Mengapa Memaafkan Bikin Kita Sehat?


blog sittakarina - Mengapa Memaafkan Bikin Kita Sehat

Kapan terakhir kalinya kita merasa kesal dan susah banget untuk memaafkan? Mungkin baru beberapa menit yang lalu. Entah itu baru mendengar kabar bahwa ada teman yang selama ini kita percaya ternyata ngomongin kita di belakang, atau seperti yang sering saya alami, berargumen dengan bocah-bocah di rumah yang pola pikirnya makin kritis dan  kata-katanya sering kali menyayat hati. Letupan-letupan kecil dalam keseharian kita ini membuat mood langsung drop dan pikiran lebih berat dari biasanya. Tak hanya itu, pada beberapa kasus yang cukup pelik, sakit kepala pun ikutan hadir, membuat tubuh makin jauh dari kondisi fit. Ya, semua hanya karena satu hal: marah.

Urutan perasaan marah sampai reda

Kita pasti pernah dengar istilah yang muncul di tiap curhatan orang: shit happens in life. Pasti ada saja situasi dan sikap orang lain, disengaja maupun tidak, yang bikin kita marah dan tetap merasa begitu selama beberapa saat. Kadang, bisa sampai berhari-hari. Urutannya kira-kira begini:

  • Kita marah karena merasa disakiti orang lain, atau korban dari situasi tidak enak yang tak bisa kita kendalikan
  • Menyadari bahwa situasi tak berpihak pada kita—kita merasa diperlakukan tidak adil, rasa kesal makin menjadi
  • Dalam keadaan marah, kita mencari alasan dan pembenaran atas reaksi kita terhadap keadaan tersebut
  • Dan kita tidak menemukannya, hingga membuat kita makin geram dan semakin larut dalam amarah dan kekecewaan. Pada titik ini kita memiliki pilihan: larut dalam kemarahan (mendendam) atau berdamai.

Pada titik ini kita memiliki dua pilihan: larut dalam kemarahan (mendendam) atau berdamai.

Dulu, saya selalu mengikuti yang pertama. Saya mendendam kepada orang-orang yang salah sangka terhadap saya, tidak memberi kesempatan bagi saya untuk klarifikasi, lalu seenaknya men-judge, gosipin bareng-bareng hingga topik permasalahan melebar ke mana-mana, dan sebagai korban, saya merasa kian terpuruk.

Lama-lama saya menyadari, dalam situasi seperti ini, marah dan mendendam hanya membuat saya merasa kuat untuk beberapa saat saja. Di balik amarah dan dendam ini sebenarnya ada kesedihan yang tak mampu saya kelola, apalagi tenangkan. Parahnya lagi, saya menganggap rasa sedih tersebut identik dengan lemah. Tak berdaya.

Memaafkan berarti berdamai dengan diri sendiri

Memaafkan dimulai dengan mampu melihat keadaan as it is dan menerima sesuatu yang tak dapat kita ubah. Bahwa kita telah dijahati, memang demikian adanya. Tetapi, sikap jahat tersebut tidak dilakukan oleh kita, melainkan oleh si A. Dengan demikian sikap itu mencerminkan seperti apa A sesungguhnya. Yes, A is the bad guy, not me. Melihat kenyataan ini, biasanya saya jadi merasa lebih lega. Sedikit.

Namun, bagian tersulit proses ini adalah berdamai dengan keadaan. And it’s quite tricky to do! Apalagi jika masih terus-menerus menyalahkan diri, bukannya mengambil hikmah dari ketidakenakan itu.

“Ini pasti gara-gara gue beropini tadi, deh. Harusnya gue iyain aja pendapat mereka daripada jadi ribut.”

[Tidak ada yang salah dengan beropini sekalipun itu berbeda, asal tetap menghargai perbedaan itu. Sering kali orang lain yang justru sulit menerima perbedaan—and take things personally]

Atau malah bereaksi seperti ini:

“Emangnya gampang? Kenapa harus gue yang ambil hikmah? Gue ‘kan yang dirugikan!”

[Memang tidak gampang. Tapi, playing victim sambil terus-menerus menutup mata dan hati juga nggak akan membuat perasaan membaik]

Jadi, mulai sekarang, mulai dari diri sendiri.

Terima diri, maafkan diri atas segala kisruh yang sudah kepalang terjadi. Ajak hati untuk ikhlas, untuk menerima keadaan yang tak bisa diubah walau kita sudah berusaha sebaik mungkin 😊

Memaafkan bikin tubuh dan jiwa sehat, karena…

Kini, saya lebih mampu menertawakan kekacauan dan hal-hal yang terjadi di luar kendali tersebut. As long as I live, shit will always happen. Saya akan selalu berada di posisi memaafkan dan dimaafkan secara silih berganti. Jika saya sulit memaafkan segala ketidakenakan—hal-hal di luar rencana, kegagalan, penolakan, sampai pengkhianatan—itu sama saja menumpuk emosi negatif.

Hormon stres (kortisol) yang dihasilkan dari tumpukan emosi negatif ini kemudian akan menaikkan tekanan darah dan gula darah kita. Tahu ‘kan, kalau level kedua parameter ini tinggi, kita akan rentan terkena penyakit-penyakit berat, seperti penyakit jantung, diabetes, sampai kanker.

Selain itu, siapa sangka memaafkan juga bikin nyeri tubuh terasa berkurang. Badan nggak lagi terasa “berat”. Melangkah jadi nyaman, karena kita yakin bahwa selalu ada hal-hal positif—hikmah, remember?—di balik kejadian negatif yang menimpa kita.

“Terus, kalau orang yang nyakitin kita nggak layak dimaafkan, bagaimana?”

Untuk yang satu ini, saya selalu teringat sebuah quote yang “kena” banget:

Forgive others, not because they deserve forgiveness, but because you deserve peace.

 


Tags: ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


8 Responses

  1. wiga

    Makasih mbak Sitta, setlah sya baca artikel ini, teringat teman sya yg berasa jauh di sana…
    Tidak ada kata menyesal terhadap sesuatu, sblm maafkan satu sama lain…

  2. Ajak hati untuk ikhlas, untuk menerima keadaan yang tidak bisa kita ubah walaupun sudah berusaha sebaik mungkin <– this is the hardest part.

    Terima kasih sudah diingatkan bahwa saya harus berusaha lebih keras untuk legowo 🙂

  3. Forgive others, not because they deserve forgiveness, but because you deserve peace. >> like this quote. Thank you for sharing this mba Sitta