Sepenggal Cerita Novel Lukisan Hujan untuk Kamu yang Romantis


Blog Sitta Karina - Cerita Novel Lukisan Hujan RomantisCerita novel yang menghangatkan hati.

Sebagai penggemar cerita novel romantis, membuat kisah dan adegan manis seperti ini merupakan salah satu kesukaan saya.

Dan Lukisan Hujan tak lain sebuah kisah yang memiliki tempat khusus di hati saya sebagai penulisnya!

Menyusun momen demi momen remeh namun bermakna Diaz dan Sisy, dua tokoh sentral dalam novel ini, adalah pekerjaan yang memeras emosi. Apalagi, rangkaian momen tersebut berperan dalam melukiskan ciri khas tiap karakter.

Bagi kamu yang baru melewati hari berat dan ingin rileks sejenak—teh hangat sudah siap di cangkir kecil, jadikan sepenggal cerita novel ini sebagai teman santaimu.

Sit back and simply enjoy the story.

“Diaz, makasih banget!”

Tiba-tiba Carli memeluknya dari belakang saat mereka mengobrol di taman belakang sekolah. Bukannya Diaz akrab dengan gadis ini hingga pelukan adalah sesuatu yang lumrah di antra mereka. Saat itu mereka hanya kebetulan berpapasan; masing-masing melintas di selasar tepi lapangan sepak bola dengan tujuan berbeda.

Diaz sempat tertegun akan betapa dekatnya mereka berdiri saat itu. Seolah tak ada ruang untuk bernapas. Harus ia akui bahwa Carli menawan. Namun, Diaz belum terpikir ingin mengikat diri dengan seseorang. Makanya, saat itu perlahan dilepaskannya kedua tangan Carli tanpa suara.

“Jangan lepasin, Yaz. Aku suka kamu…”

“Karena gue tolong waktu itu?” Diaz merepons kalem.

Dirasakan Carli mengangguk satu kali.

“Sori. Waktu itu gue lakukan yang harus gue lakukan. Nggak ada maksud tertentu. Jadi, please jangan salah sangka.”

“Yaz…”

Baca juga: Imaji Terindah dan Ujian Persahabatan

Pikiran Diaz kembali ke saat sekarang.  Ia menengok ke bawah, ke Sisy, lalu perlahan melepaskan pelukan itu tapi tetap menggenggam jemari Sisy erat-erat.

Ia tak ingin pergi begitu saja dan bersikap bak pecundang seperti dulu. Ia teringat kata-kata Sisy bahwa perasaan perempuan layak dihargai. Semenyebalkan apa pun, perasaan itu patut diberi tempat karena merupakan ungkapan hati yang tulus.

“Diaz?” Sisy memiringkan wajahnya, bingung melihat Diaz melamun lama seperti ini. Ia merasa pikiran cowok ini melayang entah ke mana, ke tempat yang tidak bisa Sisy sentuh.

Blog Sitta Karina - Cerita Novel Lukisan Hujan RomantisFoto via Pinterest

Apa ini? Tangan Diaz dengan sendirinya berpindah ke dada, merasa bingung juga tak percaya dengan apa yang tengah mengaliri perasaannya. Padahal kita cuma abang-adik… cuma permainan iseng yang gue gagas biar bisa menyingkirkan Anggi dari pikiran. Tapi, kenapa bisa sedalam ini?

Tangan Diaz tetap diam di tempat, ingin merasakan detak jantungnya sendiri.

Seharusnya nggak begini, Diaz membatin, bersikeras menyangkal intensitas emosi yang terasa mengoyak dadanya. Seharusnya cuma abang-adik biasa…

“Diaz?” panggil Sisy lagi, lebih keras.

“Sori.” Diaz menggumam pelan. Sorot matanya masih sama, memancarkan amarah dan kekhawatiran mendalam. ”Pipinya sakit? Harusnya gue banting aja tuh anak. Berani-beraninya dia berbuat ini ke Sisy.”

“Nggak apa-apa, Yaz. Yang penting Tedy udah pergi.” Sisy berusaha terlihat biasa saja, tidak ketakutan seperti tadi. Ia tahu ia tak hanya membohongi dirinya, melainkan juga Diaz.

“Si?” air muka Diaz tampak sesaat ragu, tapi akhirnya kembali seperti biasa. “Elo selalu ngomong pake aku-kamu ya ke semua orang?”

Ngg, iya. Kebiasaan aja.”

“Kenapa nggak gue-elo aja? Kalau cowok yang denger jadi salah sangka. Jadi GR. Dikiranya Sisy ada hati sama dia, atau apalah. Bisa bermacam-macam alasannya.”

“Lantas Diaz salah sangka?”

“Gue nggak!” cepat-cepat Diaz menjawab, merasa tertantang dengan sikap tegas Sisy yang menurutnya di luar dugaan. “Tapi cowok lain mungkin iya. Temen elo tadi itu contohnya.”

Baca juga: Dunia Mara: The Teaser

“Tedy bukan temenku lagi.” Sisy spontan cemberut, membuat Diaz agak menyesal mengangkat topik ini.

“Anak itu suka elo, Si?”

“Kata Tyonna dan Kania begitu.”

“Kamu suka dia?”

Sisy menggeleng mantap.

“Kalau begitu, yang tegas dong ke dia. Bilang ‘Nggak’. Ayo, latihan bilang ‘Nggak’ kalo elo emang nggak mau dan nggak suka sesuatu.” Suara Diaz makin lama makin keras, seperti tengah membentaknya.

“Kamu kayak kakakku beneran, deh.”

Blog Sitta Karina - Cerita Novel Lukisan Hujan RomantisFoto: @nindachristiana

“Memang itu ‘kan tugas gue.” Diaz mengangkat sebelah alis, terkesan dingin namun sebenarnya tak ingin terbawa suasana atau terpengaruh raut minta dikasihani Sisy.

“Dilatih ya, Si?” Diaz memastikan lagi. Buat kebaikan kamu juga. Karena aku nggak bisa selalu ada  di situ untuk melindungimu.

Sisy bergeming untuk waktu yang cukup lama. Tatapannya jatuh ke sandal jepit putih yang dipakainya. “Akan kucoba.”

Mereka berdua pun saling bertukar senyum. Sama-sama puas.

Penasaran dengan kelanjutan cerita novel di atas?

Arungi kisah manis Diaz Hanafiah dan Sisy Iswandaryo, salah satu pewaris bisnis raksasa Hanafiah Group yang enggan menjalani kehidupan sebagai sosialita dengan gadis SMA yang ditemuinya dalam sebuah momen tak terduga, dalam novel Lukisan Hujan.

Buku pertama dari serial Keluarga Hanafiah ini dapat dibeli dengan harga diskon sampai 20% di:

Tokopedia

Lentera Hati Store

Jadi, sekarang nggak takut kehabisan di toko buku lagi, deh! 💕

 

*) Feature image via We Heart It



Leave a Comment

  • (will not be published)