Prom, Nidji and BGM


Pinboard

This is the power of BGM (background music) for my works.

Last night, after went back home from my friend’s wedding reception, I turned on my random playlist in Nokia X6 and landed on Nidji’s “Arti Sahabat”.

It was one of my favorite song, ever. The music clip described what a monumental Prom Night would like: friends, friendship, farewell, and hope–hope towards the future.

My fingers suddenly danced. A first draft of–what I’d like to call–PROM novella was born. Thanks to Nidji, thanks to my instant download (and legal) song, and of course thanks to my X6 cellphone.

Want to have a peek of the prologue? There you go, guys πŸ™‚

KAYANDHRA berkonsentrasi sesaat hingga sepasang sayap di punggungnya menghilang, kembali melebur dengan tubuh. Hari ini, seperti kebanyakan hari lain, ia merasa senang; seorang anak kecil berhasil menemukan kembali mainannya yang hilang dan tidak menangis, ibu muda yang sejak bulan lalu terus menangis karena suaminya meninggal kini bisa tersenyum ikhlas, serta seorang gadis berhasil menciptakan surprise party yang indah untuk sahabatnya—dan semua itu terjadi berkat bantuannya!

Kay pun melepas “Jubah” yang melingkupi tubuhnya, sebuah kain transparan yang biasa ia pakai apabila bertugas ke Bumi agar dapat menyamar menjadi manusia dan blend in di antara mereka. Tanpa Jubah, seluruh makhluk hidup—termasuk manusia—dapat melihat wujud aslinya: berpakaian serba putih dan dikelilingi cahaya biru lembut.

Kay mengibaskan tangan kanan. Di depannya muncul layar besar yang menampilkan adegan-adegan di Bumi yang ingin dimonitornya. Ia tersenyum hangat tatkala melihat sekumpulan gadis baru keluar dari tempat bernama Sogo.

 

“Hey, Ash.. sudah tanya Mama, gaun seperti apa yang lagi happening buat Prom? Mama kamu kan desainer yang keren banget!”

“Belum, nih. Tunggu Mama, Papa, dan Reno pulang dari Bandung. Nanti malam harusnya sudah sampai.”

“Reno mau nggak ya jadi pasangan Prom-ku?”

“Huuu.. Letti! Bisa nggak sih elo jangan ngayal melulu?”

“Hahahaha!”

 

Seorang lagi mendarat di atas awan yang sama dengan Kay, spot paling strategis untuk melihat keindahan bumi di bawahnya dari atas langit. Bedanya sosok satu ini bukan penikmat keindahan dan kebahagiaan seperti Kay.

Bahkan bisa dibilang kedua laki-laki muda ini memiliki sifat sangat bertolak belakang walau hubungan mereka bisa dibilang sedekat sahabat.

“Selesai sudah. No pain. Semua anggota keluarga Mahmud meninggal seketika dalam kecelakaan di jalan tol. Begitu mudah membisikkan sang ayah untuk tidak usah menepi di bahu jalan saat mengantuk dan, bam! Mobil terpelanting berkali-kali sebelum akhirnya terbakar.”

Kay tersentak mendengarnya. Thad, pemuda yang sama-sama malaikat seperti Kay, memiliki cara tersendiri untuk melakukan tugasnya. Cara yang tidak pernah Kay mengerti karena mengingatkannya pada Lucifer, iblis yang bertugas menggoda dan menjerumuskan manusia.

Thad tahu arti sorot mata Kay dan ia hanya melengos. “Aku hanya membantu, Kay. Ini sudah waktunya bagi mereka.”

“Pergi dari sini.” Kay tidak ingin mendengar berita menyakitkan ini lebih jauh lagi. Apabila ada yang meninggal, pastinya ada orang-orang yang sedih karena ditinggalkan. Thad sangat menikmati itu, tapi dirinya tidak.

Suara tawa keras dari layar yang dibuat Kay membuat keduanya sama-sama menoleh.

 

 “Hey kalau tidak, kita semua ngejomblo selama Prom, tau? Terus, Ilona, kenapa sih kamu nggak pergi bareng Jordan aja ke Prom Night? Jordan kan lagi single. Atau Jordan boleh buat aku aja ya?”

“Asha Mahmud, you’re such a naughty vamp!”

 

Mahmud? Baik Kay dan Thad sama-sama menoleh ke bawah lagi tatkala mendengar nama itu.

“Shit!” Thad mendesis dengan mata melotot. “Harusnya sekeluarga yang mati!”

Awalnya Kay tidak mengerti. Namun setelah melihat kemarahan Thad ia paham dan hanya merespon datar. “Gadis ini nggak ikut ke Bandung.”

“Huh! Nambah-nambahin kerjaan aja.” Thad mengeluarkan sayapnya lagi. “Prom Night. Sepertinya acara yang menarik.”

“Kita tidak boleh ikut campur urusan manusia. Itu peraturannya.” Kay memperingatkan dalam suara rendah.

“Dan kau tidak boleh ikut campur urusanku, geeky angel,” Thad membalasnya dengan senyum sinis. “Ayolah ikut aku ke Bumi. Pastinya seru. Lagipula kita masih muda, bosan kalau harus bekerja di langit melulu.”

Dengan enggan, Kay mengikutinya. Turun ke Bumi tanpa penugasan dari atasan adalah pelanggaran besar, tapi ia tidak akan membiarkan Thad pergi sendiri dan berbuat seenaknya di sana.

 


Tags: , , , ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


11 Responses

  1. Karina Banowati

    kapan terbitnyaa? gak sabar pengen bacaaa

  2. astri singal

    aaa…kapan terbitnya mbak?penasaran lanjutannya…

  3. Cyntia Hariza Putri

    wow..rilisnya kapan ni?? ga sabar pgn tau klnjtnya..

  4. Selalu, setiap baca cuplikan kayak gini pasti langsung penasaran dan pengen tau lagi, cant wait kak @sittakarina πŸ˜‰

  5. Neizthy Kurnia

    can’t wait…:-D. kapan ni rilisnya?! πŸ™‚

  6. ichfa namira

    bagus banget!!!jdi pnasaran!!!1kpan terbitnya kak??????

  7. Waaaaaw. Ini buat novel kak? Judulnya apaaaa? Aaarrrrghhh penasaran baget!

  8. dita

    lagi lagi lagi lagiii!!!cant wait!!!!!!!! πŸ˜€ πŸ˜€

  9. hanun

    kapan terbitnya mbaa?cepatlah..tak sabar menunggukangen karyamu :))

  10. chela

    Huaaaahhh!! Ga sabar! Can’t can’t can’t waiiiiittttttttt!!!!!