Ini Dia Cara Beli Rumah Minimalis Idamanmu


Blog Sittakarina - Cara Beli Rumah Minimalis Setelah MenikahAkhirnya bisa punya rumah sendiri!

Apalagi jika semua didapat dengan pengorbanan yang melelahkan dan bikin geleng-geleng kepala. Tentunya kalian patut bangga akan semua ini!

Tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan pokok yang perlu dipenuhi secara layak. Karena selama ini sudah keenakan tinggal bareng orang tua, kita kerap tidak memikirkan kebutuhan tersebut saat memasuki fase kehidupan selanjutnya, yakni saat sudah dewasa dan mandiri (memiliki penghasilan sendiri).

Dengan melambungnya harga properti dari tahun ke tahun, upaya memiliki rumah minimalis saja sulitnya setengah mati 😭😭

Apalagi, kenaikan harga properti ternyata nggak berbanding lurus dengan kenaikan gaji kita. 

Sudah stres kerja, pengen rileks dan nge-trip udahannya, terus sekarang malah ada beban untuk menabung demi DP KPR?

Duh, beraaat…

Pertanyaan paling umum bagi mereka yang sudah bekerja: haruskah beli rumah saat ini?

Di zaman serba cepat, serba mobile kayak sekarang, ternyata jawabannya nggak bisa sesaklek 20 tahun lalu.

Jadi, beli rumah atau tidak, tergantung bermacam-macam kondisi yang mengelilingi kita saat ini.

 

Mengapa harus beli rumah sendiri?

Bagi mereka yang single dan mobilisasinya tinggi, termasuk doyan pindah-pindah kerja demi tantangan dan pengalaman baru, membeli sebuah tempat tinggal (landed house maupun apartemen) sering kali malah jadi pemborosan.

Punya rumah di pinggiran Jakarta, kerja di bilangan Gatot Subroto, tahun depan ditempatkan di Kalimantan, lalu 3 tahun kemudian sudah melenggang di Singapura. Terus, nasib rumah di suburban gimana?

Tinggal jual?

Dengan sektor properti yang masih lesu begini, menjual rumah ternyata bukan perkara mudah. Bukannya untung, diimpit waktu dan kebutuhan, sering kali seseorang malah harus merelakan properti miliknya dibeli dengan harga yang jauh dari harapan.

Berbeda dengan pendapat yang populer di masyarakat selama ini, membeli properti atas dasar “harus punya” atau “yang penting udah punya” tidak selalu pilihan bijak.

Tidak ada jaminan bahwa memiliki aset berupa properti pasti akan untung.

Jika sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kita saat ini, bisa jadi menyewa kos-kosan maupun apartemen merupakan keputusan tepat. Kondisi tersebut antara lain: masih lajang, belum ingin berkeluarga, siap berpindah-pindah, serta tidak ingin repot dengan urusan pemeliharaan properti pribadi.

Lain cerita bagi mereka yang sudah berkeluarga.

Baca juga: Décor: Rak Buku Multifungsi untuk Rumah Mungil

Dulu saya dan suami sempat terpikir akan mengontrak lebih dulu sebelum membeli properti pertama. Tapi, setelah dipikir dan didiskusikan lagi berkali-kali (saat itu Harsya sudah berusia 2 tahun dan saya tengah hamil Nara) kita sepakat untuk menempati tempat tinggal di lokasi yang tetap, yang mampu memberi ruang untuk keluarga kecil ini tumbuh tanpa intervensi dari banyak pihak.

Selain itu, saya dan suami sadar, dengan bertambahnya usia orang tua, sudah sepantasnya mereka mendapatkan ketenangan menjalani hari-harinya, bukan malah ikut ribet mengurus keperluan keluarga kecil ini.

 

Pilihannya mesti rumah minimalis?

Bagi keluarga muda yang baru meniti kehidupan berumah tangga (bersamaan dengan kariernya), sepertinya membeli rumah minimalis—baik itu rumah tipe 36 maupun apartemen tipe 2 bedroom—adalah solusi yang tepat.

Pada dasarnya, harga kedua tipe standar tersebut masih cukup terjangkau. Toh jika suatu saat kita ingin bangunan yang lebih besar dan rejekinya pas ada, rumah minimalis tersebut dapat direnovasi atau sekalian dijual.

Saran saya, selalu perluas batas aman antara penghasilan dan pengeluaran.

Dalam hal ini, termasuk pengeluaran dalam bentuk cicilan KPR. Jadi, walau penghasilan kita cukup tinggi, sebaiknya tetap bijak menjaga rasio utang kita agar tidak terlalu tinggi.

Beberapa cara mendapatkan rumah minimalis

Dari pengamatan selama ini, orang-orang yang saya kenal memiliki beberapa cara dan preferensi untuk memiliki rumah minimalis versi mereka:

1. Dikasih orang tua

Pokoknya tinggal tempati dan terima beres aja. Ada juga yang rumah maupun apartemennya sudah lebih dulu dibelikan orang tua, lalu si anak membayar cicilan bulanannya tanpa bunga (soft loan).

2. Hard cash

Setelah tinggal kurang-lebih 10 tahun di tempat mertua, ada teman yang akhirnya mampu membeli rumah pertamanya… tanpa cicilan! Harganya tentu jauh lebih murah daripada membeli dengan kredit pemilikan rumah. Tapi, ya itu… harus punya uang tunai dalam jumlah amat besar!

3. KPR konvensional

Yaitu, KPR yang syarat dan ketentuan kredit ditentukan oleh bank pemberi kredit. Dulu saya dan suami mengambil KPR ini. Kita ambil KPR di Bank A selama 20 tahun, fixed rate selama 3 tahun, dengan tujuan agar cicilan bulanannya tidak melebihi 30% dari total penghasilan berdua. Setelah masa fixed rate Bank A selesai, kita meneruskan KPR di Bank B (tenor 20 tahun juga, fixed rate 3 tahun).  Tujuannya satu, yakni demi mendapatkan fixed rate yang membuat cicilan lebih terukur dan tidak mengganggu perencanaan keuangaan saat itu. Akhirnya, KPR pun dapat dilunasi pada tahun ke-6.

4. KPR syariah

Secara umum, jenis KPR ini menggunakan prinsip kesepakatan jual-beli atau murobahah. Cicilannya pun tetap, tidak tergantung naik-turunnya suku bunga Bank Indonesia. Belakangan pamor KPR ini kian bersinar karena dianggap bebas riba.

Lebih detail tentang KPR konvesional, KPR syariah, dan plus-minus keduanya bisa dibaca di sini. Jangan lupa untuk mencermati biaya-biaya yang timbul dan pastikan kita sudah memenuhi persyaratan berikut agar pengajuan KPR-nya diterima bank.

 

Pengelolaan keuangan agar KPR lunas

Paralel dengan 6 tahun masa mencicil KPR tersebut, kita berdua berusaha mengumpulkan dana pelunasan kredit dengan cara berinvestasi pada instrumen reksa dana campuran yang komposisi surat utangnya > saham, agar risiko loss tidak terlalu tinggi untuk jangka waktu sependek itu.

Tentu saja, selama periode tersebut, bisa dikatakan kita berusaha banget hidup minimal demi bisa menyisakan dana yang cukup untuk diinvestasikan 😄

Untungnya, besaran KPR yang kita ambil saat itu tidak terlalu membengkak. Ini karena terbantu dengan down payment 50% yang sebelumnya sudah kita bayarkan.

Ketika ingin punya rumah minimalis (biar nggak ribet ngurusnya!) sendiri, memang mesti diniatkan banget usaha dan keberaniannya. Kalau tidak, keinginan ini bisa-bisa tidak terlaksana sama sekali dan kita stuck tinggal di rumah orang tua selamanya.

Bagi yang sudah terpikir untuk beli rumah sendiri, upaya apa yang sudah kamu lakukan selama ini?

 

*) Feature image: Danielle Moss



Leave a Comment

  • (will not be published)


5 Responses

  1. Fela

    Sangat bermanfaat tulisannya kak. Kalo saya dan pasangan ingin menabung untuk membeli rumah, brp persen gaji yg kira-kira harus kita berdua save kak?thanks before

    Reply
    • Paralel dg investasi untuk dana pendidikan anak-anak, dulu saya dan suami sisihkan 30% dari total income untuk rumah. Good luck! 🙂

  2. bima

    baru 20 tahun. niat sudah ada. baru bisa menabung 500rb perbulan dg income 2jt an dan cicilan motor 700rb. ditambah lagi saya kuliah:)

    Reply
  3. Alex Beding

    bagaimana jika kita investasi pada #3inetwork? mohon penjelasan.tx

    Reply
  4. kalau sekarang lagi trend-nya KPR Subsidi tapi pas dicoba ternyata sulit sekali mendapatkannya. Aku bahkan sampai dua kali ganti bank 🙁
    Ada info yang valid nggak mbak tentang gimana caranya mudah dapetin KPR subsidi?
    Makasih sebelumnya. Nice blog by the way, aku selalu ngikutin 🙂
    Salam kenal mba Sitta

    Reply