Overheard: Rangga, Denis, dan Satu Hati


Folder-denisha-rangga2

Menurut Denis, melakukan hal kecil yang nggak ‘mainstream’ tapi berdampak positif itu keren!

Tipe weekend stereotipe yang saya suka: nongkrong, makan, sambil kerja menjelang senja. Sekadar me-time 3-4 jam di luar rumah. Nibbling bowls of guilty pleasure which I voluntarily avoid during weekdays; Hakau and Pangsit Goreng Mayones. Tidak ada yang berubah dari sudut familier di sini: keluarga yang berakhir pekan, teman segeng yang asyik ngobrol, sampai sekelompok-sekelompok orang pacaran dengan ekspresi kosong; pikiran–dan jemari–masing-masing sibuk melakukan aktivitas lain.

Pekerjaan lain saya selain menulis: menjadi people observer. Asyik sekali menerka-nerka maksud ekspresi orang; bahwa menggigit bibir tidak selalu karena senewen melainkan bisa juga lust (yes, you. The grey polo shirt guy who just lit a cigarette while starring intensely at his GF), bahwa menguap bukan berarti bosan tapi hanya ingin segera pulang, berpamit dari dunia, dan cuddling in each other’s arms.

Dan saya dapat pemandangan gratis. Dua remaja duduk di meja sebelah saya. Kayaknya anak kuliahan. Mereka mengeluarkan setumpuk kertas dan map, mengingatkan tugas kuliah saya dulu yang seabrek. Meja mereka didominasi kopi dan semangkok Hakau–pokoknya porsi irit banget. Come on, ’tis supposed to be a lazy day, kids! pikir saya. Ketika saling memanggil, saya menangkap kedua nama mereka.

Rangga dan Denis.

Cantonese-dim-sum-01_leading

“7-Eleven itu nama yang biasa tapi efeknya luar biasa. Apa ya nama yang cocok buat brand kita? Urban Outfitters-nya Indonesia nih!”

Brand? Oh wow, rupanya mereka sedang menggarap bisnis. OK, kegiatan menguping pun dilanjutkan.

“Elo kan desainernya, Nis. Gue si tukang jualan. Elo yang paling tahu ‘denyut nadi’ koleksi baju kita. Ntar gue yang door-to-door nawarin ke anak-anak. Inner circle kita dulu, lah. ” Saya melihat semangat membara di wajah Rangga dan sangat suka melihat cowok memiliki determinasi kayak begini.

Denis terlihat girang. Dan baru saja ia akan membuka mulut, Rangga kembali bicara dengan mimik yang masih sama seriusnya,”Jangan kayak ‘Paperdoll’, ‘SkinnySass’, atau sejenisnya. Elo kan suka yang girly kayak gitu. Remember, I’m in this too.

Denis cuma siul-siul. Gaya dia asyik, harus saya akui. Berpakaian serba hitam tapi tidak mencerminkan gothic look. Malahan dia terlihat seperti young Roitfeld. Mungkin dia seorang intern fashion journo atau anak ESMOD.

“Eh, coba lihat ini deh.” Denis memindahkan MacBook tergesa-gesa ke depan Rangga. “Lagi happening banget di timeline gue.”

“Satu.. hati?” Rangga mengejanya. Cowok ini terlihat nggak terlalu peduli. Kayaknya dia BT karena bahasan awalnya soal brand mereka nggak dianggap serius ama si cewek.

“Lihat di bagaian halaman donate. Kita bisa pilih donasi yang kita mau… nyumbang buku, uang–HAAAA! Ini cocok banget buat lo, Ga! Lipsync!”

Homebanner1

Rangga mencermati layar MacBook. “Baru denger nih www.satuhati.com. Hmmm, gue jadi sukarelawan aja kayaknya. Elo?”

“Gue ingin melakukan beberapa hal. Pilihan di satuhati.com juga banyak kan; mulai dari nyumbang buku, uang tunai, RBT… anything but singing!” Denis tergelak. “Eh, tapi serius deh… menurut gue ini ide briliyan. Cara donasinya unik, nggak pasaran, dan gampang dilakukan. Dengan begini, anak muda jadi bisa ikutan juga.”

Saya menanti tanggapan Rangga. Ia tertawa hangat. Jenis tawa yang tidak hanya enak didengar tapi juga bervibrasi positif.

“Hey.. tapi bisnis kita belon jalan sama sekali nih… udah mikir jauh-jauh soal social responsibility aja.” Suara Rangga, saking pelannya, nyaris tidak bisa saya dengar.

“Melakukan hal kecil yang nggak ‘mainstream’ tapi berdampak positif itu keren, Ga. Apalagi tujuan project Satu Hati ini untuk mendukung pendidikan di Indonesia–teman-teman kita yang butuh support untuk sekolah. We’re talking about love for this nation. Aduh… tobat deh, sampai sekarang aja gue masih sering cabut. Apalagi kalau lagi keasyikan desain baju.”

Saya mengulum senyum. Baguslah kalau mereka punya cara sendiri untuk berbagi.

Setelah puas menggabung afternoon nibbles dan makan malam, saya pergi dari situ. Pada saat bersamaan, saya mendengar ucapan terakhir Rangga sebelum melangkah keluar dari teras Dim Sum Festival,”Hey Denisha… antara gue dan si mantan yang doyan ngabisin duit itu, elo tau kan mana yang lebih baik?”

Saya berhenti dan hampir berbalik badan. Whoa.. that’s not something a best friend should quote! Semoga mereka bisa profesional menjalankan bisnis tersebut… dan juga hubungan mereka. I’m really curious on what name they’d choose for their baby brand.

Rangga and Denis, you guys are my idols of the day!
 

PICTURES: SATUHATI.COM, YESCHINATOUR.COM, PRIVATE COLLECTION


Tags: , , , ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>