Setelah Terbit Buku Pertama, Lalu Apa?


setelah-terbitkan-buku

Hore! Selamat atas terbitnya buku pertamamu. Gimana rasanya? Seneng banget dong pastinya.

Setelah peluncuran buku usai (dan sukses!)—setelah puas memandangi dan mencium wangi buku barumu, berikut ini adalah beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk memastikan karier menulismu tetap berjalan dengan baik alias eksis terus.

1. Sudah siap dengan naskah berikutnya. Lepas dari buku pertamamu jadi best-seller atau tidak, kalau kamu menyukai menulis dan ingin menjadikan dunia ini bagian dari kariermu, sebaiknya kamu mulai persiapkan calon buku berikutnya.

2. Memiliki akun media sosial, terutama Twitter dan Facebook fanpage sebagai alat untuk mempromosikan bukumu. Update akun-akun tersebut secara berkala. Jangan lupa pelajari cara, strategi, dan etika bermedia sosialnya.

3. Bikin blog. Lebih OK lagi: blog dan situs pribadi yang memuat daftar bukumu secara sistematis. Pembaca jadi tahu bahwa kamu memiliki rencana berkarya ke depannya—dan tidak berniat jadi ‘one hit wonder’ saja. Pada tahun 2005 (setahun setelah terbitnya LUKISAN HUJAN), saya memiliki blog. Tahun berikutnya baru saya memiliki situs pribadi www.sittakarina.com.

4. Evaluasi lagi kontrak buku sebelumnya, juga kerjasamamu dengan penerbit. Seringkali pada waktu menerbitkan karya pertama—saking menggebu-gebunya saat itu—kita tidak terlalu memperhatikan detail isi kontrak dari penerbit. Pastikan isi kontrak win-win condition, yakni menguntungkan bagi kamu, juga penerbit. Ayo, baca ulang kembali kontrak tersebut, sekalian review bagaimana kerjasama yang terjalin dengan penerbit selama ini, mulai dari kelancaran komunikasi, cara kerja penerbit, sampai pada cara penerbit membantu mempromosikan bukumu. Jangan lupa, tanyakan juga pada penerbit apa saja masukan dan kritik tentang dirimu dan karyamu selama ini.

5. Pastikan cari penerbit yang kredibel. Sudah puaskah dengan cara kerja penerbit? Apakah penerbit beritikad baik dan memiliki rencana ke depan yang OK untuk kamu dan karyamu? Semua ini dapat dilihat dari diskusi-diskusi yang sudah kamu lakukan dengan penerbit (visi, misi, dan etika kerja penerbit akan tampak di situ), serta—tentunya—dari isi kontrak penerbitan karyamu.

*) Featured image: Sitta Karina

 


Tags:


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


8 Responses

  1. N Firmansyah – Biasakan patokannya pakai jumlah kata. Untuk novel biasanya 50,000 – 100,000 kata. Bisa dilihat dari fitur Word Count di MS Word

  2. keninglebar – berarti prioritas utama saat ini adalah menyelesaikan naskah ya. Good luck then!

  3. Saya sih udah selesai, tapi setelah dicek lagi eh halamannya dikit. Nggak memenuhi syarat minimal penerbit mana-mana. .__.

  4. Sudah sering terpikir untuk menulis buku. Tapi naskah yang saya tulis tidak pernah selesai =(

  5. Hastira

    ya, aku belum nih, coba ah bermanfaat ini