Ini Cara Menjaga Motivasi Kerja Agar Cepat Sukses


blog sittakarina - cara menjaga motivasi kerja agar suksesTetap semangat kayak baru mulai kerja.

Ingat, nggak, momen pertama kali kita memulai kerja?

Kemeja rapi—gaya, tapi tidak mencolok—wangi parfum yang masih fresh, dan refleksi diri di kamera HP sudah terlihat oke.

Satu hal lagi yang belum disebut: motivasi kerja yang masih menggebu-gebu.

Kita begitu bersemangat menjalani lembaran baru demi usaha mencari nafkah hingga siap-sedia saat berhadapan dengan tantangan dan kesulitan.

Namun, apa yang terjadi setelah tiga tahun berlalu?

Semangat mulai mengendur, motivasi kerja pun perlahan sirna.

Perubahan motivasi kerja biasanya dipicu rasa tidak puas dan tidak nyaman atas apa yang kita alami selama bekerja.

Biasanya kita bangun di pagi hari penuh dengan harapan, kini hanya melengos lesu. Menganggap hari-hari yang dijalani hanyalah bagian dari rutinitas, kadang bahkan membosankan.

Baik karyawan, pedagang, pengusaha, maupun pekerja kreatif pasti pernah merasakan hal ini.

 

Motivasi mendadak berubah, apa penyebabnya?

Ketika motivasi kerja terus surut, ini akan berdampak buruk terhadap produktivitas, bahkan performa kita. Padahal, seperti yang kita ketahui, performa yang optimal merupakan salah satu kunci sukses berkarier.

Perubahan motivasi kerja bukannya terjadi begitu saja. Umumnya, ini dilatarbelakangi pertentangan dalam diri, dipicu rasa tidak nyaman atas apa yang kita alami selama bekerja.

Baca juga: Agar Lamaran Kerja Cepat Diterima, Perhatikan Ini

Skema gaji yang tidak memuaskan, lingkungan kerja tidak kondusif, termasuk bos killer yang tidak menginspirasi sama sekali adalah tiga hal teratas yang membuat seseorang jadi kehilangan semangat bekerja.

Kalau sudah nggak nyaman, kenapa nggak pindah kerja saja?

Hmm… pada beberapa kasus, itu bukanlah opsi terbaik. Misalnya, kita berusaha betah-betahin di perusahaan A yang gajinya standar, tapi terkenal royal saat memberi bonus tahunan.

Memilih stay atau tidak tentu kembali ke tiap individu. Namun, satu hal yang mesti diingat, jangan jadi tukang mengeluh setelah memilih untuk tetap di perusahaan.

Tidak ingin resign, tapi doyan menebar energi negatif ke rekan sedivisi tentang betapa buruknya perusahaan tempat kita bekerja. Doesn’t sound fair, right?

 

Cara menjaga semangat kerja yang konsisten

Sukses adalah milik mereka yang mau bekerja keras.

Untuk bisa konsisten menghasilkan performa terbaik, motivasi kerja mesti tetap terjaga, apa pun kondisi yang kita hadapi saat itu.

Ini yang saya lakukan saat semangat dan motivasi mulai mengendur:

  • Ingat tujuan awal bekerja. Saat ingin berhenti, coba ingat kembali tujuan kita bekerja keras seperti sekarang: mencari nafkah lebih, membantu orang tua, maupun ingin anak mengenyam pendidikan lebih baik. Ini akan membuat kita tak ingin berlama-lama merasa demotivated.
  • Latih diri berpikir positif. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Berpikir positif bukannya tidak memiliki emosi negatif sama sekali, melainkan bagaimana kita mengendalikan emosi tersebut dan mencoba melihat dari perspektif berbeda.
  • Selektif memilih inner circleHindari orang-orang negatif dan “virus” yang dibawanya. Jika sosok ini ternyata rekan satu tim, bersikaplah profesional dan berinteraksi sesuai kebutuhan dengannya.
  • Biasakan sikap disiplin. Ini berarti kita mencoba tetap bekerja dengan baik, walau sedang tidak ingin. Tekad yang kuat pada akhirnya akan mengalahkan segala jenis alasan dan kemalasan.
  • Memiliki tujuan jelas, namun tetap fleksibel. Jalan yang kita tempuh demi mencapai tujuan kadang terjal dan berliku. Daripada memaksakan semua mesti 100% sesuai rencana awal, sedikit fleksibilitas akan membuat hidup kita lebih rileks, dan tentunya, waras.
  • Tidak alergi terhadap kegagalan. Justru kita belajar banyak dari kegagalan—dan berikutnya jadi mampu tampil lebih baik!
  • Buat tujuan bermakna. Kerja hanya untuk mengejar uang? Jika ini terus diikuti, lama-kelamaan hidup kita pun ibarat mesin. Sulit merasakan empati dan kepekaan terhadap sekitar. Coba cari tujuan bermakna yang mampu membuat kita bersemangat menjelang hari-hari kerja.
  • Bersyukur. Dari semua cara di atas, inilah yang pada akhirnya paling manjur. Bersyukur masih bisa bekerja, bersyukur masih mendapatkan nafkah, bersyukur masih bisa mencicipi beragam pengalaman… serta bersyukur mampu mengambil hikmah dari setiap suka dan duka yang terjadi.

Bicara soal mencari tujuan bermakna saat bekerja, Lulla akhirnya menemukan ini!

Setelah sebelumnya berkutat di bidang accounting (dan kerja keras bagai qudaaa~!), kini Lulla gawe di sebuah startup yang memberdayakan guru di bidang-bidan profesional selain menjadi pendidik di kelas. Melihat kehidupan guru jadi lebih sejahtera, muncul kepuasaan tersendiri di hati kecil Lulla.

Motivasi kerja kita memang nggak selalu nangkring di grafik teratas. Ada saatnya malah stabil di bawah.

Tapi, bagaimana semangat tersebut dapat bangkit lagi, pada akhirnya  kembali ke diri kita sendiri.

Pernahkah kamu berada di titik terendah masa berkarier?

Jika kamu memiliki cara tersendiri untuk mengatasinya, do share here! 😃

 

*) Feature image: J.Crew



Leave a Comment

  • (will not be published)


2 Responses

  1. yapp setuju sekali, apabila sudah tidak kerasan jangan menebar virus negatif maupun menjelek-jelakan atasan, apabila sudah tidak kuat ya resign saja. hehe

    Yang penting tetap belajar dan belajar supaya skill terus meningkat supaya kehalian juga semakin expert alhasil ide-ide terus bermunculan dipastikan rasa bosan bekerja tidak akan datang :))

    Reply
    • Betul. Coba ingat-ingat apa alasan kita bekerja di situ. Jika niat dapat kembali dipupuk, tentu semangat pun akan muncul lagi 😉