Setelah Terbitnya Buku Pertama, Lalu Apa?


setelah-terbitkan-bukuPerjalanan menjadi penulis baru saja dimulai.

Hore… selamat atas terbitnya buku pertamamu setelah proses dan kerja keras yang cukup panjang.

Gimana rasanya?

Pastinya seneng banget ‘kan 😀

Setelah peluncuran buku usai (dan berlangsung sukses!)—setelah puas memandangi dan mencium wangi buku barumu, it’s time to get down to business!

Jika ingin serius menekuni dunia tulis-menulis, tak cukup hanya menelurkan satu buku dan berdiam diri saja setelah itu.

Salah satu kunci kesuksesan seorang penulis adalah mampu berkarya secara terus-menerus.

Oleh karena itu, penulis perlu melakukan langkah-langkah ini agar karier kepenulisannya tetap berkelanjutan alias “eksis terus”:

1. Siap dengan naskah berikutnya

Lepas dari buku pertamamu jadi best-seller atau tidak, kalau kamu menyukai menulis dan ingin menjadikan dunia ini bagian dari kariermu, sebaiknya kamu mulai mempersiapkan calon karya berikutnya.

Karya tersebut bisa berupa cerpen, novel, novela, bahkan tulisan non-fiksi.

2. Memiliki akun media sosial

Pastikan kamu memiliki akun media sosial seperti Twitter, Instagram, dan Facebook fanpage sebagai alat untuk mempromosikan bukumu.

Baca juga: Cara Menjadi Penulis Best-Seller Mulai dari Nol

Jangan lupa untuk meng-update akun-akun tersebut secara berkala serta pelajari cara, strategi, dan etika bermedia sosialnya.

3. Bikin blog

Miliki juga homepage berupa blog yang memuat daftar karyamu mulai dari novel sampai cerpen secara sistematis.

Pembaca jadi tahu bahwa kamu memiliki rencana berkarya ke depannya—dan tidak berniat menjadi “one hit wonder” saja.

Pada tahun 2005 (setahun setelah Lukisan Hujan pertama kali terbit), saya pun membuat blog pribadi.

Pada tahun berikutnya, barulah saya memiliki situs pribadi www.sittakarina.com.

4. Evaluasi kontrak dengan penerbit

Sering kali pada waktu menerbitkan karya pertama—saking menggebu-gebunya saat itu—kita tidak terlalu memperhatikan detail isi kontrak dari penerbit.

Kini, pastikan kembali isi kontrak bersifat win-win alias  menguntungkan bagi kamu, juga penerbit.

Oleh karena itu, baca ulang kembali kontrak tersebut, sekalian evaluasi seperti kerja sama yang terjalin dengan penerbit selama ini mulai dari kelancaran komunikasi sampai cara penerbit membantu mempromosikan bukumu.

Jangan lupa tanyakan juga pada penerbit, apa saja masukan dan kritik tentang dirimu dan karyamu selama ini.

5. Pastikan cari penerbit yang kredibel

Sudah puaskah dengan cara kerja penerbit?

Apakah penerbit beritikad baik dan memiliki rencana ke depan yang OK untuk kamu dan karyamu?

Semua ini dapat dilihat dari diskusi-diskusi yang sudah kamu lakukan dengan penerbit (visi, misi, dan etika kerja penerbit akan tampak di situ).

Selain itu, nilai-nilai yang dijunjung penerbit pun akan tampak dari isi kontrak kerja sama yang diajukan kepada kamu.

Mulai sekarang, tak lagi menganggur setelah satu karya kita selesai 🙂

Beristirahat sebentar—liburan, jika perlu—lalu kembali bersiap mengeluarkan karya menakjubkan berikutnya.

Setelah terbitnya buku pertama, apa saja yang menjadi rencanamu sebagai penulis?

Yuk, berbagi di kolom komentar!

 

*) Feature image: Sitta Karina



Leave a Comment

  • (will not be published)


8 Responses

  1. Saya sih udah selesai, tapi setelah dicek lagi eh halamannya dikit. Nggak memenuhi syarat minimal penerbit mana-mana. .__.

    Reply
    • N Firmansyah – Biasakan patokannya pakai jumlah kata. Untuk novel biasanya 50,000 – 100,000 kata. Bisa dilihat dari fitur Word Count di MS Word

    • keninglebar – berarti prioritas utama saat ini adalah menyelesaikan naskah ya. Good luck then!