Sirine, Cerpen #Hanafiah Sebelum Novelet SAND CASTLE!


image

Mengenal Chiko Hanafiah lebih dekat lagi melalui cerpen satu ini.

Ya, setelah MAGICAL SEIRA 2, akan terbit novella dari serial yang sama berjudul Sand Castle. Walau singkat, kisah ini akan memaparkan hubungan Seira dan Abel lebih detail dari biasanya… dan tentunya, interupsi dari Cokro “Chiko” Diego #Hanafiah!

Whoaaa!

Pertanyaannya: siapa sih Chiko?

Bagi kalian yang ingin mendapatkan sedikit gambaran tentang sosok Chiko Hanafiah, silakan lanjut ke bawah. Yup, ada cerpen Chiko Hanafiah yang bisa dibaca gratis di blog ini.

Enjoy 😉

—–

SIRINE
oleh Sitta Karina

Tiap kali raungan sirine ambulans terdengar, rasa perih menjalari hati Saura. Ia selalu teringat kejadian tahun lalu, selalu merasakan momen hampir kehilangan seorang teman.

Kini setelah kembali dari pertukaran pelajar di Swiss, Saura mencoba menghubungkan kembali serpihan memori yang sempat membuatnya takut berpijak di Jakarta. Demi bisa melihat ke depan.

Demi mampu melangkah lagi.

—-

Namanya Chiko. Cokro Diego. Dan dia menyebalkan setengah mati bukan karena nama belakangnya Hanafiah. Dia begitu karena dia seorang Chiko. Entah namanya atau memang orangnya yang terkutuk; Saura kerap kali bertanya walau tahu takkan mendapatkan jawabannya.

Chiko bukan sahabat Saura, apalagi pacarnya. Chiko merupakan bad boy material idaman semua perempuan: ganteng, tajir, suka adrenalin, serta tentunya playboy sejati. Dan bukan hanya Saura yang sadar akan semua kualifikasi itu; Chiko juga.

Semua orang yang Saura kenal, kenal Chiko. Mulai dari Gladi pacarnya, Amitya sahabatnya, sampai Abeng sahabatnya Gladi.

Bahkan Seira juga.

Nah, tentang Seira, ini termasuk topik sensitif baginya. Karena Chikolah, semua orang yang Saura kenal selalu membandingkannya dengan Seira.

Saura dan Seira.

Bayangkan betapa miripnya nama mereka.

Dan Chiko menaruh perhatian terhadap keduanya dengan cara berbeda; Chiko suka Seira dan Chiko suka gangguin Saura. Lebih tepat lagi, Chiko suka mengejek orang yang Saura pilih jadi pacarnya. Menurutnya, Saura melakukan itu hanya untuk status nggak single. “Emang dia bisa elo ajak debat? Bisa ngimbangin kegilaan elo?” tembak Chiko suatu waktu.

Kayak Saura se-“gila” itu saja.

Intensitas cekcoknya dengan Chiko membuat Saura yakin bahwa sebenarnya Chiko benar-benar sebal dengannya. Ini diperkuat dengan menghilangnya Chiko dari “peredaran”. Yang lebih mengejutkan lagi, ia menyaksikan sendiri bagaimana Chiko yang terbiasa dikejar wanita, kini justru agresif mengejar si pemalu Seira!

Menurut rumors yang singgah di telinga Saura, Chiko dan Seira sudah bermain bareng sejak keduanya masih memakai diaper. Setelah pertemuan di soirée seorang dubes, Chiko tiba-tiba jatuh cinta kembali kepadanya.

Hilanglah Chiko dengan segala sikap annoying-nya dari kehidupan Saura.

Hilang yang membuat Saura merasa kehilangan, juga linglung.

Agar tidak jatuh, ia pun berpegangan pada Gladi. Kembali ke pelukan Gladi walau hatinya masih bertanya-tanya, Jadi benar Chiko dengan Seira ya?

Sore jadi terasa tak bernyawa. Ngopi seru di Nell’s—kedai kopi yang pemiliknya sering memainkan lagu-lagu klasik—menjadi rutinitas yang hambar walau di situ sobat segengnya. Semua karena Chiko tidak lagi hadir di antara mereka.

“Wah… akhirnya Chiko selesai bertapa! Kok tumben tiba-tiba ke sini?”

Suara Amitya memotong riuhnya obrolan.

Jantung Saura rasanya berhenti berdetak mendengar suara derik pintu, pertanda ada orang masuk ke Nell’s.

“Hey my man!” Abeng selalu bersikap sok asyik terhadap Chiko walau tak pernah digubris. Jiwa Chiko nampak melayang, membuat Saura penasaran setengah mati apa yang tengah cowok ini pikirkan.

“Elo nggak tau kenapa, Mit?” tutur Gladi. “Untuk nonton Seira main piano, lah.”

Melihat ekspresi tersipu Chiko, mendadak Saura merasa mimpi buruknya baru saja dimulai.

—-

Saura merasa sakit walau hari ini tubuhnya segar setelah berolahraga. Chiko dan Seira. Ternyata seorang Hanafiah bisa jatuh cinta—bukan hanya pada uang dan kekuasaan. Walau sesi yoganya sudah selesai, ia tetap berusaha mengatur napas; tarik, keluarkan, tarik, keluarkan. Pelan-pelan.

Rasa sakitnya itu tak seberapa dibandingkan dengan perasaan saat mendapati tulisan di layar laptop-nya kini:

Between @GladiRock and me, you know who’s already won your heart. Your boyfriend sucks, @SauraLangit !

Yang men-tweet adalah @CDiego. Akunnya Chiko.

Dan Gladi di-mention juga?

Teganya Chiko—brengseknya Chiko!

Jemari Saura langsung bernapsu meraih mouse, membuka folder demi folder dan menemukan yang bertajuk ‘Bali Trip’.

Akhirnya Saura mengerti mengapa banyak orang berpendapat balas dendam rasanya semanis permen.

—-

“Elo emang gila, bro.”

Chiko heran; Abeng meneleponnya saat ini hanya untuk berkata begitu?

Ia berusaha memusatkan perhatiannya kembali ke jalan raya.

“Pertama, nyolot sama Gladi. Kedua, foto elo di Bali sekarang ada di Twitter. Pake celana dalam Superman dan lari bawa obor—hahaha, mabok kelas berat!”

Celana dalam Superman? Bawa obor? Mata Chiko langsung membelalak horor. Pikirannya sontak bercabang; foto memalukan dirinya tersebar di internet… ponsel di telinganya melorot melulu lantaran telapak tangannya berkeringat… ada motor nyelak dari sebelah kiri dan hampir menyenggol bagian depan Aston Martin DBS yang dikendarainya… dan…

“Saura yang upload. Elo sih cari masalah sama dia—“

Sau… ra?

Chiko tersentak. Mobilnya tanpa disadari keluar jalur dan dari arah berlawanan ada bus kota yang melaju kencang. Banting setir adalah hal tercepat yang dapat dilakukannya kini.

Chiko mengumpat halus akan kecerobohannya yang tidak mengenakan sabuk pengaman. Rasa kantuk kontan menyergapnya dan yang dilihat berikutnya hanya kegelapan.

—-

blog.sittakarina.com_sirine_2Foto via live4m0ments

Saat itu Saura berpapasan dengan ambulans bersirine terheboh, terbising yang pernah ia dengar. Ia baru tahu ambulans itu membawa Chiko setelah mendapat kabar dari Amitya yang mobilnya mengikuti di belakang, sama kencangnya.

Akibat kecelakaan itu tulang bahu Chiko retak walau selebihnya tidak serius. Awalnya hati Saura tidak langsung luluh. Sebagian kecil dirinya merasa Chiko pantas mendapatkan itu karena sudah seenaknya merusak hubungannya dengan Gladi. Selalu seenaknya.

Tapi, siapa sangka ternyata akun Twitter Chiko dibajak? Jadi bukan Chiko yang menulis tweet tidak bertanggung jawab itu. Dan ternyata Saura bukan satu-satunya korban keisengan si hacker.

Setahun berlalu dan bahu Chiko sudah kembali berfungsi normal. Beberapa hal tetap sama namun ada juga yang berubah; misalnya Gladi kini sudah bukan pacar Saura melainkan jadi miliknya Amitya. Lucunya ia dan Amitya tetap bisa berteman baik. Bisa jadi rasa toleransi mereka cukup tinggi, atau mereka kini tumbuh jadi lebih dewasa.

Untung dulu Chiko tidak apa-apa, Saura membatin, lebih untuk menenangkan dirinya. Tiap malam ia datang ke rumah sakit, sempat menginap di ruang tunggu walau kakak Chiko, Marina dan Sigra Hanafiah, memintanya agar menunggu di kamar tempat Chiko dirawat. Kedua orang itu sama sekali tidak menaruh dendam kepadanya, tetap memperlakukannya dengan sopan. Saura benar-benar berada pada titik terendah dalam hidupnya.

“Yang upload nggak adil tuh. Kalau fotonya nggak di-crop; bukan cuma gue di situ, ada Abeng dan Amitya jadi patung Liberty, dan elo, Saura, nari pake hula hop. Cih.”

Saura terkejut dan berbalik badan mendengar suara familier di pantry rumahnya. Rasanya ia hanya mengabari Amitya kalau dirinya tiba di Jakarta hari ini.

“Chiko? Elo… masih mau ketemu gue?”

Chiko merangkulnya hangat. “Friends fight, but best friends will always stick together again.” *****

*) Feature image via yuma1983


Tags: , , , ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


16 Responses

  1. melati

    Yampun, Chiko~~ aku suka kalimat terakhir “Friends fight, but best friends will always stick together again.”. Itu bener banget. Makasih, ya, Kak, udah upload cerpen ini. Suka<3

  2. Wah mbak SItta, lumayan loh kalo dijadiin novel seri Hanafiah. Jadiin yah? :p

  3. Risti

    Gimana sie cara order novel2nya? Soalnya suka banget dan kadang nyari di toko buku keabisan

  4. Joan clarina

    Kakkkkk !! Super suka banget sama diaz sama chris hanafiah. Ditunggu loh novel hanafiah selanjutnyaaaaa !! Lanjutannya putri hujan & ksatria malam mungkin ??? ;;)

  5. inka sarina melayu

    kak sittaa, di tunggu ya cerita ttg reno, dio dan nara hanafiah… hehehe 😀

  6. nadia

    OMG CHIKOOOOOOOO teganya teganya teganya kenapa lo hrs sekeren itu?? Kak sitta please, whatever you wrote about him, don’t forget to make him look awesome okay ;)) love your works, kak!

  7. Chix

    Please release another novel but with someone from hanafiah as the male lead 🙁 nara/reno/chiko i dont mind whoever he is as long as it’s hanafiah 🙂 keep up your good work mbak sitta looking forward for your next amazeballs! <3

  8. Daffodil

    hiks, jadi penasaran pingin baca Magical Seira, as soon as possible!
    keren banget, terutama penggambaran tentang Chiko yang womanizer tapi setia kawan 🙂

  9. ratnaboo

    mbak sittaaa, bagus deh cerpennya. ada rencana bikin novelnya Chiko gak nih? hehehee

  10. Aniss

    Keren banget!!! Bisa tambah keren kalo Nara atau Reno yg jadi Chiko. Pasti lebih keren. Fighting mba bikin novel Sand Castle-nya 😀

  11. Wow! Emang selalu bisa deh bikin kita ‘berimajinasi kepanjangan’. Cinta banget sama #Hanafiah! Nggak sabar nunggu Magical Seira 2 mbaaam ;))

  12. Larasaty

    oh my GOD, mbak!!! sumpah nggak sabaran nunggu cerita ini! Chiko salah satu faforit saya juga. si kece hanafiah. hihihihi