Baca Novel Romantis Terkini: Pesan dari Bintang


Blog Sitta Karina - Baca Novel Romantis Pesan dari BintangAkhirnya, bertemu lagi dengan Inez dan Niki!

Pesan dari Bintang edisi revisi sedikit-banyak berbeda dengan buku sebelumnya.

Tapi, siapa sih yang tidak kangen dengan pertemanan Inez Hanafiah dan Niki Zakrie dan ingin segera baca novel romantis ini?

Apalagi, bagi kalian yang sudah membaca cerpen mereka berdua di blog ini, Bukan di New York.

Bagi yang bingung tentang novel terbaru (yang dulu pernah dirilis) ini, Pesan dari Bintang merupakan buku ketiga dari serial Keluarga Hanafiah.

Buku pertama mengenai klan konglomerat ini adalah Lukisan Hujanlalu diikuti Imaji Terindah.

Pastikan kamu sudah membaca dua buku sebelumnya (bisa dibeli di sini) sebelum menikmati Pesan dari Bintang, ya!

Nah, tunggu apa lagi… ini dia sinopsis terbaru dari Pesan dari Bintang yang sudah kalian tunggu-tunggu 😍

Inez Hanafiah, putri konglomerat dan sosialita ternama, memiliki hidup sempurna: menjadi pujaan para lelaki dan memiliki sahabat laki-laki yang siap sedia menjaganya, Nikratama “Niki” Zakrie, sejak keduanya tinggal di New York.

Kehidupan Inez menjadi jungkir balik saat semua orang di sekitarnya pergi akibat fitnah dan persekongkolan keji.

Semua, kecuali Niki.

Bersama Niki, seharusnya hari-hari Inez semudah dan seindah masa SMA di New York dahulu. Namun, semua ternyata tak lagi sama: perasaan Inez, persahabatan mereka, bahkan rahasia kelam Niki yang membuat tubuhnya penuh luka.

Jika dulu Niki selalu menjaganya, beranikah Inez melakukan yang sama dengan taruhan persahabatan, dan mungkin, cinta mereka?

Baca juga: Sepenggal Cerita Novel Lukisan Hujan untuk Kamu yang Romantis

Penasaran seperti apa kisah Pesan dari Bintang setelah mengintip sinopsis di atas?

Bagi yang ingin segera baca novel romantis ini, yuk simak dulu cuplikan ceritanya:

“Setidaknya ada cewek yang nggak protes sama cowok galak kayak gue,” Diaz diam sejenak sebelum akhirnya meralat pelan,”pernah ada.”

Inez tahu siapa yang Diaz maksud. Mungkin dua tahun masih kurang lama untuk menghapus Sisy dari hati si sepupu.

Pada sisa perjalanan, Diaz yang tidak rela melihat sepupunya melahap almond muffin sendirian, ngotot minta disuapkan juga. “Kalau fans elo ngeliat ini, hati mereka pasti rontok. Hahaha!”

Inez menimpali, ikut tertawa. “Kalo cewek-cewek elo ngeliat ini,  mereka bisa langsung bunuh diri.”

Diaz terdiam sesaat, lalu menatap Inez perlahan melalui celah bulu matanya. “You know there will never be another girl.”

Blog Sitta Karina - Baca Novel Romantis Pesan dari BintangFoto via Pinterest

Saking halusnya suara tersebut, Inez sempat merasa tidak yakin Diaz mengucapkannya.

Kadang Inez heran melihat betapa emo sepupunya satu ini. Baginya, hidup terlalu indah hanya untuk menangisi kepergian seseorang—satu orang saja. Semua, menurutnya, akan tergantikan. Termasuk pacar.

“Too bad. Lucky me, plenty of guys out there to hook up with.”

Hail to my boy-crazy cousin,” Diaz memberi salut.

“Sori, Yaz. Para cowok kok yang tergila-gila sama gue.”

“Kecuali dia.” Diaz melirik dari sudut matanya, penuh teka-teki.

Ketika Inez masih menerka-nerka siapa yang dimaksud, refleks cowok di sebelahnya merebut sisa muffin terakhir sebelum tangannya kembali memegang kemudi.

Uh-huh. Kecuali dia.”

Tak hanya mengerti, Inez setuju sekali dengan maksud ucapan si sepupu.

Kini kembali di depan loker yang masih terbuka dan sosok gusar di sebelah yang ketukan kakinya pada lantai terdengar kian keras, Inez tampak mengingat-ingat kembali di mana ia menyimpan tugasnya.

“Ah, ketemu!” pekik gadis ini.

“Alrighty. Ntar pulang ada tebengan, kan?”

“Ada. Biasalah.”

“Ah, the very loyal bodyguard—ouch!”

Inez mencubit lengan cowok ini sebelum Diaz sempat menyelesaikan satu kalimat penuh. “Elo meremehkannya, Yaz. Kalau Niki mendengar ini dia pasti nggak suka, lho. Dia sama sekali bukan bodyguard gue.”

“Kidding, alright? Jeez, Nez.” Diaz mengusap-ngusap lengannya, kesakitan.

“Weak!” seru Inez, tertawa. Ia dapat melihat Diaz pergi sambil melambaikan tangan ke arahnya.

“Salam buat Niki. Bilangin ke dia, tim Bintaro Lakeside selalu siap nerima tantangan basketnya.”

Inez kembali memandangi tugas knitting berupa sweater laki-laki hijau gelap yang baru dirampungkannya. Potongannya simpel, namun terkesan aristokrat. Niki bakal terlihat keren dengan ini, sedangkan Dante pasti super-classy.

Inez lalu terdiam, sejujurnya bingung untuk siapa sweater itu ia buat. Pikirannya lalu melayang ke teman-teman satu jurusannya—Lena, Mayang, Dilla, dan Alika—dan seperti apa sweater rancangan mereka. Tugas mendadak ini cukup menyita waktu hingga seminggu belakangan mereka tidak sempat bertemu.

Untungnya, tugas sudah selesai dan hari ini mereka akan bertemu usai kuliah. Tentu saja nanti Inez akan menceritakan kencannya secara detail ke Dilla, si miss practical yang selama ini paling dekat dengannya.

Inez dan Dilla sudah berteman sejak SMA dan tetap berhubungan baik walau Inez pindah ke New York. Saat itu Papa sedang sibuk mengurus mengurus proses akuisisi  Fort-Highline, perusahaan asuransi tua milik kerabat beliau  yang hampir kolaps, oleh Hanafiah Group.

Di Richmond, Inez bertemu tiga teman lainnya. Dengan Dilla, Mayang, dan Alika, hubungannya cukup baik, walau sesekali terjadi adu mulut. Namun, dengan Lena, mereka bak musuh bebuyutan. Korslet melulu. Tiap ada kesempatan, Lena akan menyerang Inez dan Inez selalu mengembalikan serangan itu dengan celotehan polos yang bikin Lena makin naik pitam.

Inez baru saja menutup pintu loker tatkala sebuah tangan besar menghalanginya. Pasti Diaz lagi.

“Oke, Yaz. Gue cuma punya waktu lima menit sebelum—“

“Siapa Diaz?”

Bukan Diaz! Inez langsung mendangak, merasa tidak nyaman dengan jarak dekat dengan orang tersebut.

“Magi,” tuturnya seraya mundur.

“Hai, Cantik.”

Sebelah alis Inez terangkat mendengar sapaan itu. Magi, pacar Lena,  baru saja memanggilnya dengan sebutan seperti itu? Jika Lena mendengar ucapan cowok yang sorot matanya kini terlihat seperti orang mabuk, ia pasti akan murka setengah mati.

Tetapi, Inez yakin tak ada yang perlu ia khawatirkan. Semua orang tahu Inez tidak tertarik dengan Magi. Dan lebih dari itu, ia tidak berminat merebut milik temannya sendiri.

Tubuh besar Magi kian mendekat. Dua tangannya menjadi pagar di antara kedua bahu Inez hingga ia sama sekali tak dapat bergerak. Beberapa orang yang lewat di situ melirik tidak nyaman, menyangka mereka akan berciuman.

“Apa-apaan ini, Magi?” suara Inez mulai gusar. Senyum tipis Magi di hadapannya terasa amat mengganggu. “Kata Dilla, semalam elo dateng ke pesta di Karlü. Jangan-jangan sampai sekarang masih mabok.”

Perhaps. Gue pengen mabok bareng elo. Lena nggak seseru elo, sih.”

“Sori, gue lagi nggak minum alkohol. Lagi banyak tugas.” Inez mengangkat dagu, memperlihatkan ketidaksukaannya.

“Ngapain ajalah asal sama elo, Nez. A quiet dining? Anything? Please?

“Nggak!”

Inez tidak habis pikir melihat Magi meracau tanpa peduli akan kondisi di sekelilingnya—di lingkungan kampus. Ia sadar, pemuda berambut seleher dengan gaya rockstar yang cuek dan bikin penasaran ini memang bukan sosok yang santun. Tetapi, apa ia tidak salah dengar; Magi bukan hanya asal bicara, melainkan tengah merayunya!

Pesan dari Bintang akan segera dirilis pada akhir tahun 2019 ini.

Pastikan kamu mengikuti sesi PO atau membeli bukunya di Toko Buku Gramedia maupun online shop penerbitnya, Lentera Hati Store.

Kapan PO dimulai dan per tanggal berapa jadwal terbit bukunya?

Follow akun Instagram saya @sittakarina agar tidak ketinggalan beritanya, ya! 😊

Siapa yang selama ini suka baca novel romantis?

Apakah kamu tak sabar untuk segera membaca Pesan dari Bintang ?

 

*) Feature image: Sitta Karina



Leave a Comment

  • (will not be published)


One Response

  1. Anissa

    akhirnya novel yang ditunggu2 keluar taun ini…. cant wait no longer kak sitta 😍😍😍

    Reply