Menentukan Ending Terbaik untuk Cerita


blog sittakarina menentukan ending ceritaHappy ending atau sad ending?

Ending cerita memiliki peran penting untuk menjadikan cerita kita bagus, atau malah mengecewakan.

Namun, untuk membuat ending yang mampu menutup cerita dengan baik sekaligus memuaskan hati pembaca ternyata cukup bikin keriting otak si penulis!

Bagi yang menyukai kisah romance seperti saya, hampir bisa dipastikan bahwa ending cerita dari genre ini ditandai dengan akhir manis—atau happy ending—perjalanan si tokoh utama dengan pujaan hatinya.

Pada beberapa kisah romansa untuk pembaca yang lebih muda (teenlit atau young adult) biasanya perkembangan karakter tokoh terlihat lebih jelas; dari yang tadinya egois jadi memperhatikan sekitarnya, atau dari yang naif menjadi lebih dewasa. Ini termasuk hal yang lumrah mengingat buku teenlit sarat dengan proses pencarian jati diri si tokoh.

Apa pun genre fiksimu, sefantastis apa pun kisah yang kamu tulis, pada akhirnya semua cerita akan berakhir.

Dan sesuai harapan semua penulis—juga para pembacanya—ending cerita tersebut menjadi sesuatu yang tak terlupakan.

Ending cerita yang tepat tak hanya bikin pembaca puas, namun juga terkesima.

Errr, but this is THE problem.

Saat kita mampu menulis bagian awal dan tengah cerita dengan superlancar, sering kali tidak begitu dengan bagian ending cerita.

Di bagian ini, kita malah stuck: gimana ya cara merumuskan ending yang OK.

Nah, sebelum kita menutup cerita, coba cermati ini dulu:

  • Apakah tujuan protagonis pada akhirnya tercapai, atau malah tidak?
  • Apakah protagonis berhadapan dengan antagonis yang sepadan?
  • Apakah protagonis berhasil menyelesaikan konflik?
  • Apakah protagonis memetik hikmah dari masalah yang ia hadapi?

Jika mayoritas jawabannya ya, berarti cerita memang sudah sepantasnya berakhir. Yeay!

Baca juga: 8 Cara Menulis Produktif

Untuk menyudahi cerita kita once and for all, ada beberapa pendekatan yang bisa kita terapkan:

1. Segera tutup cerita setelah klimaks
Saya pernah mendengar bahwa pembaca yang masih ingin cerita terus berlanjut walau sudah tamat adalah pembaca yang puas. Can’t get enough of the story. Nah, ini bisa diupayakan dengan menyudahi cerita, langsung setelah bagian klimaks terjadi tanpa menjelaskan panjang-lebar tentang kehidupan para tokoh setelah krisis berlalu.

2. Sajikan open-ended ending
Akhiri kisah dengan adegan dan kejadian yang membuat pembaca memetik kesimpulan-kesimpulan yang mungkin dari cerita tersebut.

3. Gunakan plot twist
Plot twist yang bagus tak hanya menyuguhkan kejutan, tetapi juga tetap masuk akal dan selaras dengan jalannya cerita.

4. Munculnya inner strength tokoh utama
Setelah sekian lama berjuang dan gagal terus, ada masa si tokoh utama terpuruk. Jatuh dan hampir tidak bisa bangkit lagi. Entah terilhami cinta atau nasihat sosok yang ia kagumi, ia seakan mendapatkan kekuatan baru untuk mengatasi seluruh masalahnya.

Masih ada cara lain untuk mengakhiri cerita yang tercipta karena trial and error.

Yang harus diingat, kejadian pada akhir cerita haruslah memiliki klimaks dengan intensitas, konflik, dialog, maupun perasaan yang melebihi kejadian-kejadian sebelumnya agar ending cerita jadi berkesan.

Semoga proses menjalin ending cerita kalian menjadi sesuatu yang seru, bukannya bikin frustrasi.

Dari cerita yang kalian buat maupun buku yang dibaca, jenis ending seperti apa yang jadi favorit selama ini?

 

*) Feature image via Pinterest



Leave a Comment

  • (will not be published)


One Response

  1. wahyuindah

    makasih ilmunya kak. Aku suka cerita dengan ending terbuka. Tapi kalau nerapinnya agak susah ya. kebanyakan cerita yang saya bikin malah the end. hehe…. tapi memang ending cerita menentukan cerita kita bagus atau enggak.

    Reply