Serba-Serbi Mencari Pekerjaan untuk Hidup Mapan


blog sittakarina - cara mencari pekerjaanTujuannya: agar hidup lebih sejahtera!

Oke. Tapi, sebelumnya coba deh definisikan dulu hidup sejahtera versimu itu kayak apa.

Bisa sering traveling?

Punya rumah sendiri?

Beli mobil tanpa nyicil?

Atau, punya tas branded selemari?

Tahu ‘kan, untuk mencapainya tentu tidak ada proses instan, apa pun goal hidup sejahtera idamanmu itu.

Belajar dari pengalaman di keluarga besar saya selama ini (some lessons are quite bitter!), saya menarik kesimpulan bahwa untuk bisa hidup, kita perlu mencari nafkah.

Dan cara mencari nafkah adalah dengan bekerja sungguh-sungguh.

Nah, bicara soal mencari pekerjaan yang memiliki jenjang karier jelas dan, tentunya, salary package oke bikin saya mengingat kembali sepak-terjang masa remaja dulu. Saat memasuki bangku kuliah, ada beberapa hal yang saya syukuri (karena saya memiliki kelebihan dalam faktor tersebut), serta saya sesali (karena saya merasa kurang dalam hal tersebut, dan semestinya dulu bisa lebih serius lagi menekuninya).

Kini, walau sudah tidak bekerja di kantor lagi, saya tetap suka ngobrol dengan suami soal dunia kerja dan perkembangan tech di luar. Apalagi global firm tempat suami kerja sekarang pernah menjadi perusahaan di mana saya bergabung beberapa tahun yang lalu.

Dari hasil diskusi saya dan suami tentang bagaimana semestinya kita mempersiapkan anak-anak untuk masa depan mereka, kita sepakat bahwa ada hal-hal yang harus digarisbawahi demi mendapatkan pekerjaan di perusahaan bonafide. Tentunya computer skills seperti Microsoft Office, Excel, dan PowerPoint secara umum wajib dipahami.

Baca juga: Berapa Banyak yang Bisa Kamu Sisihkan Saat Kerja?

Apa saja poin-poin penting lainnya? Ini yang berhasil saya rangkum dari sekian banyak catatan (dan argumen 😆) kita berdua:

1. Asah kemampuan berkomunikasi. Komunikasi, termasuk apa, kapan, dan bagaimana cara kita menyampaikannya, merupakan kunci lancar-tidaknya hubungan kita dengan orang sekitar. Banyak yang mengatakan bahwa soft skill ini seperti ini tidak dilatih di sekolah. Namun, saya tidak sependapat. Komunikasi, sadar-tidak sadar, dilatih sejak di dalam keluarga, dari bagaimana selama ini kita berinteraksi dengan ayah, ibu, dan saudara kandung. Jadi, sudah pasti komunikasi juga berlangsung dan dapat kita “latih” di lingkungan sekolah, sekitar rumah, maupun dunia kerja. Just keep improving yourself!

2. Lancar berbahasa Inggris. Kuasai dulu bahasa ibu dengan baik. Biasakan berbahasa Indonesia secara efektif dan tidak belepotan. Setelah itu, kuasai bahasa asing yang paling umum digunakan di dunia, yakni Bahasa Inggris. Tidak bersekolah di luar negeri bukanlah alasan untuk tidak cakap berbahasa Inggris. Banyak cara kok mempelajarinya, mulai dari ikut pelatihan sampai membiasakan diri membaca tulisan-tulisan dalam Bahasa Inggris.

3. Bergabung dengan komunitas. Sibukkan diri dengan terjun ke dalam komunitas-komunitas positif yang memperkaya pengalaman sekaligus jejaring kita. Bisa komunitas asisten dosen mata kuliah tertentu sampai relawan  perpustakaan keliling. Dari situ, tawaran pekerjaan bisa datang. Apalagi jika kita dikenal memiliki reputasi baik.

4. Aktif berorganisasi. Banyak orang enggan untuk terlibat dalam kegiatan organisasi mahasiswa karena takut terseret ke jalur politik. Padahal, kegiatan ini kaya manfaat dan merupakan bekal untuk mampu mencari pekerjaan dan bertahan di lingkungannya. Dengan aktif berorganisasi, kita jadi lebih terlatih dalam bersosialisasi, berdiplomasi, termasuk bekerja sama dalam tim.

5. Ikuti program kepemimpinan. Leadership programme kerap digelar perusahaan-perusahaan besar untuk mengorbitkan anak muda – anak muda kompeten dalam bidangnya. Dengan mengikuti ini, sangat mungkin kita bisa berkiprah di perusahaan idaman tersebut. Beberapa ajang yang bisa kamu coba adalah McKinsey Young Leaders for Indonesia dan Accenture Day.

6. Magang di perusahaan kredibel. Banyak sekali pelajaran berharga yang bisa kamu petik dengan jadi intern, apalagi jika perusahaan tersebut memiliki kredibilitas oke. Unilever Internship Programme merupakan program magang yang selalu jadi incaran para mahasiswa di semester akhir mereka. Tentu program Unilever ini bukan satu-satunya. Kita bisa mencari informasi program serupa di internet maupun menanyakan langsung ke perusahaan yang dituju.

7. Baca tren, petakan kompetensi diri. Fintech? Pendidikan? Jurnalisme? IT services? Semua jenis pekerjaan yang tengah hip saat ini maupun di masa mendatang penting untuk kita ketahui. Tetapi, yang lebih penting lagi adalah kita paham benar apa talenta dan kebisaan kita, termasuk kelemahan-kelemahan yang perlu ditingkatkan. Dari semua itu: di manakah tempat yang cocok buat kita? Dan jika tidak bisa cocok 100%, bidang apa yang masih bisa kita tolerir demi mencari nafkah yang lebih baik? Satu hal yang mesti diingat baik-baik adalah “your passion doesn’t always pay your bills”. Jadi, coba lebih fleksibel untuk tidak selalu mencari pekerjaan sesuai passion saja.

8. Eksis secara online. Tinggalkan jejak yang baik, kemukakan gagasan, dan pajang karyamu di internet. Bisa di media sosial, blog, maupun Youtube. Dengan begini, saat perusahaan mencari tahu tentang si calon pegawai (baca: googling), dengan sendirinya internet menyediakan jawaban yang diminta.

9. Buat resume (dan surat lamaran kerja!) yang OK. Prinsip saya satu: keep it simple, but significant. Sajikan data dan pengalaman secara jujur, ringkas, dan tidak berlebihan. Gunakan kaidah berbahasa yang baik dan benar. Dan tentu saja, manners matter. Sebagus-bagusnya resume namun tidak ada sopan-santun tercermin dalam surat lamaran kerjanya, maka akan jadi sia-sia.

10. Incar perusahaan papan atas. Melihat benefit yang didapat Ibu saat beliau belum pensiun dan masih bekerja di IBM, saya pun tertarik untuk melamar kerja di perusahaan berskala internasional juga. Lantas, apa saja yang mesti disiapkan? Selain resume dan hasil akademik mengkilap, pastikan kita sudah siap tempur berargumen dalam sesi focus group discussion.

Mencari pekerjaan layak demi kehidupan yang lebih baik merupakan perjalanan berkesinambungan dalam hidup.

Selain hal-hal yang disebutkan di atas, tentu kita sebagai pencari kerja mesti lebih dulu paham dan mengamalkan etika bekerja yang baik, serta konsisten menjalankannya.

Kesuksesan hakiki bukan semata milik mereka yang pintar, tetapi juga sosok-sosok yang berintegritas.

Let’s fight a good fight, shall we? 💪

 

*) Feature image: Kuba Dabrowski via WWD


Tags:


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


8 Responses

  1. Whaaa keliatannya pengalaman kamu udah seabrek yah mba. Poin-poinnya ngena, dan tulisannya well structured. Loved it!

  2. Wiya Anandari

    Sukaaaa deh tulisan kak sitta. Bikin kepikiran hal hal yg tadinya nggak kepikiran sm sekali 😍