Bukan di New York – sebuah cerpen


Blog Sitta Karina - Cerpen Bukan di New YorkBisakah kerasan di kota seasing Big Apple?

“You need to wipe that silly smile off your face, Hanafiah.”

Inez Callasandra Hanafiah menyibak rambut ikal kecoklatannya, tidak mempedulikan sindiran temannya, Larissa von der Laks, dan memilih tetap memandangi Empire State Building dengan raut melankolis yang sama.

“Dia menghajar Bobby pakai sapu—so effortlessly, Is.”

“Tapi, abis itu Mister Moody dikeroyok teman-temannya Bobby.” Larissa memberikan cangkir berisi teh chamomile ke temannya, ikut duduk di tepi jendela.

“Mister Moody?” kedua mata Inez terpicing.

Larissa hanya mengangkat bahu. “Dia keliatan nggak happy masuk di Headrick. Kalian berdua ‘kan sama-sama anak baru di sekolah. Yang satu kayak matahari terik di East Hampton, satunya lagi… awan mendung.”

“Awan mendung di mana?”

“Di mana lagi? New York tentunya!” Larissa mencibir. “It’s always cloudy here. Harusnya aku minta pindah ke California aja. More sun, more fun!

Inez tidak terlalu mempedulikan ucapan itu. Larissa yang dikenalnya memang doyan mengeluh. “Namanya Niki Zakrie.”

“Aaah!” kedua mata biru Larissa spontan membelalak. “Zakrie pemilik pabrik roti terbesar di Asia. Iya ‘kan?”

“Itu Zahri. Haikal Zahri dari Penang.”

Larissa mencomot makaron Ladurée rasa aprikot dari nampan.

“Jadi, Niki-Niki ini anak siapa, sih? Jangan bilang kamu main sama rakyat jelata, Nez.”

Ingatan Inez kembali ke momen tadi siang, sehari setelah Bobby Rhymes memanggilnya dengan sebutan kasar, ditaklukkan Niki dengan sebatang sapu, dan keduanya berakhir di detention room.

Seperti biasa, saat itu Niki Zakrie tampak sendirian di kantin. Berbeda dengan dirinya yang sudah duduk di meja langganan Larissa dan kelompoknya (Bobby kerap bergabung di situ juga) dengan aura “You can’t sit with us” yang jelas terasa.

Blog Sitta Karina - Cerpen Bukan di New YorkFoto: @newyork_world

“Hai.” Inez menggeser nampan berisi roti lapis tuna, apel, dan teh.

Dahi Niki mengernyit melihat gelas kertas dengan asap mengepul di atasnya. “Ini nggak dijual di kantin.”

“Oh, ini kubawa sendiri. Teh chamomile. Aku tinggal minta air panas ke Earl.”

Niki mulai menyantap roti lapis isi tuna miliknya. “Kamu nggak harus duduk di sini,” ia melirik ke meja Larissa dan Bobby terlihat ikut duduk di situ seraya merebut topi yang sedang dikenakan Scott, saudara kembar Larissa.

Niki kembali menyantap makanannya seraya mencermati lembar surat kabar di meja.

Baca juga: Allegro, A Reno Hanafiah’s Perspective

“Kamu suka baca koran?”

Niki menggeleng. “Cari lowongan kerja.”

“Kamu butuh uang?” Inez menebak tanpa basa-basi.

Kali ini kepala Niki terangkat dan mereka pun saling bertatapan dalam jarak dekat.

Terlalu dekat, hingga Niki dapat melihat si putri berkulit sawo matang ini ternyata memiliki bibir bertekstur lembut dan bernuansa merah muda. Begitu kontras—sekaligus menawan—dibandingkan kulit gelapnya.

“Iya,” jawab Niki. “Biar bisa balik ke Bandung.”

“Mau ketemu pacar?”

Ingin rasanya Inez menarik kembali ucapan spontan itu.

Niki kembali menggeleng, mengulum senyum mendapati sosok jelita di depan—di luar dugaan—penasaran dengan kehidupan pribadinya.

“Everybody wants to go to New York.”

“Maybe not everyone.”

Niki tahu maksud Bapak baik dengan mengajaknya tinggal di sini saat beliau menyelesaikan program doktoral di City University of New York. Kedua kakaknya pernah mengenyam pendidikan di luar negeri, hasil beasiswa. Bapak berharap si bungsu juga mendapatkan kesempatan yang sama, sedangkan Niki sendiri tidak masalah jika masuk sekolah negeri di Bandung atau Jakarta.

Blog Sitta Karina - Cerpen Bukan di New YorkFoto via Pinterest

Niki hanya tidak menyangka prosesnya secepat ini—dan perasaannya akan menjadi sehampa ini.

Tiba-tiba Inez menarik gelang emas dari pergelangan tangan dan meletakkannya di atas meja. “Nih, buat tiket ke Jakarta. David Yurman. Delapan belas karat. Coba jual di Manhattan Buyers.”

Niki merengut, tidak suka. “No way!”

“Ini sekalian tanda terima kasihku.” Inez berusaha meyakinkan.

Niki mendorong gelang tipis itu ke tangan Inez. “Bukan ini yang gue butuh.”

Inez memutar kedua mata, gemas. “Jadi, kamu mending kerja, gitu?”

“Hell yeah.” Niki melipat kedua tangan di belakang kepala seraya bersandar ke kursi.

“Dan gue nggak minta apa-apa atas apa yang gue lakukan kemarin. Seharusnya Bobby, atau laki-laki mana pun, tidak bersikap begitu ke perempuan. Jadi, itu sesuatu yang harus gue… lawan.”

Niki bersyukur ada sapu tergeletak di dekatnya sehingga bisa dijadikan pengganti toya, tongkat panjang yang biasa menemaninya berlatih Kendo.

Mendengar penuturan itu, Inez kontan bengong. Belum pernah ia terkesima hanya karena sebuah ucapan simpel.

“Kalau kamu butuh kerjaan, aku tahu siapa yang lagi cari orang.” Inez tersenyum hangat. “Apa pun itu, terima kasih ya sudah kasih pelajaran ke Bobby Rhymes.”

“Kamu sudah dua kali ngomong begitu,” Niki mengingatkan. “Sama-sama, Inez.”

Mungkin terlalu cepat mengatakan bukan di New York hatinya akan tertambat. Mungkin semua tidak seburuk itu, pikir Niki.

“Hello! Earth to Inez?”

“Thanks, Is,” Inez memalingkan wajah dari jendela saat suara Larissa membuyarkan lamunannya,”sudah menerima Niki jadi pegawai di coffee shop barumu.”

“Pacarmu perlu belajar cepat. Devon Coffee lagi disorot setelah resensi memuaskan di New York Post.”

“Niki? Pacarku?” Inez melirik ke arah sang teman dengan raut berlagak polos. “Aku punya banyak penggemar, jadi buat apa punya pacar?”

Larissa hanya mengibaskan tangannya. “Typical Inez Hanfiah!”

“Tapi kuakui, Niki potensial banget jadi sahabat. Even better than a boyfriend.” ****

Baca lebih lanjut kisah Inez Hanafiah dan Niki Zakrie pada novel Pesan dari Bintang yang akan dirilis kembali sebagai bagian dari serial Keluarga Hanafiah ke-3 (stay tuned for more updates on this 😍😍😍).

Jangan lupa ikuti perjalanan keluarga besar ini dari buku-buku sebelumnya, yakni Lukisan Hujan, Imaji Terindah, dan Dunia Mara 😉

 

*) Feature image: @sarahsunita



Leave a Comment

  • (will not be published)


5 Responses

  1. Yuan

    My fav couple of Hanafiah stories! hoping to get a man like Niki Zakrie.

    Reply
  2. Laras

    Asliiiik kangen banget ma mereka berdua! Inez niki foreverrrr ❤️❤️❤️

    Reply
  3. Cynthia

    New release of Pesan dari Bintang ? YES, please! Looking forward Mba Sitta!! 💖💖

    Reply