4 Tips Penting Mengatasi Harga Diri Rendah


Blog Sittakarina - 4 Tips Penting Mengatasi Harga Diri RendahKita semua pernah merasakan ini.

Rasa minder atau harga diri rendah kerap muncul tanpa disadari. Bahkan, ini bisa saja terjadi walau tak ada yang mengejek maupun menyudutkan kita.

Perasaan tersebut muncul saat kita melihat sesuatu yang hebat dari orang lain, lalu membandingkannya dengan diri dan mengakibatkan hilangnya rasa yakin akan kemampuan diri selama ini.

Apa sih sebenarnya harga diri itu?

Jadi, harga diri sendiri merupakan pandangan seseorang terhadap dirinya. Pandangan tersebut bisa positif, netral, atau negatif.

Apalagi seorang penari menghargai dirinya dengan tinggi, bisa saja ia tidak menilai dirinya sekadar bisa menari, melainkan jago!

Begitu juga dengan seseorang yang memiliki harga diri rendah; ia merasa dirinya selalu kurang dan tak mampu.

Karena pada dasarnya manusia tidak hidup sendirian, bisa dikatakan bahwa perasaan harga diri rendah bisa lebih sering muncul seiring dengan interaksi kita terhadap orang sekitar.

Misalnya, Rima dan adiknya, Andien, sama-sama suka mendesain. Rima yang berusia tiga tahun lebih tua tentunya lebih dulu memulai karier sebagai desainer grafis daripada Andien. Namun tak disangka-sangka, karier Andien malah lebih cemerlang darinya.

Harus Rima akui, karya-karya Andien yang identik dengan kaligrafi modern lebih berkarakter darinya. Ia mendesain untuk sekadar kerja, sedangkan Andien menjadikan melukis sama pentingnya dengan bernapas!

Beda lagi dengan Dharma. Walau di luar tampak baik-baik saja, harga diri dia drop memiliki sahabat sesempurna Mikael. Dharma yang punya hobi wisata kuliner bagaikan truk jika berdiri di samping Mikael yang badannya “kering” karena hobi pull up sebelum beraktivitas pagi.

Baca juga: Anxiety No More, Ini Cara Mengatasinya

Penyebab seseorang memiliki harga diri rendah beragam. Bisa akibat dari bad parenting di masa kecilnya, kondisi fisik yang tidak sesuai standar tertentu, maupun luka di masa lalu.

Gangguan rasa minder bukanlah hal sepele. Jika ini dibiarkan, seseorang menjadi cenderung tidak aktif dan menarik diri dari pergaulan.

Tak hanya itu, lama-kelamaan ia pun akan merasa dirinya tidak berharga sama sekali dan akhirnya abai terhadap sesuatu yang seharusnya jadi hak serta kewajibannya.

Jika kita merasa mengalami ini, jangan tunggu sampai kondisinya parah. Pelajari tanda dan gejala harga diri rendah yang paling mudah dideteksi, yakni sikap gemar mengkritik diri.

Pada kasus yang lebih ekstrem, tak hanya suka menyalahkan diri, orang yang kerap minder bahkan bisa merusak diri dan seolah-olah tak peduli atas konsekuensinya!

Lantas, bisa nggak ya rasa minder yang kerap hadir ini diatasi?

Bisa, dan tentunya bertahap.

Yuk, mulai dengan membiasakan keempat hal berikut:

1. Terima dan sayangi diri
Walau orang di sekitar kita, termasuk keluarga, melakukan hal-hal yang dimaksud baik dengan cara yang salah hingga kita terluka. Jika tak ada orang yang peduli kepada diri, maka kitalah yang menjadi pertahanan terakhir untuk menjaga diri—jiwa dan fisik—tetap utuh. Selain itu, stop membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Tiap orang memiliki sifat dan latar belakang kehidupan masing-masing yang membuatnya menjadi seperti sekarang.

2. Belajar dari kesalahan masa lalu
Jangan hukum diri atas kesalahan yang pernah terjadi. Sisakan sedikit maaf dan cinta, dan jika kita sudah tenang, coba petik hikmah dari kejadian tidak enak tersebut.

Menerima kesalahan di masa lalu sama dengan menerima kondisi terburuk dari diri kita.

Sisi baik lainnya adalah kita jadi belajar demi memperbaiki diri!

3. Rayakan keberhasilan sekecil apa pun
Merayakan kemenangan tak harus selalu dengan pesta dan sesuatu yang ramai. Ini bahkan bisa dilakukan sesimpel mengatakan ke diri dengan penuh keyakinan:“You’re enough”.

4. Kelilingi diri dengan orang-orang yang memang menghargai kita
Ketiga langkah di atas akan sia-sia jika hidup kita selalu dikelilingi orang yang selalu merendahkan kita. Jangan sungkan untuk membuat batasan (boundaries) jelas antara diri kita dengan orang lain, termasuk keluarga. Boundaries nggak harus berupa bahasa maupun gestur galak, melainkan dengan berinteraksi secukupnya saja. Kita tidak perlu berlama-lama mengobrol dengan orang yang membuat kita tidak nyaman. Just excuse yourself politely 😉

 

*) Feature image: Jeff Mindell via Studio DIY



Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


2 Responses