Sejiwa – sebuah cerpen “Pesan dari Bintang”


blog sitta karina - sejiwa cerpen pesan dari bintangApa benar kita sehati-sejiwa?

Mengikuti kisah (dan perjuangan) Inez Hanafiah dan Niki Zakrie dalam novel Pesan dari Bintang mulai dari New York sampai kembali ke tanah air rasanya butuh energi ekstra.

By the way, please note the spoiler alert!

Jangan lanjut baca post ini jika kamu belum merampungkan novel Pesan dari Bintang, ya.

Yang belum punya novelnya, yuk beli  Pesan dari Bintang dengan harga khusus di toko resmi penerbit via Shopee dan Tokopedia 🙂

Nah, bagi yang sudah selesai melahap novel kesayangan ini, tentunya puas ‘kan dengan ending ceritanya…

Atau, malah belum?

Dari beberapa e-mail dan DM yang masuk, ternyata banyak yang pengin tahu lebih detail inside story pasangan favorit kita 💖 Beberapa seperti ini, nih:

“Inez dan Niki pengen langsung punya anak, nggak?”

“Gaji Niki cukup, tuh, buat nge-cover lifestyle Inez ???”

“Inez bisa tinggal di Bintaro???”

“Spill their s*x life plssss! Eh, nggak boleh jadi bahan gosipan yaa???”

“Jabatan Niki di Hanafiah Group apa, sih?”

“Sesempurna apa, coba, married life Niki dan Inez… asli, julid level dewa nih gue!”

Apa pun pertanyaanmu, sebagai obat kangen dengan kedua tokoh ini, silakan nikmati cerita pendek berikut, ya!

—-

Sejiwa

oleh Sitta Karina

 

INEZ Hanafiah tersenyum puas. Kamar mandi di rumah barunya—tempat yang Niki Zakrie sang suami sediakan untuknya—kini bertransformasi menjadi area solus per aqua alias spa mungil nan cantik. Sebuah pot bunga peace lily bertengger cantik tepat di tepi jendela. Cermin kecil bergaya mid-century dengan bingkai emas menambah nuansa elegan meja wastafel berbahan granit. Semua itu ibarat duplikasi kamar mandi pribadinya di rumah Mama dan Papa!

Tidak seperti taruhan beberapa orang di belakangnya, Inez ternyata berhasil melewati dua bulan pertama tinggal di situ tanpa kabur ke “istana” orangtuanya di Jalan Kertanegara, bilangan Kebayoran Baru.

Lagi pula, untuk apa kembali ke sana jika ia bisa membangun istana versinya sendiri bersama lelaki yang dicintainya, serta mencintainya dengan sepenuh hati?

Bersama Niki, Inez merasa aman dan nyaman. Ia tak habis pikir bagaimana lelaki yang mulai ketularan kebiasaan para sepupu Hanafiah—doyan melakukan push up sebelum tidur—berkenan mendengar keluh-kesahnya terkait proyek label Callasandra Origin sambil memberikan pijatan—juga kecupan kecil—di bahu, padahal Niki sendiri baru pulang dari sesi terapi pemulihan PTSD yang diidapnya.

Dengan jiwa yang masih setengah terluka, Niki bahkan tetap menghujaninya cinta dan perhatian seperti tak ada hari esok. Sesuatu yang  hingga detik ini tak pernah luput Inez syukuri.

Demi menjaga privasi mereka (mengingat Niki tak pernah tega menolak kedatangan anggota keluarga Hanafiah ke rumahnya), Inez selalu mengatur acara makan bersama di luar rumah. Minggu lalu bersama Mama, Papa, juga Nenek, kemudian dua hari yang lalu bersama Austin. Saat sesi dining berlangsung, ia kian menyadari betapa luwes sang suami bersikap. Niki memang bukan dari kalangan darah biru maupun old money di Menteng, tetapi caranya membawa diri seakan-akan menunjukkan ia demikian!

Ketika menuangkan sedikit air ke pot lili putih yang mulai bermekaran itu, Inez mendapati botol plastik berisi cairan serupa madu yang hanya tinggal setitik.

blog sitta karina - sejiwa cerpen pesan dari bintangFoto: Lonny

Spontan, ia menoleh ke luar pintu mendengar suara langkah familier—halus dan agak tergesa—mendekat.  “Nik?”

“Yes, querida?” Langkah Niki terhenti tepat di depan kamar mandi. Didorongnya pelan pintu itu, lalu mendapati sosok jelita dengan gaya santai yang membuat Niki tak pernah bosan memandanginya: linen shorts dan kaos longgar—kemungkinan besar miliknya.

Baca juga: Allegro, A Reno Hanafiah’s Perspective

“Kamu jadi ke bengkel siang ini?”

“Jadi,” tampak jeda sebelum lelaki ini mengerlingkan sebelah matanya,”kecuali, kamu butuh bantuanku di kamar mandi.”

“I do need your help, Nickelodeon, but not in the bathroom.” Inez tergelak dalam suara rendah.  “Pas pergi nanti, beliin sabun, dong. Punyaku udah habis.”

Selepas petang, Inez sudah bersiap menanggalkan baju ketika mendapati benda asing yang tak hanya terlihat kontras, tetapi juga tampak “tersesat” di tengah meja wastafel elegannya.

Ia mendekat untuk melihat lebih jelas beberapa saset entah-apa-itu yang digabung menjadi satu bundel dengan selotip.

Inez angkat benda itu dengan tatapan heran, sedikit tidak berkenan. Ini… sabun cair? Yang barusan Niki beli?

Untuk beberapa saat, perempuan dengan rambut ikal kecoklatan sepunggung ini termangu. Bibirnya hendak melisankan sesuatu, namun tak ada kata meluncur. Semua hanya bersua di hatinya saja.

Kenapa Niki malah beli ini, bukannya shower oil aroma almond yang selalu bertengger di tepi bathtub?

Bukankah setiap hari mereka mandi di tempat yang sama, jadi semestinya sang suami tahu sabun apa yang ia gunakan?

Selain itu, Niki memakai sabun yang sama juga ‘kan untuk mandi… atau tidak?

Mendadak, kedua mata Inez membesar. Jangan-jangan Niki sengaja membelikan sabun cair saset dengan tujuan menyindir gaya hidupnya yang dirasa berlebihan—le mode de vie somptueux?

Inez menoleh ke kanan dan kiri, antara linglung dan rikuh. Kamar mandi—ruang spa—ini merupakan salah satu sudut favoritnya di rumah yang dibangun Niki. Tak hanya mewah, ruangan bernuansa  putih gading seperti di San Clemente Palace Kempinski, Venesia, ini didominasi marmer paradiso yang khusus didatangkan dari Turki. Semua demi menjadikan kegiatan mandi dan merawat dirinya lebih sensasional.

Inez sangat menikmati momen memanjakan diri di ruangan yang baginya sakral, serta meditatif. Jika ia merasa nyaman dengan itu, seharusnya Niki juga ‘kan?

Atau, selama ini Niki malah tidak suka apa yang ia gemari?

Tiba-tiba, terdengar seruan keras dari arah ruang TV. “Come join me, Nez! The bathroom doesn’t need you.”

Tuh ‘kan! Dugaannya benar.

Keesokan harinya, mereka berdua mampir ke Plaza Senayan setelah pulang dari rumah Nenek Helena Hanafiah.

Niki berusaha tidak terlalu memikirkan sikap istrinya yang lebih banyak diam sejak tadi. Padahal, Inez paling doyan membangunkannya pagi-pagi buta di saat dirinya ingin tidur lebih lama pada akhir pekan. Lelah rasanya beradaptasi di lingkungan kerja baru yang juga berisi keluarga barunya. Barusan, ia terkejut mendapati dirinya bangun kesiangan dan istrinya sudah pergi ke kelas Pilates—tanpa meninggalkan kecupan di telinga, seperti biasa. Really, Nez.

blog sitta karina - sejiwa cerpen pesan dari bintangFoto via Pinterest

Setelah memasuki lobi, Inez terlihat makin tidak bersemangat. “Kayaknya aku mau lihat-lihat skincare—”

“Hey…” sebelum perempuan ini berlalu dengan tatapan menghindar, Niki tangkap jemarinya,“you okay? Kamu terlihat sedikit pucat. Terlalu capek sesi Pilates-nya?”

“I’m okay,” Inez hanya menggumam. Sekilas ia menoleh, rambut suaminya kini sudah lebih panjang dari potongan buzz cut yang minimalis, membingkai aura bandel dan slengean yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

Sebelum Niki melanjutkan ucapannya, ingin memastikan mereka akan membeli takeaways dari Marché Mövenpick untuk makan malam di rumah, figur Inez sudah menghilang dari hadapan.

Mendapati ini, Niki hanya menghela napas, gemas. Women and their PMS!

Baca juga: Imaji Terindah: Berawal dari Jamuan Makan Malam

Plaza Senayan dan tanggal muda benar-benar bukan paduan yang Niki sukai. Di tiap sudut mall begitu marak pengunjung hingga terasa  penuh sesak. Ia sempat menyesali rencana mampir ke sini di saat dirinya oke saja melahap nasi goreng atau burrito kreasi Inez untuk malam minggu mereka.

Seraya berjalan menjauh dari food court yang dipenuhi lautan manusia, Niki baru sadar, ia lupa menanyakan akan bertemu Inez di mana. Window-shopping versi istrinya tak mungkin berlangsung di satu tempat saja. Bagi Inez, menyusuri mall dengan sepatu hak tinggi tak ubahnya olahraga kardio.

Setelah empat kali panggilan telepon tak juga dijawab, Niki berinisiatif mendatangi tiap butik yang mungkin didatangi istrinya. Sejauh ini, ia bahkan sudah mengantongi empat sampel parfum lantaran berulang kali keluar-masuk gerai kecantikan.

Tatkala tiba di depan gerai perawatan tubuh bernuansa coklat—L’Occitane en Provence—ia menemukan Inez berdiri di depan konter, terlihat hendak membayar belanjaannya.

“Aku telepon kamu berkali-kali. Nggak kedengeran, ya?” Niki bertutur sabar walau sebenarnya ia gerah dan ingin segera hengkang dari mall.

“Aku lagi sibuk,” Inez menjawab singkat. Di depannya tampak lima botol sabun yang sudah dibayar, siap dimasukkan ke dalam kantong kertas.

Niki sadar akan suara ketus itu. Tetapi, ia sungguh tidak tahu apa yang menyebabkan perubahan sikap sang istri belakangan.

Dengan kalem, ia bantu Inez menenteng dua buah kantong belanjaan keluar dari gerai dengan wangi semerbak itu.

“Kamu pasti nggak suka aku belanja di sini ‘kan?” tiba-tiba, Inez berkata dengan sedikit terisak. Dilapnya air mata dengan bagian atas Gucci day dress nuansa merah muda.

“Umm—what?” tentu saja Niki heran ditembak begini.

“Sebelum nikah, kita ‘kan udah lama sahabatan, Nik. Seharusnya kamu tahu, dong, apa yang aku suka, termasuk sabun yang kupakai sehari-hari…”

“Sabun…?” raut Niki tampak pongo, masih belum paham.

“Aku minta kamu beliin sabun—sabun yang tiap hari kamu lihat di kamar mandi kita—tapi, kamu… entah kenapa kamu malah beliin aku yang kayak begitu…”

Ah, sekarang Niki ingat!

“Hei, Nez…” Niki menarik perempuan ini ke pelukannya sekaligus mengajak ke tepi selasar yang agak sepi. “Maaf, jika aku salah beli dan itu menyinggung perasaan kamu

“Kukira kita sehati-sejiwa, tetapi nyatanya nggak.

blog sitta karina - sejiwa cerpen pesan dari bintangFoto: Stoned Immaculate

“Pas pulang dari bengkel, aku sempat panik karena dompet ketinggalan di sana. Untung nggak hilang. Setelah itu, aku udah nggak mikir lagi dan beli sabun yang ada di minimarket sambil beli Aqua,” Niki menjelaskan dengan sedikit tergesa-gesa, berharap apa yang dilisankannya mampu mengubah apa pun itu penilaian istrinya.

Tetap tak ada respons dari Inez selain wajah yang dipalingkan dengan mimik kesal bercampur sedih.

“Maksudmu, sehati-sejiwa itu apa, sih? Bisa tahu sesuatu tanpa nanya, tanpa ngobrol?”

Inez mengangguk pelan. “Hal sesimpel sabun favoritku aja kamu nggak tahu.”

Bagi cowok, itu nggak simpel, Nez. Niki menggeleng berulang kali, gemas. Ditariknya Inez ke dalam dekapan, sesekali tak peduli terlihat lebih mesra dari biasanya di depan umum. “Kadang aku memang nggak ngeh. Tapi, itu bukan karena aku nggak perhatian. Lagi pula, sabunnya sekarang bisa langsung diganti dengan yang kamu suka ‘kan?”

Baca juga: That LUKISAN HUJAN’s Hotel Mulia Scene…

Inez ingin memperpanjang sikap merajuknya, diam-diam menikmati kesewotan Niki sebagai ungkapan sayang yang tak pernah berubah sejak mereka melewati masa SMA di New York.

Namun, kalimat berikut sang suami sukses menyentuh sisi kalbunya:

“Aku bukan malaikat. Jadi, nggak bisa selalu tahu isi hati kamu, kecuali kamu beritahu langsung. Pasangan bisa sehati-sejiwa ya karena komunikasi yang baik. Itu kamu dan aku. Sejak dulu.” Dengan cepat, Niki mengecup bibirnya.

Baru sesaat Inez meresapi kata-kata menyejukkan itu, sesuatu dari dalam terasa mengimpit dada. Membuatnya spontan mesti menutup mulut dengan tangannya.

“Kenapa?”

Napas Inez tampak kembang kempis. Ia berpegangan pada lengan suaminya demi tidak ambruk. “N-Nik… aku mual banget… entah kenapa…”

Paling mudah tentu bersikap panik, tetapi Niki tahu apa yang seharusnya ia lakukan seraya membiarkan istrinya terus bersandar. “Calm down. Take a deep breath. Should I take you to the ER?”

Anehnya, Inez malah menggeleng seraya tersenyum, walau wajahnya masih sepucat tadi. “I think you should get me a test pack.” ****

Aren’t those two soooo adorable?! 💕💕

Setelah Pesan dari Bintang, siap-siap berikutnya baca kisah Diaz Hanafiah di Putri Hujan & Kesatria Malam yang tak lama akan rilis, ya.

Penasaran ‘kan apakah Diaz akan kembali bertemu Sisy, atau memilih fokus menjalani hidup barunya?

Lengkapi seluruh buku serial Hanafiah dengan harga diskon sesimpel dengan membelinya secara online di Shopee dan Tokopedia.

 

*) Feature image: Alexander Krivitskiy via Unsplash



Leave a Comment

  • (will not be published)


16 Responses

  1. Ravina

    Aku ketawa pas baca bagian Niki pongo gara-gara ga ngerti istrinya ngomongin sabun apaan hahaha
    lucu bgt mereka. duh kangen deh sama Hanafiah:”)

    Reply
  2. Mita munaf

    Aw so happy
    Akhirnya ada cerpen baru tentang keluarga hanafiah😍
    Semua buku keluarga hanafiah udh saya baca dan ga ngebosenin walau diulang2 bacanya

    Really love inez&niki also sissy and diaz

    Reply
  3. Sachakarina

    Ya ampun, baru sadar ternyata sekangen itu sama keluarga Hanafiah setelah baca ini 😍 thank you for the sweet story kak 😍

    Reply
  4. Anindita Setyorini

    OMG, that’s really cute
    Where can I find someone just like Nikratama
    Niki, bisa mengimbangi ke wow an Inez dan keluarga Hanafiah yg wow juga
    But, ga cuma Niki, Lily, Sisy, Romy, Sora, Kayo, bahkan Aki terbukti bisa mengimbangi Hanafiah dengan tetap menjadi diri mereka tanpa pernah sedikitpun kesan mereka memanfaatkan status baru mereka sebagai para menantu dari keluarga Hanafiah
    Salut buat semua karakter diserial Hanafiah

    Reply
  5. Sarah

    Baru liat harga sabun loccitane yang inez pake… aseliiii… mahal abisss 😂 good luck, niki!

    Reply
  6. Christi

    Seneng baca nya.. kangen cerita Hanafiah banget.. kak Sitta lanjutin lagi ya ceritanya.. btw mkasih ya kak mengobati kekangenan ku

    Reply
  7. Ajeng

    ahh gemass!!! seriously communication is the key! even for a long time BFF turns Husband-Wife ❤
    waiting for more fluttering short story like this from all hanafiahs 😀
    thank you kak arie ❤

    Reply
  8. Riskasnuroji

    Senang sekali baca nyaaaa❤ semoga kak sitta bikin lanjutan nya yah
    Karena inez yang dikiss kok aku yang GR hihihi

    Reply
  9. Prita Wulandari

    pengen banget baca PDB lagi dari awal jadinya… dan pls pls pls dibuatin lagi dong lanjutan inez nikinya! segitu sukanya lho sama mereka berdua 😭

    Reply
  10. Kelan Hanafi

    Been loving this couple since day 1, dan kayaknya gak akan pernah lupa, ataupun stop admiring Niki and Inez💙

    Reply