Menurut Aku vs. Menurut Kamu


blog sittakarina - Menurut Aku vs Menurut Kamu

Ternyata benar bayangan Naya, menikah bukan happy ending. Pagi ini, ia pergi tanpa pamit pada Iga suaminya lantaran kesal. Sarapan tak jadi dihabiskannya. Bahkan, kopi masih mengepul di atas meja makan mungil lungsuran dari Mayang, kakak iparnya. Yang paling parah, blus biru mudanya yang melambai tatkala ia melangkah tergesa-gesa keluar rumah malah mengenai tembok rumah kontrakan yang baru dicat semalam.

Semua karena Iga—atau tepatnya, respons Iga saat Naya curhat.

Semua dimulai saat mereka menyantap sarapan sembari sesekali melirik berita terkini di ponsel masing-masing. Kebiasaan yang masih ditolerir selama program bayi tabung mereka belum gol. Dengan adanya si kecil nanti, Naya dan Iga sepakat bahwa no gadget on the dining table adalah harga mati.

Lalu, sebuah teks dari seseorang yang tak diharapkan muncul di layar ponsel Naya.

“Siapa?” Melihat ekspresi tidak suka Naya, Iga pun bertanya.

“Erin.”

“Erin yang dulu pernah drama itu?”

“Nggak sekadar drama, Ga. Erin yang pernah fitnah kalau aku nilep uang community event di kantor dan ngajak satu divisi buat musuhin aku.”

“Iya, Nay. Aku inget.” Iga terkejut melihat reaksi sewot istrinya. Naya tak perlu mengulang sedetail itu. Sebelum akhirnya Iga pindah kantor dan tidak satu perusahaan lagi dengan istrinya, ia ada di barisan terdepan untuk mengklarifikasi masalah tersebut—tentu dengan caranya sendiri. Tidak drama. Tidak sinetron. Semua Iga eksekusi di balik layar dengan menghadirkan Naya yang setengah mati menahan diri karena keburu naik pitam dan Erin yang tetap angkuh dan merasa tak bersalah.

“Terus, sekarang Erin malah minta agar dilibatkan dalam acara community! Huh! Ngapain coba?” Naya kian bernapsu. Garpu dan pisau diletakkan setengah terbanting di atas piring. “Paling mau sok aktif biar cepet promosi. Aku pikir buat mencapai itu dia bakal nidurin Radith yang sekarang jadi bosnya—“

“Nay!”

Bentakan Iga kontan membungkam Naya sekaligus membuat rasa herannya mengkristal.

“Semua orang juga tau kalo Erin doyan sama Radith. Dulu kamu pasti pernah denger gosip itu ‘kan?”

Raut Iga masih kencang. “Coba baca Whatsapp-nya Erin,” perintahnya.

Walau enggan, Naya pun mengikuti permintaan suaminya. “Nay, untuk community tahun ini, masih ada lowongan panitia, nggak? Buat ngurusin budget, gue bisa bantu-bantu ya.” Ia membaca kembali pesan itu dengan air muka jijik.

“Isi Whatsapp-nya biasa aja, kok. Mungkin dia emang mau bantu.”

“Jelas-jelas bukan Erin banget, Ga. Pasti dia ada maunya!”

“Udah pernah tanya langsung ke Erin?”

“Perlu apa?! Erin tuh nggak cuma hipokrit, tapi juga drama queen tingkat dewa. Semua orang kantor juga tau!” hardik Naya, sempat kaget dengan nada suaranya sendiri. Tak pernah sebelumnya ia berkata sedemikian ketus pada suami yang baru setahun dinikahinya ini.

“Tapi, yang dia omongin di Whatsapp bisa aja bener. Kalau nggak mau bantu, ya udah. Tinggal bilang aja… apa kek, alasannya. Nggak perlu melebar ke mana-mana.”

“Yang aku bilang itu fakta, Ga. Fakta tentang Erin yang bikin aku hampir dipecat dari kantor!”

“Aku tahu siapa Erin itu. Aku tahu kejadian dulu itu bikin kamu nggak nyaman—kita semua nggak nyaman. Yang bikin aku bingung, kenapa kamu malah marah-marah sama aku, sih?”

“KARENA KAMU MALAH BELAIN ERIN, HARINGGA!” Saat Naya marah pada suaminya, ia akan begitu saja menyebutkan nama depan Iga yang menurutnya unik. Ia sungguh tidak mengharapkan ini; berdebat—memperdebatkan si musuh bebuyutan dengan suami tercintanya.

“Belain… Erin?” Muka Iga menunjukkan seolah-olah ia baru melihat atraksi badut kuda nil—mimpi  absurd saat dirinya masih kecil dan terakhir muncul beberapa bulan yang lalu, ketiga Iga lagi stres berat akibat beban kerjaan di kantor.

“Iya! Dari tadi malah belain si brengsek—“

“Naya!”

“—bukannya istri kamu sendiri!”

“Nggak ada yang belain Erin,” Iga menegaskan. “Erin mau kayak gimana, bukan urusan gue. Tapi, kamu, Naya—kamu adalah tanggung jawabku. Dan aku nggak akan diam saja kalau bicara kamu kasar begitu. Ke siapa pun. ”

Naya hanya memutar mata, antara gemas sekaligus terpukau melihat betapa seriusnya sang suami mengemban peran sebagai kepala keluarga—imamnya. Di sisi lain, ia sadar, saat Iga menggunakan panggilan gue, berarti kesabaran cowok berambut curly yang baru saja dipangkas pendek itu sudah mulai habis.

“Kita nggak bisa ngobrol seperti ini.” Iga menghela napas keras.

“Kamu nggak perlu ngobrol. Aku yang mau curhat, kok. Yang mau didengerin.”

Iga terkekeh, tapi nadanya sinis. “Oh, jadi gitu ya curhat versi kamu? Sewot dan cuma ngebuang-buang yang nggak enak aja. Aku bukan tong sampah, Nay.”

“Emang curhat kayak gimana lagi sih, Ga?”

“Gimana? Ya lakukan dengan cara baik, dong—“

Naya mendengarkan dengan kadar fokus hanya seperempat. Sisanya, ia setengah mati bingung menerjemahkan “curhat dengan cara baik” versi suaminya.

“—anggap aku sebagai teman bicara. Suami. Bukan lawan.”

Caranya gimana?

Seperti mampu membaca pikiran Naya, Iga meneruskan,”Mulai dengan tenangi diri kamu dulu, baru bicara. Bagi yang mengganjal di hati kamu ke aku tanpa marah-marah.”

Tapi, suasana sudah terlanjur panas. Sarapan alakadar di rumah yang baru mereka tempati—tanpa pembantu, tanpa perabot lengkap—mendadak hambar. Sementara itu, waktu terus bergulir. Tak memberi jeda bagi keduanya untuk menenangkan diri.

“Itu bukan curhat namanya,” gerutu Naya.

“Ini nggak akan ada habisnya.” Iga terlihat lelah, bahkan saat kesibukan kerja belum dimulai. “Kamu harus kerja, aku juga harus kerja, jadi kita—“

“Harus pergi,” Naya menyediakan jawaban dan berlalu dari situ.

Seraya memejamkan mata, Naya mengenyahkan rangkuman kejadian yang menyita pikiran tersebut.

Pagi yang menyebalkan.

Enaknya jadi Erin; udah memfitnah malah dibelain.

Baju baru beli, malah rusak kena cat.

Nggak sempat nyentuh kopi pula. Gimana bisa fokus pas meeting sama klien nanti?

Rumah nggak nyaman. Kenapa cat dindingnya harus ijo gitu, sih? Bikin harus ngecat ulang biar bagus. Kalau dipikir-pikir, harus ya ngontrak? Tinggal di rumah Mama ‘kan jauh lebih enak.

Poin terakhir bergelayut di pikiran lebih lama dari yang Naya perkirakan. Opini berkembang dari yang tadinya sekadar “rumah nggak nyaman” menjadi “harusnya pilih rumah kontrakan di cluster, bukannya di tengah kampung” dan “harusnya Iga ambil job di KL, dapet gaji gede, jadinya bisa beli perabotan yang layak”. Suasana hati uring-uringan ini bikin hari yang sudah berat jadi lima kali terasa lebih melelahkan.

Saat langit biru berganti jadi kemerahan, perasaan Naya berangsur gelisah. Seharian ia tidak menghubungi Iga, begitu juga sebaliknya. Menurut Iga, ia harus menenangkan diri, tapi bagaimana caranya?

Naya menutup layar laptop dan menjatuhkan tubuhnya pada sandaran kursi di belakangnya. Noda putih di baju yang tanpa sengaja tertangkap mata membuat hatinya membara lagi, siap menambah daftar panjang kekesalannya—

—atau tidak.

Perasaan lain, yang jelas-jelas bukan kesal apalagi marah, bersemi di hati. Entah bagaimana, bayangan saat Iga mengerok sisa cat hijau yang dibencinya sampai melapisi dinding dengan nuansa putih gading (yang menurut Naya anggun, sedangkan di mata Iga biasa saja) tiba-tiba muncul. Iga mengerjakan semua itu sampai pukul satu dini hari. Maka itu, di pagi hari cat masih setengah basah dan membekas di baju Naya. Semua demi mewujudkan kenyamanan versi Naya.

Naya langsung meraih ponsel dan menekan angka 1. Menghubungi sosok yang menduduki posisi teratas daftar orang terpenting dalam hidupnya.

“Cara tenangi diri yaitu dengan mengingat-ingat hal baik yang dilakukan pasangan kita.”

“Nay?”

“Aku bisa lebih cepat nenangin diri pas inget selama ini maksud Iga baik.”

“Kamu baru nyadar?” dari ujung sana, Iga terdengar mengejek.

Naya tak menggubris itu. “Dan kamu nggak pengen aku terjebak dalam kemarahanku sama Erin.”

“Ya.”

“Aku sejujurnya kangen, Ga…”

“Kalau begitu ke bawah, dong.”

“Ke bawah? Kamu… di lobi?” pekik Naya, tak mampu menyembunyikan letupan rasa bahagianya.

“Di Starbucks tepatnya. Nyelesein bahan presentasi buat besok sambil nungguin istrinya yang kalo ngambek lama banget.”

Mungkin menikah memang bukan happy ending, Naya memutuskan. Dengan gejolak dan kejutan seperti ini, menikah—lengkap dengan balada rumah kontrakan, usaha in vitro fertilization, hingga drama di kantor masing-masing—lebih cocok disebut sebagai happy beginning. Karena, mereka akan selalu mencari cara untuk menjalaninya dengan bahagia, untuk bahagia. ****

Feature image via Wyn Wiley


Tags: ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


5 Responses