7 Pertanyaan Penting Sebelum Memutuskan Menikah


Blog Sittakarina - Pertanyaan Penting Sebelum Memutuskan MenikahMenikah bukan sekadar akhir indah dalam dongeng.

Saat hubungan kita sampai pada tahap ini, perasaan jadi campur aduk. Bahagia, girang, deg-degan, dan bagi saya dulu, ini merupakan puncaknya anxietyAkibatnya, kita pun kerap berpikir tak jernih, padahal inilah saat yang paling membutuhkan kejernihan… dalam berbagai aspek!

Hubungan yang lebih serius tidak selalu ditentukan oleh usia hubungan itu sendiri.

Tidak semua hubungan lama pasti akan berakhir pada pernikahan.

Serta, tidak semua hubungan yang masih dalam hitungan bulan tak bisa melanjutkan ke jenjang ini.

Memutuskan untuk menikah atau tidak lebih merupakan dialog batin—diskusi kita dengan diri sendiri—ketimbang mendengarkan ricuhnya komentar orang sekitar, terlebih yang bermuatan pressure atau berlandaskan rasa takut (takut jadi perawan tua, takut nggak dapat jodoh, dan segala jenis takut-takut lainnya).

Masukan dari orang sekitar, terutama orang tua, memang penting. Namun perlu kita sadari, yang nantinya menjalani kehidupan berumah tangga ya kita sendiri. So, be very aware of what you decide, of what you choose.

Selain itu, ada sesuatu yang tidak kalah penting untuk dilakukan sebelum maju dengan keputusan “I do” tersebut, yakni berdiskusi dengan calon pasangan kita.

Apa adanya. Blak-blakan. Dari hati ke hati.

Sayangnya, banyak pasangan yang tidak melakukan tahapan ini. Atau, hanya ngobrol selewatnya saja. Akibatnya, muncul deh penyesalan demi penyesalan di kemudian hari, serta yang terparah, hubungan pun berakhir dengan perceraian.

Baca juga: Dicari: Family Man

Saya ingat pertama kali dekat dengan Trias 12 tahun lalu. Saat itu sekitar dua minggu setelah Ayah meninggal. Jadi, wajar ketika banyak orang mengira kedekatan kita semata karena saya baru kehilangan figur bapak.  Yang tidak mereka tahu adalah kita berdua justru sering banget berdiskusi. Awalnya, obrolan hanya seputar keluarga masing-masing, pekerjaan, isu terkini.

Lalu, diskusi pun makin mendalam dan berkembang menjadi: “Kalau berkeluarga, value apa yang menurut kamu penting?”

Sampai sekarang, diskusi, argumen, kompromi, dan rekonsiliasi tersebut (yang prosesnya kadang alot,  kadang bisa cepat sayang-sayangan lagi) masih berlangsung.

Namun, melihat kembali ke belakang, dengan hanya waktu 2 bulan pacaran sebelum akhirnya memutuskan menikah, kita berdua mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan penting ini di sela-sela kencan singkat kita berdua (saat itu Trias tinggal di luar kota karena tuntutan pekerjaan dan hanya kembali ke Jakarta sebulan 2x):

  1. Bagaimana peran agama dalam berkeluarga? Seperti apa pendekatannya? Datang dari keluarga berbeda, tentu berbeda pula pandangan dan penerapan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk soal agama. Diskusi secara terbuka soal ini, dimulai sejak sebelum menikah,  mampu menjembatani perbedaan yang ada.
  2. Siapa pencari nafkah? Siapa yang mengurus rumah tangga? Seperti apa pembagiannya? Tidak usah ambil pusing akan pendapat orang lain tentang kesepakatan yang bakal kita jalani bersama calon pasangan. Selama sama-sama nyaman dan mau bekerja sama, just do it.
  3. Seperti apa pola asuh ketika nanti memiliki anak? Apa peran masing-masing orang tua? Tidak ada juklak pasti dalam menerapkan parenting. Mendidik anak sendiri merupakan perjalanan berkelanjutan yang tersusun dari kasih sayang, komitmen, kerja sama, serta trial & error.
  4. Nilai apa yang paling penting bagi kamu? Bagaimana kita bisa menyelaraskan semua itu? Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk kita, pasangan, maupun calon ibu mertua. Nilai-nilai yang penting bagi kita, belum tentu sebaliknya bagi pasangan. Tapi, perbedaan bukanlah sesuatu untuk dipertentangkan, apalagi di-“drama”-in. Saling menghargai dan berkolaborasilah. Capai tujuan pernikahan dengan cara saling melengkapi.
  5. Apa kekurangan diri yang paling menonjol? Menyadari hal ini membuat kita dan pasangan sama-sama mawas diri akan ruang untuk memperbaiki diri serta saling mengingatkan satu sama lain di kemudian hari.
  6. Bagaimana cara mengelola keuangan? Titik utama masalah keuangan setelah menikah sering kali berpangkal dari komunikasi. Jadi, sebelum kita dengan gamblang membuka ruang diskusi tentang topik yang kerap dianggap tabu ini, pastikan fondasi komunikasi kita sudah baik.
  7. Seperti apa batasan terhadap keterlibatan keluarga besar? Dengan memberikan batasan jelas, itu berarti kita menghargai hak diri juga pasangan. Secara tidak langsung, kita pun menghormati keluarga besar dengan menghindari benturan dengan mereka. Seperti yang kita ketahui, keluarga besar yang suka ikut campur urusan domestik membuat hubungan langgeng dalam pernikahan sulit tercapai.

Banyak orang enggan membuka diskusi dari hati ke hati seperti ini karena takut akan realita jawabannya. Padahal, lebih baik kita tahu sejak awal dan renungkan baik-baik; seberapa besar toleransi yang dibutuhkan? Mampukah kita menerimanya?

Pada akhirnya keputusan ada di tangan kita, lepas dari dukungan—maupun tekanan—orang-orang di sekitar kita.

Selain tujuh hal basic di atas (jika pada akhirnya kita memutuskan menikah), akan banyak hal baru yang penting sekaligus menantang untuk didiskusikan, seiring bertambahnya usia pernikahan. Kuncinya ada dua: senantiasa berdiskusi dan berkomitmen.

Berdasarkan pendapat maupun pengalaman pribadi kalian dalam menyikapi hal ini, kira-kira pertanyaan penting apa lagi yang perlu diajukan ke calon pasangan?

 

*) Feature image by Peter & Veronika via BRIDES


Tags: , ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


5 Responses

  1. NOTES FOR ME!! supaya tidak tertekan dengan rasa takut dan teman-temannya, Makasih Kak Sitta

  2. Thanks SO MUCH ! Artikelnya sangat membantu saya untuk memahami diri sendiri serta kemantapan mental saat menikah. sebetulnya kuncinya jujur dan to the point agar harmoni pasangan dalam sisi emosi dan keinginan selaras.

    love loveee mba sitta

  3. Kak Sita, aku ijin reblog ya. Kurasa penting karena sudah mulai sampai di tahap ini.
    Terima kasih