Budaya Panikan


blog.sittakarina.com-budaya-panikan

Sering melihat orang ribet menghadapi sesuatu terus jadi panik? Atau bahkan kita sendiri ternyata panikan? Saya pernah. Dan ternyata ini banyak terjadi dengan orang-orang di sekeliling saya.

Seperti banyak personality trait lainnya, sikap panik ternyata bukan turunan, lho. Sikap ini melekat dan menjadi bagian dari diri kita karena “alam bawah sadar” kita merekamnya saat dilakukan oleh orang-orang di sekeliling kita dalam kurun waktu yang cukup lama. Misalnya, saat kita tiba-tiba dihadapkan pada masalah, yang pertama muncul paniknya dulu. Lalu setelah panik, disusul dengan ngomel dan akhirnya masalah melebar ke mana-mana. Atau saat salah satu sahabat kita salah langkah, ia sekejap jadi panik, takut dicerca sekelilingnya, otak pun blank, dan akhirnya malah tidak jernih dalam mengambil keputusan.

Lantas, bagaimana menyikapi sikap panik?

Berdasarkan pengalaman saya selama ini, pertama-tama kita mesti tenangkan diri. Cara menenangkan diri juga bermacam-macam: bisa dengan menghitung 1 sampai 10, membasuh muka dengan air dingin, mengucapkan kalimat bermuatan positif di dalam hati (Saya tidak akan marah. Saya tidak akan berbuat yang bikin menyesal kemudian), sampai mengalihkan diri dari hal buruk di depan mata ke sesuatu yang membuat perasaan kita jadi lebih enak. Dengan bersikap tenang, otak pun jadi mampu berpikir jernih, dan akhirnya kita dapat berkata dan bertindak semestinya.

Sayangnya banyak orang yang melihat ketenangan ini sebagai bentuk ketidakpedulian. Seorang anak 5 tahun menangis karena tidak dibelikan mainan. Di sebelahnya sang ibu terlihat kalem dan meminta si anak ke sudut ruangan yang tidak terlalu ramai untuk duduk. Melihat itu, beberapa orang yang melintas di situ langsung melabel si ibu sebagai sosok yang “cuek” dan “tidak perhatian”. Padahal kalau ibu ini panik dan memarahi anaknya dengan emosional, sikap si anak tentunya akan semakin menjadi-jadi dan solusi tidak akan pernah ketemu.

Latihan untuk nggak panikan bisa dimulai saat ini juga. Ketika menghadapi segala hal yang berlangsung di sekitar kita; pacar ngambek, nilai ujian yang keluar ternyata jelek, ban mobil mendadak kempes, sampai kemacetan Jakarta yang bikin kita telat untuk meeting sore. Agar situasi terkendali, yang pertama harus dikendalikan ya diri kita sendiri dulu 😉

*) Feature image via Mikchii


Tags: , , ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


3 Responses

  1. Talitha – Ya, tenang sama sekali bukan pasif. Cara orang merespon bisa berbeda-beda. Tapi, keuntungan bersikap tenang adalah mampu berpikir jernih. Bukannya disetir emosi maupun hawa napsu 😉

  2. talitha

    Iyaloh mbak,
    aku kalo bersikap tenang malah suka dibilang pasif dan ga inisiatif -_-‘
    padahal maksudnya mau melihat situasi dulu baru ambil keputusan…
    Nice to know ada yang sepemahaman sama saya 🙂