3 Langkah Mengubah Ide Menjadi Cerita


Blog Sittakarina - 3 Langkah Mengubah Ide Menjadi Cerita

Mengubah ide menjadi cerita ternyata lebih pusing daripada menulis cerita itu sendiri!

Karena itulah penulis sering kali lebih menikmati momen-momen saat ide briliannya bersarang di kepala daripada proses menuangkan ide tersebut menjadi serangkaian cerita. Hal seperti ini nggak hanya terjadi pada penulis yang baru pertama kali memulai cerita, tetapi juga pada mereka yang sudah bekerja secara profesional.

Tapiiii… kalau ide tetap di kepala melulu, kapan dong cerita andalan kita selesai? 🙈

Ide yang hadir di kepala bisa berupa serpihan-serpihan kejadian yang berhubungan satu sama lain, tidak saling berhubungan, maupun berupa satu kejadian/adegan tunggal.

Contoh ide untuk cerita baru bisa sesimpel ini: Amira menyukai pegawai baru yang charming di kantornya, namun orang ini ternyata mata-mata dari perusahaan pesaing.

Hmm, kira-kira ide di atas masuk ke kategori ide yang mana ya?

Yup, ide tersebut merupakan adegan tunggal!

Selain itu, kadang ide-ide cerita mampir di kepala dalam bentuk seperti ini:

Ide berupa kejadian-kejadian yang tidak saling berhubungan

  • Amira berjanji tidak akan jatuh cinta lagi dengan teman sekantornya.
  • Suasana saat Amira menjalani hari-harinya seperti kejadian déjà vu.
  • Ada sesuatu yang intriguing tentang Garda—naif dan murah senyum, tetapi penuh kehati-hatian.
  • Pintu ruangan di sebelah kubikel Amira kerap terbuka di pagi hari. Padahal, Amira yakin sudah menutupnya sebelum pulang dari kantor.

Ide berupa kejadian-kejadian yang saling berhubungan

  • Setelah mematikan lampu ruang kerja dan meraih gelas kopi, Amira mendengar suara pintu dibuka dari ruang sebelah.
  • Amira terkejut melihat sosok yang memasuki ruang kerja atasannya yang tak lain Garda, si special hire baru yang charming dan sering berbagi kopi dengannya.
  • Amira meyakini Garda sebagai mata-mata yang dicurigai bosnya, jadi ia akan mengintai gerak-geriknya.
  • Amira mendapati sebuah map familier di lengan Garda, membuatnya kecewa karena ia mengira Garda bukan seperti pria-pria petakilan di kantor.

Seperti apa pun cara ide hadir, pastikan kita mencatatnya secara detail agar tidak lupa. Setidaknya himpun dulu semuanya walau proses kreatif mengubah ide menjadi cerita dilakukan belakangan.

Nah, setelah kita menentukan ide terbaik yang akan kita garap, idealnya kita langsung membuat perencanaan cerita termasuk plot di dalamnya. Namun, saat proses tersebut masih juga sulit dilakukan, saya biasanya menggunakan 3 langkah sederhana yang mampu menjembatani proses memilah ide dan perencanaan cerita.

Apa saja ketiga langkah itu?

1. Identifikasi masalah utama yang dialami tokoh utama

Oke, anggap saja nama tokoh utama cerita sama seperti di atas, yakni Amira. Selanjutnya, pastikan kita mengetahui satu masalah besar dan signifikan (ya, cukup 1 kok!) yang selama ini mengganggu kehidupan si tokoh utama.

Untuk calon cerita ini, masalah utamanya adalah Amira selalu terlibat “cinlok” alias cinta lokasi dengan teman sekantornya sehingga karier jadi berantakan. Amira sangat tidak menyukai keadaan tersebut, namun di sisi lain ia tertarik pada Garda.

2. Gali latar belakang kehidupan si tokoh utama

Hal-hal yang pernah terjadi dalam kehidupan tokoh utama akan mempengaruhi cara pandang, pola pikir, dan keputusan-keputusan yang akan diambilnya.

Seperti apa latar belakang kehidupan Amira di benak penulis? Hmm, ternyata Amira besar dalam keluarga yang amat sibuk, terutama sang ayah. Hubungan dengan ayahnya yang jauh dari hangat membuat Amira tanpa sadar mendambakan perhatian lelaki. Sayangnya, Amira sering kali tidak bisa membedakan, mana yang benar-benar tulus, mana yang cuma iseng.

3. Gabungkan masalah utama dan latar belakang tersebut

Ketika poin pertama dan kedua digabungkan, maka muncullah… konflik!

Konflik merupakan jantung cerita. Tanpa konflik, cerita yang kita susun hanyalah rangkaian kejadian tanpa  rasa, tak berjiwa.

Cerita menjadi “hidup” begitu si tokoh utama yang memiliki kebiasaan dan cara pandang tertentu terbentur masalah yang membuka matanya.

Untuk kisah Amira, dengan menggabungkan masalah dan latar belakang si tokoh utama, maka didapatkan kondisi yang saling bertentangan: Amira yang kurang kasih sayang sepanjang hidupnya berharap mendapatkan itu dari Garda, namun ia juga ingin mendengarkan hati nurani dan berjuang menata kariernya.

Dari situ, kita bisa menyusun kerangka cerita melalui plot “Awal, Tengah, Akhir” dan akhirnya mulai bercerita.

Sederhana ‘kan?

Jadi, sekarang sudah nggak mandek lagi ya saat mengubah ide menjadi cerita 😄 Pas bingung, ingat-ingat aja untuk lebih dulu merenungkan: masalah apa sih yang akan dihadapi si tokoh utama?

Happy writing!

*) Feature image via @bossladiesmag

 


Tags:


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>