Yang Penting Bukan Yang Dipajang di Instagram


blog sittakarina - yang penting bukan yang dipajang di instagram

Apa yang penting maupun tidak penting untuk dipajang di Instagram—menurut Ammar dan Kanti? Simak celoteh mereka pada cerita berikut.

——

Ruas jalan Dharmawangsa luar biasa macet hari ini. Tidak biasanya. Mungkin karena ada perbaikan kebocoran pipa air bersih, ditambah sejak tadi sore hujan mengguyur deras. Ammar menepikan mobil di parkiran coffee shop favoritnya, tempat ia pertama kali bertemu istri yang dinikahinya dua bulan lalu, Kanti.

Kanti berlari kecil keluar dari mobil seraya mengembangkan payung bermotif leopard di tangan, bersiap memayungi Ammar yang memberi isyarat tangan ‘tidak usah’, terlihat risih memandangi payung heboh sang istri.

Mereka memesan dua cangkir cappuccino panas, pasrah dengan ramainya pengunjung di situ dengan meja masing-masing yang masih kosong, tanda pesanan mereka bakal “seabad” disajikannya.

Yeay! Lighting-nya oke nih. Nggak perlu pake filter lagi deh,” Kanti mengeluarkan iPhone-nya seraya berdecak riang.

“Belum ada pesanan yang dateng; mau foto apa sekarang?” Ammar terlihat tak begitu acuh.

“Kamu. Dan hujan.”

Ammar tersenyum manis ke arah sang istri lalu menggeleng. “Dua hal itu bisa dinikmati tanpa harus kamu foto, by the way.”

“Tapi, sekarang momennya pas banget, Mar; hujan.. dapet meja pas di sebelah kaca.. aku dan kamu berdua begini…”

“Kelaperan pula…”

“Iiiih! Nggak romantis banget sih kamu.” Kanti spontan cemberut. “Foto satu kali ya? Buat di IG-ku.”

“Nggak ada yang peduli kita ngapain, Ti.”

“Ada. Followers-ku ‘kan banyak.”

“Mana kertas? Kita maen tic-tac-toe aja yuk,” Ammar mencoba mengalihkan.

Kanti tiba-tiba pindah ke depan, tepat ke sebelah suaminya sambil mengangkat iPhone ke arah mereka berdua, namun jemarinya ditelan genggaman Ammar yang lembut sekaligus kokoh. “Yang penting bukan yang dipajang di Instagram. Bukan yang seolah terlihat mesra, ideal, atau apalah itu… tapi apa yang kita jalani, kita yakini tiap hari—tiap detik bersama-sama.”

“You are so no fun,” Kanti menggerutu. “Tapi… kita akan selalu-selamanya ‘kan?”

“Nggak ada yang pernah tau—“

“Parrraaaah! Kamu bahkan nggak yakin.” Ekspresi Kanti menyiratkan rasa heran, takjub, sekaligus bersiap akan meledak tawanya mendengar jawaban terus terang itu.

“Kamu pake nanya segala. Kita memutuskan untuk nikah ya berarti kita satu tujuan, berjalan ke arah yang sama.”

“Bersama-sama—selalu-selamanya ‘kan?”

Ammar menghela napas sampai bahunya terangkat cepat dan senyumnya berubah jadi sedikit belagu. “Asal nggak selalu dipublikasiin di social media, iya.”

“Oke, oke.” Pandangan Kanti beralih ke rintik hujan yang merayap pelan pada permukaan kaca coffee shop. Diam-diam seulas senyum hangat—dan puas—membingkai wajahnya.

Dan diam-diam juga, saat Ammar merangkulnya dari samping, tangan Kanti perlahan menggambar lambang hati pada kaca yang berembun dan memotretnya dalam sunyi.

Saya tak sanggup untuk tidak tersenyum melihat itu ketika berjalan melewati meja mereka, bersiap pulang karena hujan lebat telah berubah menjadi gerimis.

Maybe it’s the rain, or maybe it’s simply… love. Whatever it is, good luck, Kanti & Ammar!

*) Featured image via kissthegroom.com


Tags: , , , , , , ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


13 Responses

  1. Meity

    Suka!
    Sangat relevan dg keadaan sekarang 😉

  2. Manis banget.
    Saya pikir juga begitu. Gak semua hal dipamerin, tetap harus ada yang disimpan.
    Ah, masih terasa manisnya

  3. Olla

    Kak ini novel ya ?? kok dikit bgt… suka ceritanya. mau lagi donk ttg ammar kanti nya

  4. Achi Nia

    Ngena banget! Singkat tapi romantis :* :*

  5. Raissa

    Always love the details of your story kak ! Mendadak kangen baca bukunya kaka huhuhu