6 Langkah Penting Menghidupkan Cerita


Blog Sittakarina - 6 Langkah Penting untuk Menghidupkan CeritaCerita yang hidup bikin pembaca betah.

Ah, kangennya ngeblog tentang tips menulis cerita lagi!

Akhirnya minggu ini (setelah heboh bikin latihan soal EHB buat Harsya dan Nara!) selesai juga satu post dengan topik yang belakangan paling banyak di-request lewat e-mail, yaitu bagaimana caranya membuat cerita yang “hidup” dan nggak datar.

Banyak penulis tidak menyadari betapa pentingnya ini dilakukan, karena fokus utamanya hanya menyelesaikan cerita tersebut.

Dengan menghidupkan cerita, pembaca jadi menikmati momen demi momen yang merajut kisah tersebut. 

Cara ini juga membantu kita sebagai penulis untuk menyelami cerita yang dibuat, menjadikan proses kreatif penyusunan dari awal sampai akhir lebih bermakna.

Manfaat lainnya, kemampuan mengindra penulis jadi lebih terasah!

Mau tak mau, kita perlu menelusuri, mendalami pemikiran tiap karakter yang kita buat.

Dan untuk melakukan ini, satu-satunya cara yang bisa diupayakan adalah dengan mengerahkan seluruh emosi dan perasaan yang ada saat aktivitas menulis berlangsung.

No wonder writing is an exhausting task!

 

Pentingnya menjadikan cerita “hidup”

Proses menghidupkan cerita tidak semudah menikmati hasil akhir karyanya.

Sering kali kita menemukan premis yang potensial berkembang menjadi cerita menarik, namun jatuhnya datar saat dibaca.

Atau, lebih ekstrem lagi, setelah sepuluh halaman, kita menyadari buku yang tengah kita baca sebenarnya tidak layak terbit saking amburadul logika cerita dan tata bahasanya!

Baca juga: Cara Mudah Menulis Cerita ala Anak SD

Jadi, jelas ‘kan, tujuan utama menghidupkan cerita sebenarnya cuma satu, yakni agar pembaca menyelesaikan kisah yang kita susun. Bisa sampai menikmatinya tentu saja merupakan bonus ✨✨

Setelah memilih ide, membuat perencanaan menulis, menciptakan tokoh-tokoh yang bikin pembaca jatuh cinta, pastikan kita menggunakan tata bahasa yang tepat untuk cerita kita.

Jangan 100% abaikan kaidah berbahasa yang baik dan benar, walau tengah menggarap cerita yang memiliki latar bahasa lebih santai.

Penggunaan bahasa pergaulan (slank) secara moderat memang menjadikan cerita terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari pembaca sehingga lebih mudah dinikmati.

Namun, cerita yang cuma didominasi bahasa slank, atau bahkan “alay”, sering kali malah bikin jengkel pembaca.

Coba batasi penggunaan bahasa pergaulan dalam percakapan antar tokoh saja, sedangkan pada narasi tetap menggunakan bahasa yang lebih baku.

 

Komponen utama yang menjadikan cerita “hidup”

Tak hanya perbaikan dari sisi kosa kata dan kaidah berbahasa, berikut hal-hal yang penting diperhatikan agar cerita menjadi hidup:

1. Tujuan tokoh utama

Tidak adanya tujuan spesifik yang ingin dicapai tokoh utama membuat si tokoh jadi tidak memiliki aksi (keputusan maupun tindakan) yang jelas dalam cerita. Lebih buruk lagi, karakter si tokoh pun jadi tidak konsisten. Contohnya: dalam narasi disebutkan bahwa Anjani memiliki sifat plin-plan, tetapi ada adegan menyajikan betapa cepat dan penuh percaya dirinya Anjani dalam menentukan keputusan sulit. Tentu saja hal ini akan membingungkan bagi pembaca.

2. Ciptakan tokoh yang manusiawi

Sebagai penulis, kadang kita tidak bisa menolak godaan menghadirkan tokoh utama yang sempurna dalam segala hal. Cantik, kaya, populer, baik hati. Pokoknya tanpa cela sama sekali, deh! Nah, sayangnya ini justru menjadikan cerita tidak membumi, bahkan kelewat mengada-ngada. Salah satu unsur yang membuat cerita terasa hidup adalah keseimbangan, termasuk soal kekuatan dan kelemahan para tokohnya yang disajikan secara proporsional.

3. Peran antagonis yang berarti

Cerita menjadi lebih bermakna—dan hidup—ketika tokoh utama berhadapan dengan antagonis yang sepadan dengannya. Hadirkan lawan yang membuat kehidupan tokoh utama jungkir-balik, terkuras energinya baik dari sisi fisik maupun emosi. Jadikan kemenangan tokoh utama, saat sudah berhasil mengalahkan si antagonis, layak dirayakan.

4. Hadirkan konflik

Konflik, baik di dalam diri tokoh (internal) maupun dengan tokoh lain (eksternal), menjadikan perjalanan tokoh layaknya kisah manusia pada umumnya. Kayak kita-kita. Antar emosi pembaca ke dalam cerita agar mampu merasakan apa yang tokoh rasakan. Caranya: munculkan konflik yang menghambat perjuangan tokoh utama dalam mencapai tujuannya.

5. Penggunaan diksi

Diksi merupakan pilihan kata dengan arti dan fungsi tepat yang mampu memberikan kesan tertentu dari gagasan yang ingin kita sampaikan. Penggunaan diksi dalam karya fiksi menjadikan cerita tidak lagi datar. Satu hal yang harus diperhatikan, jangan sampai kita menggunakan diksi secara ngawur demi mendapatkan rangkaian kalimat yang indah, bahkan terdengar puitis.

6. Riset memadai

Pada akhirnya, sebuah karya fiksi menjadi hidup jika disokong fakta dan detail-detail yang melebur dalam ceritanya. Dalam banyak kesempatan kita tidak perlu menyuguhkan hasil riset mentah-mentah, melainkan olah fakta riset tersebut sebagai bagian dari latar, karakterisasi, percakapan, dan tentunya narasi cerita itu sendiri.

Cerita akan semakin hidup, semakin mengilap, jika terus dipoles dan diperbaiki. Jadi, menghidupkan cerita bukanlah proses sekali jadi. Butuh revisi berkali-kali sampai akhirnya cerita tersebut menjadi “bernyawa” dan mampu menguras emosi pembacanya.

Sejauh ini, apakah kamu mengalami kesulitan dalam menghidupkan cerita?

Jika tidak, berbagi tips lain soal ini ya!

 

*) Feature image via 8tracks



Leave a Comment

  • (will not be published)


8 Responses

  1. Yuni

    kalau aku, susah buat kata-katanya. kalau buat cerita, kata-katanya itu ituu aja. abisnya bingung variasiin kata”nya hehe.

    Reply
    • Yuni – Dulu ini juga kesulitan saya. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan banyak membaca 🙂

  2. Indra hadi

    Izin share ya mbak. Sangat berguna untuk penulis pemula seperti saya.

    Reply