Teenlit yang Tidak Picisan


Flickr

Sebelah mata saja untuk teenlit

Saya pernah punya pengalaman menyebalkan, yang lucu untuk dikenang. Kejadiannya begini, tahun lalu saya mengajukan ide kepada sebuah penerbit lokal tentang menerbitkan karya teenlit dalam Bahasa Inggris karena peluang pasarnya yang bagus sekaligus “mendidik”, menjadikan remaja terbiasa dengan bahasa ini.

Namun si pihak penerbit menjawab,”Wah… maaf, Mbak. Walau Mbak sudah lumayan punya nama, kalau untuk kategori itu, kami tidak bisa. Kalau sastra, mungkin bisa kita bicarakan lagi.”

Sesaat, lidah saya kelu untuk menjawab, tapi kemudian saya ucapkan terima kasih dan menutup flip ponsel.

Seperti itu; dua kata yang terus terulang-ulang di kepala saya.

“Itu” yang dimaksud oleh penerbit pastilah “teenlit”. Dan saya jadi menyadari betapa rendahnya apresiasi orang terhadap genre yang umurnya masih muda ini di Indonesia. Menjamurnya novel teenlit ternyata tak hanya membuka lapangan kerja baru, tapi juga cemooh baru karena pembandingnya adalah karya sastra “berat”. Padahal kita tahu, kalau ingin membandingkan sesuatu harus melihat kelas dan kapasitasnya terlebih dahulu; masak Kijang mau diadu dengan Porsche?

Saya membayangkan penulis teenlit lain yang mungkin mendapat perlakuan sama padahal belum tentu karyanya kacangan. Karena ia menulis literatur remaja lantas dianggap tak berharga lantaran kalah “berarti” dengan rekayasa mahadahsyat dari penulis yang memang menggemari bahasa sastrawi.

Semua pro dan kontra ini membuat saya tergelitik untuk menilik lebih jauh (tentu ke diri saya dahulu): mengapa sih bisa muncul pendapat begitu? Apa memang semua teenlit isinya “sampah”? Atau sebenarnya ada moral bagus yang terselip dalam ceritanya yang dikemas pop, modern, dan lebih mudah diterima remaja karena menggunakan bahasa sehari-hari ini?

Telan, camkan, dan perbaiki…

Sejak pertama kali buku saya diterbitkan (pada akhir 2004), sudah banyak kritikan—manis, sedang, dan pedas—yang saya terima dari pembaca. Siapa juga sih yang suka dikritik—apalagi kalau isinya memaki-maki? Di sini saya berusaha cool off dulu (apa gunanya saya pernah latihan yoga, kan?) lalu membaca review tersebut untuk mengambil intisari yang penting, atau bahasa kerennya “constructive critism”.

Kesimpulannya, ternyata pembaca menaruh perhatian besar terhadap karya saya (sampai mau membeli buku dan bela-belain menulis uneg-unegnya panjang-lebar). Kedua, ternyata uneg-uneg itu bisa menjadi “pecut” bagi saya untuk memperbaiki kekurangan dan menghasilkan yang lebih baik lagi (saya selalu menegaskan pada diri sendiri bahwa pembaca yang telah mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli buku saya jangan sampai merasa dirugikan). Jangan seperti Cecily von Ziegesar, penulis serial Gossip Girl di Amerika yang walaupun bukunya dikritik habis-habisan (karena mengumbar seks, drugs, serta kehidupan jet set yang bersikap seenaknya), menganggap itu sebagai angin lalu. Kalau pembacanya ikutan “rusak” gara-gara mengikuti gaya hidup yang ia paparkan, berarti “DL!” (Derita Lu!, kalau di-Indonesia-kan versi slang-nya).

Seorang penulis—teenlit sampai sastra—hendaknya meluangkan tempat di nuraninya untuk memikirkan tanggung jawab moral dan sosial, dampak dari karyanya yang kini sudah jadi milik publik.

Kreativitas adalah buah dari ego. Seorang seniman, pekerja kreatif, atau bahkan profesi pada umumnya tidak bisa berkreasi secara total kalau tidak memiliki ego. Ego itu sendiri merupakan hak tiap individu. Tapi, yuk, ingat lagi.. selalu ada kewajiban (dan hak orang lain) yang membatasi hak–ego–kita.

Jangan tutup telinga atau justru menghindar dari kritik. Jadikan itu vitamin bagi karya kita, juga kemampuan menulis kita. Saya adalah salah satu penulis teenlit yang “akrab” dengan penolakan dari penerbit dan majalah, dan itu masih berlangsung sampai saat ini.

What doesn’t kill you makes you even stronger. Trust me.

Karya ‘remeh’ pun butuh totalitas.

Yang juga membuat orang gemas akan teenlit adalah pengerjaannya yang cenderung singkat. Ada yang rampung dalam seminggu—bahkan dua hari. Antara salut dan heran saya melihat fakta ini (mengingat saya tipe orang yang butuh riset panjang ketika menulis sebuah novel). Namun sebagian orang lainnya hanya bisa nyinyir saja.

Banyak karya teenlit di dalam dan di luar negeri yang nyatanya digarap serius. Meg Cabot, misalnya, harus tahu seluk-beluk kota Carmel, California, dan sejarahnya yang banyak melibatkan bangsa Spanyol, untuk menyelesaikan serial The Mediator. Setelah buku pertama selesai, J.K. Rowling harus terus memutar otak untuk menjadikan Harry Potter serial fantasi yang ditunggu-tunggu karena ceritanya yang page-turning.

Semua itu berbasis pada kisah dan dunia remaja—yang katanya topik remeh—namun ternyata butuh kerja keras untuk merealisirnya. Saya sendiri sempat belajar mati-matian tentang bowling ketika menulis cerpen yang terdapat secuil informasi tentang olahraga ini di dalamnya. Risetnya hampir dua minggu, padahal pembahasannya cuma secuil paragraf singkat.

Intinya, kalau ingin teenlit dianggap sebagai karya bagus dan layak baca, haruslah dimulai dari kita sebagai penulisnya: Apa yang mau kita suguhkan ke pembaca? Apa (nilai plus) yang pembaca dapatkan dengan membaca karya kita? Bacaan yang cuma modal seru (a.k.a. entertaining) akan mudah tergerus waktu. Bacaan yang isinya pesan moral melulu akan langsung ditutup di halaman awal karena super-boring. Yuk, mau pilih yang mana?

 

*PERNAH DIMUAT DI RUBRIK “FOOTNOTE” MAJALAH ALINEA EDISI SEPTEMBER 2006


Tags: , ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


16 Responses

  1. Nat – Karya apa pun ketika digarap dengan sungguh-sungguh pasti hasilnya akan lebih baik. Semoga kisah-kisah remaja lokal pun bisa begitu 🙂

  2. Nat

    Setuju bgt ! Saya jg suka teenlit luar negeri yg lebih banyak riset sama seperti mbak jg.Sayang teenlit buatan indonesia agak kurang menurut saya.. Semuanya sama.Lol.

  3. Karina Banowati

    Saya setuju sama Mbak Sitta. dan saya sangat menyukai karya-karya Mbak Sitta. Teenlit tapi bisa menambah pengetahuan lain. 4 thumbs up buat karya-karya Mbak Sitta 🙂

  4. josh

    Haha bukan mbak, Teenlit juga punya ciri khas tersendiri kan. Tolstoy itu kan dihormati karena dia memberikan sentuhan baru buat literary works. Maksud saya, semoga penulis Teenlit bisa memberikan sesuatu yang baru dan dapat diterima oleh dunia luas seperti apa yang telah diberikan oleh Tolstoy atau Dostoyevski.Terus apakah isi Teenlit harus berbobot? Pasti dong. Apa bahasanya juga harus formal? Kalau menurut saya sih bahasa dalam sastra itu perspektif masing-masing, walaupun jujur saya kurang suka budaya penggunaan bahasa Indonesia "slang" dalam pergaulan kita sehari-hari. 🙂

  5. Sitta Karina

    @Josh – LOL I myself prefer to write teenlit w teen language. Atau bisa dibilang bahasanya ‘bahasa majalah remaja’. Tidak perlu jadi sekelas Tolstoy atau diapresiasi kalangan sastrawan, karena yang terpenting bacaan remaja ya harus akrab di telinga dan kehidupan remaja. Something to help them find their innerself, or help solve the problem. Tidak dipandang sebelah mata, itu hanyalah bonus bagi saya.For me, "To Kill a Mockingbird" and "The Princess Diaries" are both enjoyable reads 😉

  6. josh

    Hahahah jujur aja sih, saya belum pernah baca Teenlit sampe abis ataupun baca karya-karyanya mbak Sitta Karina, alasannya mungkin sama kaya manshurzikri dan anakin tadi. Tapi kalau emang mbak mau mengangkat genre Teenlit menjadi genre yang lebih "literatur" dan tidak dipandang sebelah mata, saya sangat mengapresiasi. Untuk itu memang butuh waktu dan usaha, tapi kalo banyak penulis Teenlit yang bermental seperti mbak, saya yakin suatu saat pasti Teenlit jadi bahasan kalangan akademisi dan sastrawan. 🙂 Dan bukan nggak mungkin nanti ada penulis teenlit yang bisa disejajarkan dengan Leo Tolstoy atau Dostoyevsky, atau Idrus, hehehehe 🙂

  7. Sitta Karina

    @Anakin – Mungkin masih banyak novel teenlit yang belum memenuhi kaidah literatur di luar sana, tapi yang sudah? Ternyata jumlahnya juga tidak sedikit. Tapi kembali lagi, karena ini untuk remaja, jadi tema dan isinya memang untuk remaja, isinya seringkali "ringan". Anda sendiri sudah baca teenlit yang "sesuai" kaidah literatur? Do share with me 🙂

  8. anakin

    Jika suatu karya tulis ingin disebut sebagai "literatur", maka karya tersebut haruslah memenuhi kriteria-kriteria "literatur" dan menurut saya, novel-novel teen literature belum memenuhi kriteria-kriteria tersebut.

  9. Memang tidak dapat disangkal bahwa kualitas dari novel-novel teenlit saat ini belum dapat dikatakan baik bagi masyarakat. Meskipun beragam tema serta nilai moral yang disisipkan, tetapi masih saja ada kekurangan dari penggunaan bahasa dalam teenlit yang jauh dari unsur mendidik. Saya sangat setuju dengan penggunaan bahasa sastrawi, karena memang itu lah bahasa cerita yang baik; penuh tata krama, sopan santun, dan cerdas dalam penuturannya.Namun begitu, tidak hilang harapan dari kita bahwa teenlit bisa menjadi baik bagi masyarakat. Tentunya apabila kesadaran dari penulis dan interpretasi pembaca dapat menyatu dan mencair dalam realitas yang ada di masyarakat.Saya sangat mengapresiasi tulisan ini, karena telah menjadi salah satu pintu pembuka pikiran bagi masyarakat untuk memahami apa kekurangan dan kelebihan dari teenlit. Selain itu, inisiatif dan kata-kata persuasif dari Anda juga mendorong kita semua untuk mencoba membuat karya yang lebih baik lagi serta dapat memberikan nilai-nilai yang dapat mendidik pola pikir masyarakat (remaja khususnya) untuk lebih maju dan berbudi.

  10. Aku stuju mbak… Karna nurut ku teenlit ngga sekedar bacaan waktu kosong aja.. Banyak hal yang bsa kudapet dari buku yang dianggap sekedar bacaan itu… (Aku juga jadi tau banyak macem sejak aku ngebaca novel2 mbak)Aku juga stuju banget sama usul mbak buat nerbitin teenlit in english… apalagi di daerahku buku2 novel berbahasa inggris susah banget dicari karena itu buku impor dan nggak ada toko buku yang ngejual buku impor disini…Seandainya ada penulis dalam negeri yang bisa nulis dalam bahasa inggris that’ll be really great!

  11. Eviana Misty

    I always want to be a writter.It’s my dream..kalau anda berkenan, sebagai penilis sukses yg ternama sama meminta saran untuk menjadi penulis yang membanggakan.saya telah membuat beberapa cerpen yang saya bagikan dalam blog saya.Please visit my blog on evianamisty.posterous.com.saya sangat mengharapkan saran dan kritik terutama untuk mewujudkan sedikit impian saya..Thanks for all. I always love your novel very much^^.keep fighting 🙂

  12. Menurutku teenlit2 yg kayak buatan Kak Sitta itu selain ‘berisi’ juga jadi media pembelajaran yg baik untuk remaja menumbuhkan minat baca. Kita tau di era informatika kayak gini semuanya isinya cuma internet dan televisi.Keep rockin’ kak 🙂

  13. Pagitta Tarigan

    Keep up the good work. Ditunggu kisah keluarga Hanafiah berikutnya.

  14. betul Mbak. Banyak orang yang menganggap teenlit itu picisan. Tapi orang-orang yang bicara itu mungkin belum pernah mencoba membuat tulisan. Karena mereka gak tau proses menulis itu gak gampang. Selain karena pengalaman, juga butuh riset. Apapun bentuk karya tulisnya. Saya sudah pernah mencoba menulis sebuah cerpen, dan dalam proses penulisannya.. menempatkan diri kita sebagai penulis menjadi tokoh dalam cerita tuh gak gampang. Ketika menulis blog juga walau isinya ringan, tapi ada posting yang membuat saya bela-belain motret di t4 bau pesing dan kumuh supaya bisa share akan tugu bersejarah yg terabaikan. Tapi itulah harga dari menulis.. jadi.. tetap semangat Mbak!! Saya jadi banyak tau budaya Indonesia dari karya-karya Mbak lho.. teruslah berkarya! Banyak orang yang masih butuh pelajaran dari cerita yg tampak sederhana tapi dalam

  15. penerbit di indonesia harus membaca ini. teenlit = media pembelajaran remaja. bukan sekedar lembaran tak ber’isi’

  16. Betul mba, tulisan yang baik adalah tulisan yang dari penulisnya sendiri ada bukan hanya ide yang maha dahsyat dari ada bobot pesan moral, dan pelajaran yang bisa dipetik. dan untuk menulis yang seperti itu butuh latihan bukan sekedar mencontoh cerita yang kurang lebih sama.