#POPWRITING: The Untold Lesson (Part 2)


blog-sittakarina-popwriting-the-untold-lesson-part-2

Sudah selesai baca #PopWriting bagian pertama? Lanjut ke ulasan kedua.

Sebelumnya, mohon maaf  karena lama banget update-nya. Belakangan ini banyak sekali kesibukan seiring dengan makin aktifnya Harsya dan Nara.

Berikut Q & A penting seputar menulis fiksi populer yang perlu kamu ketahui:

1. Boleh nggak sih langsung mulai menulis tanpa mengetahui tujuan dan perencanaan menulis?
Kalau kamu siap dengan ceritamu jadi berkembang tak karuan, go ahead :))

2. Bagaimana caranya memilih nama tokoh yang unik, bahkan memorable?
Cara pertama, pikirkan karakteristik/sifat utama si tokoh; apakah ia tenang, pendiam, sangar, sinis, atau ceria, lalu pilih nama yang menurutmu menggambarkan sifat tersebut.
Cara kedua, adalah cari pada daftar nama bayi yang tersebar di internet. Saya biasanya googling dengan kata kunci “Sanskrit baby names”.
Cara ketiga, nah.. yang ini cukup ekstrem. Saya pernah beberapa kali mencari nama di deretan batu nisan kuburan saat berziarah ke makam Ayah. Surprisingly, the newfound names are sooo beautiful!

3. Apakah tujuan kamu menulis cerita ini?
Ya, jangan lupa tanyakan itu kepada dirimu. Jawab di dalam hati saja, tapi ingat baik-baik jawaban itu. Karena nantinya itu yang akan menjadi landasan kamu berkarya serta penyemangat selama proses kreatif penggarapan cerita berlangsung.

4. Kok saya merasa kurang sreg dengan ide akhir cerita yang pernah saya susun sebelumnya? Boleh nggak ya buat yang baru lagi?
Boleh banget! Menyediakan beberapa alternatif akhir cerita dan memilih yang paling OK menurutmu, itu cerdas 😉

5. Saat mulai menulis cerita, saya malah “loncat” mengerjakan bagian peperangan dulu di bab 10, karena punya banyak ide (dan energi!) di situ. Apakah tidak apa-apa?
Yep. Tidak apa-apa. Asal ingat untuk kembali menulis secara kronologis lagi setelahnya.

6. Kak Sitta punya rujukan untuk melihat kosa kata Bahasa Indonesia, online please?
Sambil menulis, kedua tab ini, KBBI dan Tesaurus pasti juga terbuka.

7. Katanya dalam menulis cerita fiksi itu harusnya “Show, don’t tell”. Apakah kita harus mendeskripsikan melulu ya?
Tergantung kebutuhannya. Menurut saya, yang penting cerita tersebut terus berjalan ke depan. Cara membuat cerita itu berjalan bisa dengan deskripsi, bisa juga dengan dialog antar tokoh.

8. Dan yang terakhir, masih kebingungan membuat paragraf pembuka pada bab pertamamu?
Ingat ya, paragraf pembuka bisa berupa deskripsi singkat maupun dialog. Berikut beberapa contoh yang bisa kamu simak:

  • Liburan di tepi pantai kali ini seharusnya menyenangkan, sampai Andien menemukan bercak darah kering pada pintu
  • Ran mandi pagi seperti anak sekolah lainnya, pukul lima pagi. Yang membedakan, hampir tiap malam ia terjaga dan berpatroli dengan keris di tangannya.
  • Melihat Mario bertanding dengan baju tenis putih licinnya, membuat Ivy tergoda untuk menjadikannya kotor lagi.
  • “Ya. Carlo. Carlo Andara. Apakah saya harus ke Meksiko dulu agar nama saya dapat dieja dengan benar?”

Kini karyamu sudah siap dirampungkan!

Tak ada lagi alasan sulit memulai cerita fiksi populer atau popular writing ya 😉

*) Feature image via Ashley Creates Things


Tags:


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


One Response

  1. Thanks banget Kak Sitta buat kelanjutan dari bahan Pop Writingnya! Jujur, awal2 abis selesai seminar semangat banget, tp lama2 writer’s block itu kumat lagi dan sampai sekarang nggak tau mau nulis apa ): Semoga abis baca ini bisa balik lagi untuk lanjutin tulisan, sayang kalo nggak diselesain juga. Take care and stay awesome yah, Kak! =Jane Reggievia