5 Cara Jitu Belajar Menulis yang Mudah Diikuti


Blog Sitta Karina - Cara Jitu Belajar MenulisLatih ini untuk hasil tulisan bagus.

Pengen, deh, bisa menulis!

Cerita ini keren! Gimana cara bikinnya, sih?

Mau belajar menulis, tapi mulai dari mana, ya?

Sebagai penulis, ketiga pertanyaan itu cukup sering tertangkap telinga saat saya sedang menjadi narasumber pada writing workshop maupun sekadar ngopi-ngopi bareng teman.

Pada kenyataannya, bagi sebagian orang, menulis bukanlah kegiatan yang mudah dilakukan, terutama saat akan memulai bab pertama.

Butuh waktu, bahkan upaya keras, untuk mampu mengubah ide di kepala menjadi sebentuk kalimat yang mampu mengkomunikasikan maksud kita. 

Jadi, bisa dibayangkan, membuat satu kalimat saja terasa sulit, apalagi jika mesti menyusun ratusan (atau ribuan!) yang membentuk sebuah karya tulis, baik berupa artikel maupun cerita.

Karya tulis yang bagus tidak dinilai dari panjang tulisan, apalagi penggunaan kata-kata sastrawi secara berlebih yang tidak sesuai kebutuhannya.

Parameter paling sederhana dari karya tulis bagus adalah mudah dimengerti pembaca. Di sinilah kemampuan berbahasa dan bercerita si penulis berperan penting 😉

Baca juga: 7 Tips Menulis untuk Menghasilkan Karya Bermutu

Karena menulis bukanlah keterampilan yang bisa dilatih dalam semalam, tentunya kita mesti meluangkan waktu untuk belajar menulis walau hanya sebentar agar mampu menguasainya.

Oke. Niat sudah ada. Jadwal pun bisa diatur. Kini, apa yang harus dilakukan untuk berlatih mulai dari tahap pertama?

Nah, agar tidak bingung, coba ikuti cara belajar menulis yang mudah diikuti berikut ini:

1. Tentukan topik tulisan

Sebelum mulai menulis, tentunya kita harus tahu akan menulis tentang apa. Agar gampang dan ringkas, saya membuat ini dulu:

Jenis tulisan: fiksi
Genre: cinta remaja
Topik: menghargai pilihan orang yang dicintai merupakan bagian dari proses pendewasaan diri

2. Lakukan riset

Lakukan pendalaman masalah yang akan dibahas dalam tulisan sehingga kita memiliki dasar pengetahuan bercerita yang solid, bukan asal-asalan.

Tentunya riset tersebut dilaksanakan sesuai kebutuhan. Jika ingin menulis cerita dengan latar tempat di New York dan memiliki teman yang tinggal di sana, kita bisa mewawancarai teman tersebut ketimbang terbang ke Amerika.

3. Buat kerangka tulisan

Menulis tanpa kerangka tulisan sama saja dengan menulis tanpa perencanaan. Dengan menyusun kerangka lebih dulu, tulisan yang disusun pun jadi rapi dan terstruktur, serta proses kreatifnya lebih lancar.

4. Menulis sebebas mungkin

Jangan menahan diri, merasa takut salah, maupun terlalu memikirkan kaidah berbahasa saat menulis. Menulislah dengan segenap perasaan, sebebas-bebasnya. Karena, selalu ada kesempatan memperbaiki sesudahnya.

5. Edit setelahnya

Pastikan kita mengedit atau menyunting karya tulis tersebut setelah proses kreatifnya selesai. Beri jeda setidaknya satu hari sebelum kita kembali “menengok” naskah yang sudah rampung tersebut. Penulis juga butuh istirahat, lho.

Terdengar simpel, bukan?

Yang tidak simpel adalah seberapa sering kita bisa meluangkan waktu untuk tetap menulis secara produktif, terutama di tengah kesibukan sehari-hari.

Sejak di bangku SMP, trik saya untuk tetap bisa menulis novel adalah dengan meluangkan waktu untuk menulis, bukannya menunggu waktu luang.

Kadang saya hanya bisa menulis selama setengah jam, kadang bahkan sampai tiga jam, per harinya.

Belajar menulis menjadi proses yang tak hanya menantang namun juga menginspirasi jika kita melakukannya dengan sepenuh hati. Sering kali kita malah jadi lupa waktu saking asyiknya!

 

*) Feature image: @kariolsonco



Leave a Comment

  • (will not be published)


2 Responses

  1. Masalahku datang saat mulai membuat kerangka nih mbak. Suka bingung mau mendetilkan jalan cerita. Di sini jadinya mandek alias stuck. Bikin menulis terbengkalai. Adakah saran mbak sitta?

    Reply