#POPWRITING: The Untold Lesson (Part 1)


blog-sittakarina-popwriting-the-untold-lesson-part-1Seminar #PopWriting sudah lewat, tapi jangan sampai kelewatan ilmunya!

Menulis kisah fiksi populer atau #PopWriting bisa dilakukan oleh siapa saja, bahkan mereka yang tak lagi muda.

Pada hakikatnya, menulis merupakan kegiatan yang tak hanya membutuhkan kreativitas, melainkan juga ketekunan.

Termasuk saat terjun dalam bidang #PopWriting.

Lantas, apa saja yang perlu diingat penulis?

1. Ada tiga nasihat penting yang harus kalian ingat ketika menulis:

  • Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life. —Confucius
  • Creativity comes from a disciplined mind. —Najelaa Shihab
  • Jangan bermimpi jadi penullis fiksi kalau memiliki pikiran yang sempit. Sebab, pikiran terbuka adalah cikal bakal imajinasi. —Clara Ng

2. Penulis hendaknya berpikiran terbuka
Artinya, penulis berkenan melihat dari banyak sisi kehidupan.

Jika belum bisa, setidaknya latih agar mampu melihat dari sisi yang tak hanya berasal dari dirinya saja.

Jika tidak, bagaimana penulis mampu menciptakan tokoh cerita yang unik dan beragam?

Cara yang paling sederhana adalah sering-seringlah menjadi pengamat.

Praktikkan metode “serap dan saring’ terhadap segala kejadian baik dan buruk di sekitar kita, bukannya belum-belum bersikap skeptis dan menentang.

3. Kenapa sih ide dan inspirasi susah banget munculnya?
Nah, ini juga dialami oleh sebagian besar penulis. Premis sudah, kerangka/plot cerita sudah, penokohan sudah.. tapi apa lagi yang mau ditulis nih? Inspirasi biasanya muncul saat:

  • Sudah mepet dengan deadline
  • Hati dan pikiran terbuka, serta kondisi tubuh sehat

Saya lebih suka yang kedua, karena itu berarti ide dan inspirasi akan muncul lebih sering.

Maka itu, saya memilih jadi penulis yang nggak begadang, nggak merokok, dan rajin jogging (walau kadang hanya sempat 15 menit saja).

Errr, but I still like coffee as my companion 😊

Baca juga: Cara Menulis Cerita untuk Pemula

4. Unsur pop culture hanya pelengkap.
Sisanya adalah kompetensi kamu: kemampuan menulis dan kelihaian bercerita. Jadi, teruslah asah kedua hal itu dengan rajin menulis dan juga membaca. Membaca banyak buku membuat kamu bisa “mencuri” ilmu bercerita dari penulis lain.

5. Apakah ide supersimpel bisa dikembangkan menjadi cerita bagus?
Bisa dong!

Sebelum menulis Twilight, Stephenie Meyer selalu membayangkan tentang anak laki-laki yang tubuhnya jadi berkilauan ketika tertimpa sinar matahari.

Familiar with that?

Yes, that’s the very basic idea of Twilight saga.

6. Haruskah saya membuat pohon ide atau mind map seperti yang Kak Sitta buat?
Ide memang harus segera ditulis biar nggak lupa.

Mau bentuknya pohon atau corat-coret kasar saja, itu terserah kamu, kok.

7. Bagaimana kita tahu kalau that idea is “the one”?
Simpel saja, kalau kita tidak bisa melepaskan ide itu dari pikiran kita sampai berhari-hari dan kita selalu girang campur deg-degan saat membayangkannya, maka ya.. that idea of yours is the one!

8. Seperti apa sih genre novel bildungsroman?
Genre novel ini bercerita tentang masa transisi tokoh utama menjadi pribadi yang lebih dewasa. Coba baca karya-karyanya Wendy Mass dan novel saya, Kencana.

Salah satu cara membuat karya fiksi dengan genre ini adalah menjadikan proses pendewasaan diri kita sebagai sumber idenya.

9. Alur dan plot ternyata berbeda ya?
Betul!

Plot adalah rangkaian kejadian dalam cerita yang membuat cerita berjalan dari awal sampai akhir.

Sedangkan, alur merupakan urutan penyajian plot sebuah cerita. Alur yang umum digunakan dalam bercerita adalah:

  • Alur maju: A – B – C – D – E – F – G – H
  • Alur mundur: H – G – F – E – D – C – B – A
  • Alur campuran: A – B – F – E – D – C – G – H

10. Pentingkah sebuah nama dalam cerita?
Penting!

Terutama nama untuk tokoh utama cerita.

Pernahkah kamu memilih nama tokoh ceritamu dengan sembarangan?

Tentu tidak ‘kan?

Untuk karya yang lebih panjang seperti novel, nama lengkap tokoh memiliki peranan penting karena itu menunjukkan asal-usul dan latar belakang tokoh, serta menjadikan tokoh itu sebagai “seseorang yang hidup”.

Sementara pembahasannya sampai di sini dulu, ya.

Bagian keduanya akan saya buat dalam artikel selanjutnya, setelah keluar dari rumah sakit 😊

Untuk versi lebih lengkap, tunggu modul #PopWriting “Penjelasan Menulis Fiksi” dan “Serba-Serbi Menulis Fiksi” yang akan dikirim Penerbit Terrant Books kepada kalian para peserta seminar.

Mohon maaf atas segala kekurangan yang ada pada saat pelaksanaannya.

And for now, unleash your creativity!

 

*) Feature image: Ashley Creates Things



Leave a Comment

  • (will not be published)