Profesi Penulis Semakin OK!


blog.sittakarina.com_profesi-penulis-makin-ok

Tahun 2010 akhirnya menutup buku perjalanannya dan saya masih menjadi penulis.

Luar biasa sekali rasanya menjalani proses ini sejak usia 8 tahun (saat pertama kalinya saya menulis sebuah cerita) sampai sekarang dimana saya ke-17 novel saya sudah dibukukan dan tepat hari ini saya menyelesaikan cerpen ke-59, serta esai tentang remaja yang ke-14.

Dari dulu pertama kali menulisnya menulis ditemani segelas susu hangat (usia 8 tahun), Fanta merah (14 tahun), kopi dan Baileys (17 tahun), kopi dan (a bit of) Cocoa Old-Fashioned (22 tahun), dan kini cukup segelas kopi latte dingin saat usia 30 tahun (saya berhenti mengkonsumsi liquor sejak 7 tahun lalu). Saya bisa mengambil kesimpulan bahwa profesi penulis kini semakin berkembang, semakin dihargai dan semakin berdaya jual! Yes, cheers to that.

Penulis adalah pekerja kreatif. Sebuah karya kreatif dinilai harganya oleh si penciptanya, namun seringkali pasar di Indonesia berbicara lain. Dulu profesi penulis dipandang sebelah mata—dianggap tidak bisa menafkahi diri sendiri, apalagi keluarga, dianggap tidak bergengsi dan kalah dengan profesi “tukang insinyur”—dimana penilaian itu sebagian besar dilihat dari nominal penghasilan yang diterima penulis dalam menjual karyanya.

Dulu pun menerbitkan naskah susahnya setengah mati. Mengirim naskah ke penerbit, menunggu giliran dilihat editor (bisa sampai 1 tahun lamanya), dan mentok-mentoknya semangat si penulis biasanya pupus karena si naskah ditolak. Sejak tahun 2010, semua itu seakan berubah: menerbitkan naskah mudah (bisa lewat penerbit besar, kecil, atau bahkan menerbitkan sendiri), ditambahkan dengan dukungan media sosial seperti Twitter dan Facebook yang mempercepat penyebaran berita (termasuk tentang karya kita) tapi yang susah tetap satu, yaitu memasarkannya.

Ya, penulis adalah pemasar. Menurut saya, penulis tidak bisa hanya bergantung kepada penerbit untuk menjual karyanya. Yang paling tahu isi dan karakter tulisanmu ya kamu, maka kamulah orang yang paling tahu bagaimana cara mengemas karyamu untuk dipromosikan dan dijual.

Terus, gimana menjualnya? Siapa yang mau beli karya dari orang yang tidak dikenal siapa-siapa? Sambil kamu (terus) menulis, pada saat yang bersamaan kamu membangun namamu yang merupakan “merk” atau “produk”. Personal branding. Dan ini tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat apalagi instan. Kamu membangunnya, menitinya perlahan-lahan, waktu demi waktu, dengan kegigihan, kesabaran, and don’t forget to have fun along the way too!

Seorang penulis tidak hanya menjual karyanya, tapi juga membangun komunitas  bersama pembacanya, secara langsung maupun tidak langsung. Untuk menjual karyanya bisa dilakukan secara offline (di toko buku, bazar dan pensi sekolah, nitip di distro, dll) maupun online (melalui toko online maupun memanfaatkan social media).

Capek? Pastinya. Menulis saja sudah capek, ditambah menjual “dagangan” sambil membangun personal brand kita, berarti beneran dong ya bahwa penulis tuh nggak punya “kehidupan” dan suka menyendiri? Nah, itu adalah pendapat yang kurang tepat. Penulis menyendiri saat ia sedang menulis karena itu adalah suasana paling tepat demi memaksimalkan otak dan perasaannya dalam mengolah imajinasi dan pemikiran untuk kemudian dituangkan dalam tulisan. Menyendirinya sih bisa di mana saja—kafe, coffee shop, taman, atau sesimpel di kamar kita sendiri.

Dimulai dari booming-nya era social media di Indonesia selama 2010, profesi penulis di tahun depan bisa lebih gemilang. Selain harus produktif, tekun mengasah kreativitas, jadi pengamat “kehidupan” yang baik, dan jeli melihat peluang,  penulis dapat melakukan bermacam-macam pekerjaan yang dasarnya #menulis:

  1. Novel
  2. Cerpen
  3. Buku cerita anak
  4. Ulasan self-help dan life tipsbiasanya dimuat dalam koran dan majalah
  5. Ulasan perjalanan tulisannya bisa dikirim ke majalah remaja dan majalah wanita
  6. Esai biasanya dimuat dalam koran dan majalah. Esai tidak berarti harus membahas topik yang “berat”. Esai saya yang dimuat di majalah CosmoGIRL! edisi akhir tahun ini berjudul “Drama-Queen” 🙂
    Buku how-toapa passion-mu? Akan lebih mudah menulis buku panduan terhadap sesuatu yang kita suka sekali dalam hidupblog.sittakarina.com_cuplikan-ambrosia
  7. Product endorser in social mediakita membuat iklan mini tentang suatu produk di ranah media sosial, bisa di  Facebook, Twitter, blog, bahkan Youtube!
  8. Web content kita diminta menulis artikel yang isinya sejalan dengan situs produk tertentu
  9. Kumpulan puisi tulis puisinya, apresiasi bersama teman-teman pencinta puisi, kirim ke majalah atau bukukan menjadi buku kumpulan puisi!
  10. Blog isi blogmu bisa saja berupa sponsored post, yaitu tulisan blog yang disponsori suatu produk
  11. Pengajar pada workshop menulis
  12. Skenario film
  13. Copywriting
  14. Jurnalisme atau kewartawanan
  15. Ghostwriting menulis cerita, artikel, maupun jenis teks lain untuk kemudian karyanya diakui oleh orang lain

Terus, apa saja sih yang bisa dilakukan penulis—atau calon penulis—dalam berkarya?

  • Ciptakan cerita yang memorable—atau bahkan karakter yang memorable. I’m so happy that most readers love #Hanafiah !
  • Luangkan waktu tiap hari untuk menulis. To put it simple, one day = one page. Bisa dong? 🙂
  • Bikin website pribadi untuk meng-update karya-karyamu. Pertama kali saya bikin situs www.sittakarina.com adalah saat masih kerja jadi konsultan di Accenture. Ceritanya saat itu belajar coding sedikit-sedikit (walau akhirnya gagal). The web was pink all over!
  • Aktif mempromosikan karyamu (walau belum diterbitkan secara komersil), misalnya menjual bukumu dan mengadakan diskusi buku saat bazar dan pensi di sekolah
  • Bikin jejaring di media sosial dan selalu update tentang hasil kreatifmu. Bisa berupa akun Facebook, Twitter… dan isinya jangan curcol semua ya.
  • Naskahmu harus, harus, harus selalu diedit, siapapun penerbitnya. Kalau mereka tidak menyediakan editor, berarti kamu harus rela membayar jasa editor lepas untuk melakukan ini.
  • Penulis adalah pekerja lepas (freelancer). Harus dicamkan bahwa kontrak kerjasama antara penerbit dan penulis sebaiknya mengikat karyanya saja, bukan si penulisnya. Penulis berhak bekerja sama dengan pihak manapun; ia bukan hanya milik satu penerbit saja.
  • ……………………………….. (silakan kamu isi sendiri)

Tahun 2010, 2011, dan tahun-tahun mendatang pasti masih menyisihkan tempat bagi penulis. Untung saya tidak berhenti jadi penulis ketika naskah ditolak melulu dan merasa kurang puas dengan masalah royalti maupun honor. Selain karena menulis adalah passion saya, saya yakin dalam pekerjaan apapun, kalau dilakoni dengan “produktif dan kreatif” pasti akan membuahkan apresiasi tinggi bagi penciptanya, materi maupun non-materi.

Ahem, long live writers in 2011! *Champagne—oops, coffee mug toast*

*) Featured image via Etsy


Tags: , , , , , ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


10 Responses

  1. Thanks for the post kak sitta. Bikin saya makin pd buat nerusin hobi nulis 😊💪🏻

  2. kata ayahku, penulis pekerjaan yang cukup menyenangkan. kalau bukunya laku, bisa terus cetak. kayak Jane Austen atau NH Dini 🙂

  3. felicia

    mbak, bagaimana sih tips menulis novel????saya ingin menjadi penulis yg hebat seperti mbak!

  4. saya harus sering2 baca yang kayak begini nih biar inget terus cita2 saya adalah sebenarnya jadi penulis bukan jadi akuntan 😀

  5. wah,, inspiring bgt!! thx for sharing y mbk sitta… :)insya allah wanna be and gonna be a great writer…*pray for all writers*