Social Cost: Ini yang Bikin Pengeluaran Lifestyle Membengkak!


Blog Sittakarina - Social Cost Bikin Pengeluaran MembengkakPengeluaran ini yang diam-diam menggerogoti gaji kita!

Hidup di kota besar itu mahal—mahal gengsi dan lifestyle-nya.

Tapi, gue udah banyak hemat, kok. Begitu kata Keisha.

Ia menjabarkan, dalam setahun hanya liburan dua kali bareng suami dan anak-anak. Salah satunya bahkan cuma staycation… ehem, di hotel bintang lima bilangan Kuningan.

Tapi, tetap aja beda banget dengan teman-teman segengnya yang dengan enteng titip anak di mertua lalu ke Labuan Bajo selama dua minggu.

Pesta dan seseruan? Paling pas ultah Ezra dan Naima, kedua anaknya yang masih TK dan playgroup.

Shopping? Duh, sekarang bisa dihitung pake jari banget! Entah sudah berapa kali ia melewatkan ZARA sale.

Keisha merasa hidupnya nggak jauh berbeda dengan keluarga kebanyakan. Tapi, kok susah banget sih menyisihkan gaji?

Padahal, menurut Keisha selama ini pengeluaran keluarga, terutama pengeluaran lifestyle, cukup terkontrol.

Yang Keisha alami sama seperti kita semua. Merasa uang cukup—bahkan masih tersisa banyak—padahal sebenarnya sudah sekarat.

Ada bocor-bocor kecil dalam keuangan yang nggak terasa, nggak terekam dalam cashflow.

Kenapa bisa sampai nggak terekam?

Karena nominal dan urgency-nya dianggap tak seberapa.

SPP anak-anak dan biaya berlangganan internet pasti tercatat dong pada kolom cash out. 

Namun, bagaimana dengan biaya beli kopi dan cemilan di Tuku—tiap hari? Saking rutinnya, Keisha merasa hal tersebut nggak berdampak pada keuangan 😂

Padahal, kenyataannya tidak seperti itu.

Money habit kita selama ini, sadar maupun tidak, menjadi penentu berapa uang tersisa di tabungan serta berapa banyak uang tersebut akan berkembang di kemudian hari.

Salah satu money habit yang sering kali tidak disadari adalah “bocor”-nya social cost. 

Duh, apa pula social cost ini?

Saya mendefinisikan social cost sebagai pengeluaran-pengeluaran yang menyokong kita dalam bersosialisasi. Jadi, bisa dikatakan bahwa social cost termasuk dalam pengeluaran lifestyle.

Dalam hal ini, Keisha memang juaranya!

Baca juga: 3 Cara Menghemat Uang (dan Tetap Gaya!)

Tiap hari ia membeli kopi Tuku tak hanya untuk konsumsi pribadi di rumah maupun kantor, tapi juga buat “amunisi” saat arisan, pengajian, playdate Ezra dan Naima di taman kota, sampai renang di club house kompleks.

Itu baru soal kopi. Belum dining dengan teman segeng Keisha sejak SMA yang dilakukan tiap sebulan sekali. Pilihannya nggak jauh dari kafe-kafe di jalan protokol yang memang dekat dengan kantor mereka.  Intinya, kalau dijabarkan secara mendetail, biaya-biaya lifestyle yang masuk dalam kategori social cost ternyata banyak… dan nggak terasa!

Setelah tahu definisi umum social cost, kita jadi tahu dong pengeluaran dan biaya apa saja yang termasuk di dalamnya 😄 Ini sederetan social cost yang kerap terlewat:

  • Biaya playdate anak-anak
  • Biaya kongko bareng teman, keluarga, dan kolega
  • Biaya pesta dan perayaan (ultah anak, ultah teman anak, bachelorette party, baby shower, dan masih banyak lagi. Iya… banyak!)
  • Biaya beli kado untuk pesta dan perayaan (nggak mungkin ‘kan datang ke sana dengan tangan kosong!)
  • Biaya arisan

Nah, sebagai makhluk sosial nggak mungkin dong kita menolak ajakan bersosialisasi di atas demi memangkas pengeluaran lifestyle. Tapi, kalau diikuti semua, bisa-bisa kita malah bangkrut atau berakhir dengan utang.

Oleh karena itu, coba deh terapkan beberapa kiat berikut agar kita tetap bisa menyeimbangkan antara social cost dan kebutuhan sehari-hari:

  1. Tentukan prioritas social cost. Tidak semua ajang sosialisasi mesti dihadiri. Urutkan berdasarkan prioritasnya dan hanya ikuti beberapa yang paling penting tiap bulannya.
  2. Buat perencanaan. Selain menentukan skala kepentingan atau prioritas, coba siapkan dana tak terduga untuk memenuhi kebutuhan ini.
  3. Beli barang berkualitas dengan harga miring. Ketika menyadari ada sederet tanggal ulang tahun orang-orang tersayang bulan depan, saya akan mencari info promo dan sale untuk hunting kado-kadonya. Dengan begini, jatuhnya akan jauh lebih hemat!
  4. Eat first. Saat diajak teman lama yang selama ini susah banget bertemu untuk dining di tempat favorit jaman dulu (namun price list-nya $$$$), coba akali dengan makan lebih dulu di rumah. Jadinya di sana kita tinggal memesan dessert dan minuman saja.

Teorinya terkesan mudah, tapi menjalaninya cukup sulit. Apalagi kita dituntut untuk bisa tarik-ulur soal budgeting. Tapi, percaya deh… dengan seringnya berlatih, kita bisa dengan cepat beradaptasi dan menguasainya.

Jika pengeluaran lifestyle memiliki sisa uang berarti untuk investasi bisa dikendalikan, kita pun jadi maupun melunasi cicilan penting seperti kredit kendaraan maupun KPR.

Social cost apa yang paling menggerogoti keuanganmu saat ini?

 

*) Feature image: Seemi Samuel


Tags:


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


2 Responses

  1. This is good article. We’re as social human sometimes not realize that social cost come so big to ourself. I think the solution ant the tips are so good for us to do it that make us more thrift. And ofcourse good for our money planning too.