Serangan Panik Terjadi? Lakukan Ini Dulu


blog sitta karina - serangan panikSaat panik mengambil alih.

Kita tentu pernah dong merasa panik. Dokumen meeting tertinggal di taksi, lupa membawa kartu saat ujian, sampai mendengar kabar dari sekolah bahwa si kecil terjatuh dari perosotan.

Walau sebagian besar kejadian penyebab serangan panik tersebut sudah berlalu, sering kali kita masih ingat sensasi rasanya saat itu.

Jantung berdebar keras, tubuh mendadak berkeringat, sampai lidah terasa kelu, lalu tiba-tiba kita bak kehilangan kendali atas diri sendiri. Sungguh pengalaman yang menakutkan sekaligus menyesakkan!

Merasakan serangan panik merupakan salah satu pengalaman emosional yang wajar dialami seseorang. Namun, kondisi ini menjadi tidak wajar jika berlangsung cukup sering dengan intensitas tinggi, yakni sampai membuat seseorang merasa takut berlebihan.

 

Penyebab Serangan Panik

Walau banyak pendapat mengatakan konsumsi kafein secara berlebih meningkatkan risiko terkena panic attack, penyebab utamanya bukan ini.

Ada kejadian lain yang bersifat traumatis dan cukup intens di masa lalu seseorang yang memainkan peran.

Trauma masa lalu dipicu kondisi stres yang terus-menerus diidap seseorang tanpa teratasi akan memicu munculnya serangan panik dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Anxiety No More, Ini Cara Mengatasinya

Selain itu, bagi sebagian orang (terutama mereka yang introver), perubahan suasana secara mendadak juga bisa menjadi pemicu.

Misalnya, Meinar sedang menikmati pantry yang senyap setelah jam makan siang usai. Namun, mendadak beberapa kolega dari divisi lain memenuhi ruangan untuk menggelar rapat dadakan di situ.

Belakangan Meinar sendiri juga tengah bergelut dengan kondisi stres  yang terus menumpuk. Ditambah, salah satu dari kolega yang muncul di ruangan tak lain Arman, mantan pacar yang selama ini berusaha ia hindari setengah mati akibat drama putus-nyambung hubungan mereka yang kerap membuatnya tidak nyaman.

Meinar merasa terperangkap. Mau langsung kabur, tapi nggak ingin terkesan too obvious. Tinggal di situ bersama Arman dan teman-temannya kok terasa menyiksa banget.

 

Lakukan Ini Ketika Panik Menyerang

Saat terjadi, ciri-ciri serangan panik biasanya akan tampak spesifik pada diri seseorang. Mulai dari keringat mengucur deras, tangan kesemutan, jantung berdetak cepat, nafas menderu, pusing, mual sampai sakit perut.

Sebagian besar gejala itu secara jelas dirasakan Meinar. Kabur selalu menjadi jalan keluar termudah selama ini. Namun, sekarang ia tak ingin dirinya begitu mudah dikuasai ketakutan yang tak nyata tersebut—ia akan melawan balik.

Daripada mengikuti rasa panik yang dengan cepat menjelma menjadi ketakutan, ini yang dilakukannya ketika serangan panik datang:

1. Jangan takut

Berulang kali Meinar ingatkan dirinya untuk tidak menyerah terhadap rasa takut yang ingin menguasai dirinya. Hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya, dan toh ia masih tetap hidup sampai detik ini. Semua kecemasan ini hanya bersifat sementara, seperti halnya emosi negatif lain yang pernah ia rasakan.

2. Cari tempat yang lebih tenang

Jangan berlari kabur maupun melakukan gerakan impulsif lainnya ketika serangan ini muncul. Coba menepi ke tempat yang tidak terlalu ramai. Lakukan perlahan, tanpa tergesa-gesa agar tidak membahayakan keselamatan kita sendiri.

3. Tetap bergerak

Dengan tetap bergerak, berjalan kaki misalnya, tubuh dan pikiran jadi tetap berdaya. Kondisi ini membuat rasa panik tidak akan menetap lama, karena kita sudah lebih dulu membuat diri sibuk melakukan hal lain.

4. Coba bernafas teratur

Tarik nafas, keluarkan. Begitu terus, hitung sampai 6, lalu ulangi lagi. Ini merupakan cara mengajak diri fokus sekaligus menenangkan diri yang paling sederhana, namun terbukti cukup ampuh.

5. Pijat bahu

Lakukan pijatan secara mandiri pada bagian tubuh yang kaku (biasanya sekitar bahu dan leher) saat serangan panik tiba-tiba muncul. Tindakan ini membantu diri menjadi lebih rileks dengan mengurangi rasa cemas yang ada.

6. Hubungi seseorang yang bisa diandalkan

Telepon sosok tepercaya yang bisa mendengarkan keluh-kesahmu saat ini. Mengobrol dengan orang terdekat mampu menurunkan kadar hormon stres yang tentunya membantu mengurangi intensitas rasa panik.

7. Yakin pada kekuatan diri

Jika tidak ada siapa pun yang bisa diandalkan saat serangan panik menyergap, cara terakhir adalah berpegang teguh pada kekuatan kita sendiri. Yakinlah bahwa semua ini akan berlalu dan menjadi lebih terkendali jika kita tidak kalah terhadap rasa takut yang akan menguasai diri. Hang in there, you got this.

Intensitas serangan panik pada tiap orang memang berbeda. Begitu juga dengan kapan hal tersebut muncul.

Namun, bukan berarti serangan panik merupakan sesuatu yang membahayakan. Mengganggu sih iya.

Panic attack bisa dikendalikan seiring dengan waktu dan latihan. Kuncinya ada pada tekad diri untuk pulih, sambil berkonsultasi dengan terapis perihal penyebab gangguan ini.

Seperti yang Meinar kerap bisikkan kepada dirinya,”Hang in there, you got this.”

Pernahkah kamu mengalami serangan panik seperti di atas?

Yuk, berbagi pengalamannya. Siapa tahu itu membuatmu merasa tidak sendiri dan, tentunya, lebih berdaya 😉

 

*) Feature image via weheartit



Leave a Comment

  • (will not be published)


5 Responses

  1. Sofya

    sering banget, kalo aku, mikir hal yang aku takutin pasti berakhir, dan mau gakmau harus dijalanin.

    Reply