Jadi Seleb 2.0 – in A Good Way!


blog-sittakarina-jadi-seleb-2-0-in-a-good-way-1

Welcome to social media drama.

Pernah lihat akun Twitter yang kayaknya orang biasa, bukan seleb, bukan akun anonim, bukan juga akun yang doyan melontarkan mention maupun soal-soal yang lebih ajaib daripada pertanyaan TTS tapi follower-nya banyak? Kok bisa?

Apa yang membuat orang mau follow dia, sih?

Apakah dia se-“gaul” itu hingga punya teman ribuan?

Karena penasaran akhirnya kita pun follow dia dan menemukan ciri khas tweet-nya yang sebenarnya tidak terlalu spesial, yakni update kegiatan sehari-harinya, beberapa quote motivasi, serta informasi remeh yang ternyata berguna macam “Wah iced coffee di Sevel ada rasa baru lho… Nom nom nom!”. Namun, sesuatu yang remeh nyatanya menarik, karena kebutuhan dasar kita untuk berinteraksi dengan manusia lain terpenuhi.

Media sosial mempermudah kita berinteraksi tanpa harus bertemu muka (seringkali ini menguntungkan di era kemacetan Jakarta yang jahanam banget 😭).

Serunya lagi, medsos juga merupakan panggung untuk kita berekspresi.

Eittt! Tapi ada rambu-rambu yang perlu kamu ketahui. Ekspresi diri di Facebook, Twitter, dan blog sah-sah saja selama kamu ingat ada hak orang lain yang membatasi ego kamu.

Simpelnya, kalau nggak mau dihina, jangan menghina orang lain.

Yuk, kita cek contoh kasus familier ini. Our dear friend, Ghea Dahlia, is known in Twitterverse as @GheaDahl. 

And yes, she tweets just like she breathes. Here’s her latest updates:

GheaDahl: Pathetic! Sweet 17 cuma bisa lo rayain di fast food resto? Alay abess!

Follower Ghea langsung membacanya.

Begitu juga teman sekolah yang jadi temannya di ranah Twitter.

Respon bertaburan seputar tweet Ghea.

Satu respon membuahkan lebih banyak respon lagi:

Icha123: Maksud lo apa c, G? RT @GheaDahl: Pathetic! Sweet 17 cuma bisa lo rayain di fast food resto? Alay abess!

AyaChan: Elo lg mabok ya??? RT @GheaDahl: Pathetic! Sweet 17 cuma bisa lo rayain di fast food resto? Alay abess!

MarioRacer: ur friend is a psycho! RT @Icha123: Maksud lo apa c, G? RT @GheaDahl: Pathetic! Sweet 17 cuma bisa lo rayain di fast food resto? Alay abess!

blog-sittakarina-jadi-seleb-2-0-in-a-good-way-2

Kurang dari sejam, muncul trending topic di Twitter dengan titel #Ghea dan #Alay. Begitu banyak orang berpendapat—sebagian menghujat ucapannya padahal Ghea mungkin cuma asal nyeplos saja. Mungkin juga ia memang seorang snob kronis yang selalu menilai sesuatu berdasarkan keren/nggak kerennya, tren/nggak ng-trennya.

Ghea mengekspresikan diri tanpa berpikir panjang. Ia berasumsi,”So what? It’s me and I have the right to speak it out!”.

Bagi Ghea, medsos adalah tempat dia bisa berkoar-koar seenaknya, tanpa menyadari bahwa itu bagian dari area publik.

Bisa bayangkan apa jadinya, kalo kita berteriak di lapangan basket sekolah seperti yang Ghea tweet?

Nah, ekspresi diri yang kebablasan serta mengarah ke tindakan negatif seperti menghina, mengejek, mengintimidasi, dan online-bullying lainnya, biasanya akan menjadikan kita “seleb Twitter” dalam waktu singkat.

Kita jadi terkenal di mata banyak teman dan peselancar dunia maya sebagai sosok nyebelin. Label diri pun jadi ikutan negatif.

Some call it cheap publicity.

Dan walau sudah meminta maaf serta mengklarifikasi pernyataan tersebut, tindakan kita akan selalu diingat.

Nama pun sudah terlanjur tercoreng.

We might be forgiven but surely not forgotten.

Jejak digital itu kejam. Setelah bertahun-tahun, apa yang kita umbar sering kali tidak sepenuhnya bisa dihapus.

Jadi, sebelum terjun ke media sosial, yuk bercermin dulu: bisa nggak kita jadi orang yang open-minded, nggak sensi, dan nggak belagu?

Tahu diri ketika mengkritik, dan berbesar hati ketika dikritik.

Nggak perlu jadi orang yang selalu setuju dengan pendapat orang lain, kok. Kalau tidak setuju, kemukakan opinimu dengan jujur dan baik a.k.a. nggak nyolot.

Intinya, jangan sampai kamu jadi seleb Twitter pengganti Ghea.

Apa yang bisa kamu lakukan agar nggak nggak jadi public enemy di social media?

1. You are what you tweet

Semua orang bisa jadi “telanjang” di social media. Karakter asli kamu terlihat dari caramu berkomunikasi di Twitter dan Facebook. Jadi berhati-hatilah: “tweet-mu, harimaumu”.

2. Kendalikan diri

Marah, senang, sedih; kamu tidak perlu mengumbar semuanya secara gamblang kan? Beri ruang untuk kehidupan pribadimu juga. 

3. Jaga koordinasi otak, hati, dan tangan

Jangan tergesa-gesa. Pikirkan dulu kata yang akan kamu ketik sebelum update statusmu. 

4. Mengkritik, bukan mencela

Tidak setuju dengan suatu pernyataan maupun diskusi, kamu boleh melayangkan argumen, bahkan kritik. Tapi, lakukan itu dengan sopan dan pantas.

5. Jangan gede ambek

Jangan anggap akhir dunia apabila giliran kamu yang dikritik. Orang tidak harus selalu sepaham dengan kita, kan? 

6. Intimidating tweet ≠ smart & witty tweet

Buat status update yang keren, lucu, maupun informatif tanpa harus  mengintimidasi pihak tertentu. Di sinilah kamu bisa jadi seleb 2.0 yang sesungguhnya tanpa harus cari musuh.

Punya pengalaman tak terlupakan saat mengarungi dunia social media?

Yuk, berbagi di sini!

 

*) Feature image: Larisa Birta via unsplash.com



Leave a Comment

  • (will not be published)


3 Responses

  1. Sitta Karina

    @Nur Hayati, @Rusa Bawean — Senang ada yg sependapat tentang ini. Ketika saling menyapa (maupun berdebat) di media sosial, saya selalu membayangkan sedang berhadapan langsung dg orangnya. What will we do that time; talking or shouting? 😉

    Reply