya ‘kan?”

Naura tersenyum, mengangguk berhati-hati.

Desir pasir yang kini terdengar bukan lagi suara berisik di telinga Naura. Seperti kata Anggastha, itu sebuah nyanyian. ****

 

*) Ditulis oleh Sitta Karina, pernah dimuat di majalah CosmoGIRL! edisi Oktober 2010
**) Feature image: puravidabracelets.com



Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


3 Responses

  1. Lulu Hassan

    ini novel bukan ya… kalo mau bc lengkap di mana? 😊

    Reply
  2. Mianna

    Sukaaaa 😭😍 jadi baper nih kak bacanya! Lanjutin dong cerita naura angganya…

    Reply