1 Hal Penting yang Harus Dilakukan Penulis Agar Cerita Tidak Kedodoran


blog sittakarina - 1 Hal Penting yang Harus Dilakukan Penulis Agar Cerita Tidak Kedodoran

Saat cerita kedodoran di tengah, berarti ada hal esensial yang selama ini terlewatkan.

Cerita kedodoran? Memangnya bisa ya? Bisa banget! Tanyakan pada semua penulis yang kita kenal, pasti sebagian besar akan menjawab ya, atau setidaknya pernah mengalami cerita yang kedodoran saat disusun, terutama pada plot bagian tengah.

Saat mood lagi enak dan semangat sedang tinggi-tingginya, menulis cerita pun jadi proses yang enak. Kata demi kata terasa “mengalir”. Dengan mudahnya ide di kepala diubah menjadi rangkaian kalimat yang lambat-laun membentuk narasi yang berhiwa. Tetapi, semua bisa berubah saat memasuki bagian tengah cerita, saat kita sedang dilanda stres (kerjaan di kantor menumpuk, ada “drama” dengan teman yang berlarut-larut, atau padatnya urusan sekolah anak), maupun saat kita menyusun cerita yang panjang dan memiliki plot kompleks. Aksi, dialog dan deskripsi yang tadinya menjadikan cerita bergulir dengan jelas, mendadak kehilangan arah. Akibatnya, sebagai penulis, kita pun jadi bingung kapan menyudahi cerita tersebut. Atau, yang paling parah, kita bahkan sudah nggak tahu tentang apa lagi isi cerita ini!

Jadi, apa yang sebaiknya penulis lakukan untuk menghindari jebakan ini?

Rumuskan tujuan tokoh! Tentukan apa yang ingin si tokoh setengah mati ingin capai dalam cerita tersebut. Dan pastikan untuk melakukan ini (terutama pada tokoh utama) sebelum mulai menggarap naskahmu. Yup, inilah hal esensial yang kerap dilewatkan penulis. Padahal, catatan singkat tentang apa motif dan tujuan tokoh ibarat kompas untuk cerita tersebut. Dengan menentukannya, menyusun plot cerita maupun menggambarkan karakterisasi tokoh akan lebih jelas dan terarah. Proses mengembangkan cerita dari bab ke bab pun jadi lebih mudah.

Dulu saya tipe yang asal terabas saja pas sedang mood menulis. Tinggal tulis tanpa perencanaan apa-apa. Toh selama ini semua naskah bisa rampung dengan sukses tanpa banyak kendala. Kesulitan ternyata  mulai muncul ketika si sulung Harsya sudah lahir; saya tak lagi bisa menulis cerita dengan leluasa dan terus-menerus seperti masa sebelum punya anak. Alhasil, ide-ide malah tidak tersalurkan dan proses menulis pun kacau.

Pada kesempatan berikutnya (kali ini Harsya dan Nara sudah lebih besar dan kerjaannya ngajak main ibunya sepak bola melulu), saya stuck di bagian akhir kisah Lukisan Hujan! Rasanya bingung banget bagaimana sebaiknya mengakhiri cerita yang saya tulis ulang itu, yang sudah banyak pembaruan di sana-sini. Padahal,  saat itu deadline sudah di depan mata.

Setelah saya renungi baik-baik, saya paham bahwa sejak awal menulis, saya tidak mencantumkan apa yang menggerakkkan tokoh utamanya—apa tujuan yang ingin mereka capai sehingga cerita ini terjadi. Ups, kesalahan mendasar. Jadi, sebelum revisi kedua draf dimulai, saya pun membuat catatan kecil yang ternyata amat membantu ini:

Cerita: Lukisan Hujan
Tujuan Tokoh:

  1. Diaz: ingin melatih diri berinteraksi lebih hangat kepada perempuan agar bisa memenangkan hati Anggia, mantan kekasihnya.
  2. Sisy: ingin memiliki sosok laki-laki yang bisa menggantikan posisi mendiang kakaknya, Tezar, yang sudah meninggal karena sakit.
  3. Igo: ingin lepas dari bayang-bayang sahabatnya, Diaz, yang selama ini lebih populer di mata perempuan.
  4. Anggia: ingin bersama sosok lelaki hangat yang memperlakukannya bak seorang ratu.

Apakah perlu menuliskan tujuan seluruh tokoh yang muncul dalam cerita? Menurut saya, tidak. Cukup tokoh utama dan tokoh pembantu yang memegang peranan penting saja.  Setelah ini dilakukan, ternyata semua jadi jelas. Tahu ke mana cerita ini akan saya bawa. Dan yang terpenting, penulis harus paham, kapan tujuan tersebut akhirnya tercapai—atau tidak tercapai—dan apa yang terjadi setelahnya. Saat itulah, cerita dianggap sudah layak menemukan titik akhirnya.

Jadi, bagaimana menurutmu, pentingkah merumuskan tujuan tokoh utama saat menggarap cerita?

*) Feature image via mija_mija


Tags:


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


5 Responses

  1. si A

    Sukaaaa sama mbak Sitta Karina. Suka novelnya juga, carinya di priceza.co.id dan banyak banget pilihannya. Makasih yaaa…selain bisa kasih cerita OK, mbak Sitta juga ngasih tips nulis yg bisa banget kita contek, hehe… Semangat!

  2. Diah

    Makasih kak tipsnya. Saya jg lg nulis novel. Tapi berhenti di tengah jalan. Ternyata emang ini penyebabnya ^^ thanks a lot kak.